https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/issue/feedProsiding Seminar Nasional Biologi2025-12-29T07:21:21+00:00Open Journal Systems<p>Prosiding Seminar Nasional Biologi ini adalah kumpulan hasil riset dan review artikel dalam bidang Pendidikan Biologi dan Biologi serta topik lainnya yang relevan. Prosiding merupakan kegiatan tahunan dari Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Padang.</p>https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1206Studi in Silico Amorphophallus sp. Berdasarkan DNA Barcode rbcL2025-12-20T12:26:50+00:00Titin Ayuk Nofitasarititinayuknofitasari12@gmail.comSyifara Chikatitinayuknofitasari12@gmail.comHilda Putri Ningrumtitinayuknofitasari12@gmail.com<p>Amorphophallus sp. merupakan genus tumbuhan dari famili Araceae dapat ditemukan tumbuh secara liar di alam yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi signifikan. Spesies-spesies Amorphophallus menunjukkan variasi morfologi yang cukup tinggi. Tingginya variasi ini menunjukkan adanya keragaman genetik yang perlu untuk dikaji sebagai upaya konservasi genetik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kekerabatan, jarak, dan variasi genetik pada 18 spesies Amorphophallus berdasarkan gen rbcL. Metode yang digunakan yaitu mengoleksi data sekuens DNA, mengurutkan sekuens DNA, serta sekuen yang telah disejajarkan dilanjut untuk dianalisis jarak genetik dan variasi genetiknya. Hasil rekonstruksi pohon filogenetik Amorphophallus sp. menunjukkan bahwa pada region rbcL terbagi menjadi 3 (tiga) clade ingroup dan satu outgrup. Clade 1 terdiri dari A. variabilis, A. tinekeae, A. lambii, A. beccarii, A. discophorus, A. decus-silvae, A. titanum, A. borneensis, A. gigas, dan A. hewitii. Clade 2 terdiri dari A. paeoniifolius, A. koratensis, dan A. prainii. Clade 3 terdiri dari A. haematospadix, A. manta, A. pendulus, A. hirsutus, dan A. muelleri. Outgrup yang digunakan yaitu Alocasia macrorrhizos Jarak genetik antar spesies Amorpophallus sp. relatif sempit yaitu antara 0,00-0,02. Pada wilayah DNA barcode rbcL memiliki 17 variasi pada nukleotida Amorphophallus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Titin Ayuk Nofitasari, Syifara Chika, Hilda Putri Ningrumhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1222Inventarisasi Jenis Kupu-Kupu (Rhopalocera) di Kawasan Air Panas Cagar Alam Rimbo Panti Kabupaten Pasaman2025-12-22T04:33:55+00:00Anisah Aulinaanisahaulina75@gmail.com<p>Kupu-kupu (ordo Rhopalocera) merupakan indikator penting dalam menilai kesehatan ekosistem karena sensitivitasnya terhadap perubahan lingkungan. Kawasan Air Panas di Cagar Alam Rimbo Panti, Kabupaten Pasaman, merupakan salah satu wilayah konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, namun data mengenai jenis-jenis kupu-kupu di kawasan ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis kupu-kupu yang terdapat di kawasan ini. Metode yang digunakan adalah survei jelajah dan fotografi di sekitar kawasan air panas. Pengamatan dilakukan pada pagi menjelang siang hari, waktu ketika aktivitas kupu-kupu paling tinggi. Total 3 spesies, 3 genera, 2 Famili kupu-kupu yang ditemukan pada kawasan ini. Keberadaan jenis kupu-kupu lebih sedikit dibandingkan dengan lokasi lain, sehingga upaya konservasi habitat alami di kawasan ini perlu ditingkatkan. Inventarisasi ini diharapkan menjadi data awal untuk studi lanjutan serta mendukung strategi konservasi dan pengelolaan kawasan secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anisah Aulinahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1239Makna Bengkuang dalam Komponen Rujak Tradisi Tujuh Bulanan di Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan2025-12-22T07:30:39+00:00Nurmaliha Khayranikhayraninurmaliha@gmail.com Raden Ayu Nadira Cinta Ramadhytiakhayraninurmaliha@gmail.comPriyanti Priyantikhayraninurmaliha@gmail.comArdian Khairiahkhayraninurmaliha@gmail.com<p>Tradisi tujuh bulanan merupakan tradisi masyarakat untuk memperingati usia kehamilan tujuh bulan. Dalam tradisi ini, terdapat sajian rujak yang disebut rujak gobet. Rujak dalam konteks ini memiliki makna simbolik dan spiritual, yang berkaitan erat dengan doa dan harapan untuk keselamatan ibu serta janin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan memahami makna simbolik, serta alasan kultural dan kesehatan dalam penggunaan bengkuang sebagai salah satu bahan utama sajian rujak di masyarakat Kelurahan Ciganjur, Jakarta Selatan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bengkuang memiliki makna simbolik yang mendalam pada budaya tradisi tujuh bulanan, dan keberadaannya dalam rujak mencerminkan perpaduan antara kepercayaan tradisional, aspek kesehatan, serta wujud rasa syukur dalam praktik budaya tersebut. Masyarakat perlu selalu melestarikan makna bengkuang dalam rujak tujuh bulanan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal yang bernilai.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nurmaliha Khayrani, Raden Ayu Nadira Cinta Ramadhytia, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1256Literatur Review : Potensi Jamur Trichoderma sp. sebagai Agen Hayati dalam Meningkatkan Ketahanan Tanaman Jagung terhadap Cekaman Lingkungan2025-12-22T09:08:41+00:00Intan Putri WinandaIntanwinanda@gmail.comYuni AhdaIntanwinanda@gmail.com<p>Tanaman jagung (Zea mays) merupakan salah satu komoditas pangan penting yang sangat sensitif terhadap berbagai jenis stres lingkungan. Cekaman tersebut dapat bersifat abiotik, seperti kekeringan, salinitas, dan suhu ekstrem, maupun biotik, seperti serangan patogen tanah. Untuk mengurangi dampak negatif dari cekaman ini secara berkelanjutan, pemanfaatan agen hayati seperti jamur Trichoderma sp. menjadi salah satu solusi yang menjanjikan. Jamur ini dikenal memiliki kemampuan sebagai agen pengendali hayati yang efektif, stimulan pertumbuhan tanaman, serta mampu mengaktivasi sistem ketahanan tanaman secara sistemik. Metode ini bertujuan untuk meninjau berbagai hasil penelitian mengenai peran Trichoderma sp. dalam meningkatkan ketahanan tanaman jagung terhadap cekaman lingkungan. Penelitian ini merupakan Studi Literatur menggunakan sumber dari Google Scholar dan ScienceDirect dalam kurun waktu 2015 hingga 2025. Dari Hasil penelitian, diperoleh bahwa aplikasi Trichoderma dapat meningkatkan berbagai parameter fisiologis dan pertumbuhan jagung di bawah tekanan lingkungan. Hal ini dimungkinkan melalui mekanisme seperti produksi enzim antijamur, sintesis hormon tumbuh, serta aktivasi jalur ketahanan tanaman. Oleh karena itu, Trichoderma sp. memiliki potensi besar sebagai agen hayati untuk mendukung sistem pertanian yang berkelanjutan, khususnya dalam meningkatkan produktivitas jagung.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Intan Putri Winanda, Yuni Ahdahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1273Valuasi Tumbuhan Bahan Bangunan di Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi 2025-12-23T13:55:00+00:00Nanda Nur Qodrianiqodrianinournanda@gmail.comNurul Fadilahqodrianinournanda@gmail.comPriyanti Priyantiqodrianinournanda@gmail.comArdian Khairiahqodrianinournanda@gmail.com<p>Pemanfaatan tumbuhan sebagai bahan bangunan merupakan bagian dari praktik etnobotani yang masih lestari di masyarakat urban. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi jenis-jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, serta nilai kontribusinya sebagai bahan bangunan. Data dikumpulkan pada April 2025 melalui survei dan wawancara semi-terstruktur terhadap delapan pelaku usaha toko dan perusahaan bahan bangunan. Pada penelitian ini ditemukan 13 jenis tumbuhan yang umum digunakan, diantaranya jati (Tectona grandis), ulin (Eusideroxylon zwageri), merbau (Instia sp), bengkirai (Shorea laevifolia), sungkai (Peronema canescens), meranti (Shorea sp.), alba/sengon (Paraserianthes falcataria), nyatoh (Palaquium obtusifolium), kamper (Cinnamomum camphora), pinus (Pinus merkusii), kayu kampung, racuk (Eusideroxylon zwageri), dan damar laut (Agathis dammara). Meranti memiliki permintaan yang tinggi dan nilai use value tertinggi (0,625) karena harga yang relatif terjangkau, kualitas yang baik, serta ragam pemanfaatannya sebagai bahan bangunan. Hasil ini mencerminkan masih kuatnya ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam hayati untuk kebutuhan bahan bangunan. Selain itu penemuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan dan konservasi jenis-jenis tumbuhan yang memiliki nilai ekonomi tinggi di sektor konstruksi. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nanda Nur Qodriani, Nurul Fadilah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1136Identifikasi Escherichia coli dan Salmnonella sp. pada Otak-otak di Pasar 16 Ilir Kota Palembang2025-12-15T08:29:31+00:00Rahma Annisaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idGusti Aryantiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Otak-otak merupakan produk olahan ikan yang populer, namun penjualannya di pasar tradisional tanpa jaminan sanitasi memadai meningkatkan risiko cemaran mikroba berbahaya. Escherichia coli dan Salmonella sp. adalah indikator penting sanitasi dan kualitas pangan, dengan prevalensi kontaminasi pada makanan siap saji masing-masing mencapai 29,5% dan 19,1% di negara berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan Escherichia coli dan Salmonella sp. pada otak-otak yang dijual di Pasar 16 Ilir Palembang. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan meliputi pengayaan sampel pada media LB, diikuti isolasi pada media EMBA untuk E. coli dan media SSA untuk Salmonella sp Penelitian dilaksanakan pada April 2025 di Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Hasil menunjukkan bahwa dari 11 sampel otakotak, 6 sampel (54,5%) teridentifikasi positif mengandung Escherichia coli, mengindikasikan adanya kontaminasi fekal akibat kurangnya higienitas dan sanitasi dalam proses produksi. Sementara itu, semua sampel menunjukkan hasil negatif terhadap Salmonella sp., yang kemungkinan disebabkan oleh proses pemanasan selama pengolahan dan penerapan sanitasi yang baik. Meskipun demikian, pengawasan mutu dan uji mikrobiologis secara rutin tetap diperlukan untuk menjamin keamanan pangan secara menyeluruh. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada pemahaman sanitasi pangan dan perlindungan konsumen dari risiko penyakit bawaan makanan, serta menjadi data pendukung dalam penyusunan rekomendasi kebijakan keamanan pangan di pasar tradisional</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Rahma Annisa, Gusti Aryanti, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1155Kajian Etnozologi Hewan yang Dimanfaatkan sebagai Obat Tradisional pada Masyarakat Nagari Halaban, Kec. Lareh Sago Halaban, Kab. Limapuluh Kota2025-12-17T05:37:59+00:00Nadihra Zahara Sebrinanadirazahara95@gmail.comRijal Satrianadirazahara95@gmail.comRyan Thanoesyanadirazahara95@gmail.com<p>Etnozoologi merupakan kajian mengenai hubungan antara manusia dengan hewan. Kajian etnozoologi sangat erat kaitannya dengan pengetahuan lokal serta interaksinya dengan lingkungan sekitar. Di Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota Sumatera Barat, dimana masyarakat telah lama hidup berdampingan dengan alam, memahami betul setiap elemennya, termasuk potensi pemanfaatan hewan sebagai obat, mereka tahu persis jenis hewan apa yang digunakan, bagian tubuh mana yang berkhasiat, dan cara pengolahannya. Pemahaman ini membuka peluang studi etnozoologi dalam pemanfaatan hewan sebagai obat tradisional pada masyarakat di Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota. Studi ini, fokus pada beberapa aspek yakni mendata secara komprehensif jenis-jenis hewan yang digunakan sebagai obat, bagian tubuh yang dimanfaatkan, cara penggunaan dan pengolahan serta penyakit atau kondisi medis yang dipercaya mampu diobati. Untuk mendapatkan data awal mengenai pemanfaatan hewan sebagai obat tradisional pada masyarakat di Nagari Halaban, pendekatan dilakukan dengan observasi langsung melalui wawancara kepada masyarakat dengan teknik snowball sampling. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan 16 jenis hewan yang dipercaya dimanfaatkan oleh masyarakat Nagari Halaban untuk pengobatan dengan cara penggunaan yang cukup bervariasi, yaitu dimakan, dioles, diseduh ke dalam minuman dan air rebusannya diminum.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nadihra Zahara Sebrinahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1173Uji Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Rimpang Temulawak 2025-12-18T08:29:17+00:00Delfina Hotmanauli Sinagadelfinasinaga22@gmail.comAnisa Hasanahdelfinasinaga22@gmail.comSonia Wiji Febriantidelfinasinaga22@gmail.comDelia Yusfaranidelfinasinaga22@gmail.com<p>Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan tanaman obat yang dikenal luas memiliki banyak manfaat kesehatan. Tanaman ini mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai agen farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak metanol rimpang temulawak melalui uji fitokimia. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan tahapan pembuatan simplisia, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut metanol, dan pengujian fitokimia dengan pereaksi spesifik untuk setiap jenis senyawa. Hasil pengujian menunjukkan reaksi positif terhadap lima golongan senyawa metabolit sekunder, yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan fenol. Reaksi positif ditunjukkan melalui perubahan warna dan pembentukan busa yang khas. Temuan ini menunjukkan bahwa rimpang temulawak memiliki potensi besar sebagai sumber bahan aktif alami yang dapat dikembangkan dalam bidang farmasi dan pengobatan tradisional.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Delfina Hotmanauli Sinaga, Anisa Hasanah, Sonia Wiji Febrianti, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1189Skrining Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder Terhadap Ekstrak Tanaman Talas (Colocasia esculenta) 2025-12-18T15:42:53+00:00M. Deni Irawanmdeni0852@gmail.com Evans Aditya Pratamamdeni0852@gmail.comMuhammad Haidilmdeni0852@gmail.comDelia Yusfaranimdeni0852@gmail.com<p>Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk tumbuhan berkhasiat obat seperti Colocasia esculenta (keladi). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun keladi melalui uji fitokimia. Penelitian dilakukan di Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang pada Mei 2025. Sampel berupa daun keladi dikeringkan, dihaluskan menjadi simplisia, lalu diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut metanol. Skrining fitokimia dilakukan terhadap senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan triterpenoid menggunakan pereaksi spesifik. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun keladi mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Namun, senyawa triterpenoid tidak terdeteksi pada ekstrak. Keberadaan senyawa-senyawa ini mendukung potensi farmakologis daun keladi sebagai antimikroba, antioksidan, maupun agen terapeutik lain. Dengan demikian, hasil penelitian ini memberikan informasi ilmiah awal mengenai potensi pemanfaatan Colocasia esculenta sebagai sumber bahan alam yang berkhasiat obat, serta dasar untuk penelitian lanjutan dalam pengembangan obat herbal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 M. Deni Irawan, Evans Aditya Pratama, Muhammad Haidil, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1213Aktivitas Konservasi di Resort Konservasi Wilayah Marapi Singgalang Tandikat BKSDA Sumatera Barat 2025-12-22T03:18:51+00:00Raihan Marfaraihanmarfa@gmail.comRijal Satriaraihanmarfa@gmail.com<p>Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan salah satu tantangan utama dalam konservasi keanekaragaman hayati, khususnya di Sumatera Barat yang menjadi habitat berbagai spesies dilindungi seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Kukang (Nycticebus coucang), dan Beruang Madu (Helarctos malayanus). RKW Marapi Singgalang Tandikat memiliki peran penting dalam upaya mitigasi konflik tersebut melalui berbagai kegiatankonservasi berbasis lapangan. Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti program magang lapangan di RKW Marapi Singgalang Tandikat, yang mencakup keterlibatan dalam evakuasi kukang liar yang terluka, pelestarian tumbuhan langka Rafflesia arnoldii, serta patroli kawasan hutan dan jalur pendakian. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa konflik manusia dan satwa umumnya dipicu oleh degradasi habitat dan minimnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan satwa liar. Upaya mitigasi yang dilakukan BKSDA meliputi tindakan langsung di lapangan, edukasi masyarakat, serta kolaborasi dengan berbagai pihak. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa konservasi yang efektif memerlukan sinergi antara pendekatan ekologis, sosial, dan kelembagaan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Raihan Marfa, Rijal Satriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1229Literatur Review: Fisiologis Sambung Pucuk pada Tanaman Durian (Durio zibethinus): Tinjauan Hormon, Kompatibilitas Vaskular, dan Praktik Sambung Pucuk2025-12-22T05:27:57+00:00Annisa Mardhatillahannisamardhatillah766@gmail.com<p>Sambung pucuk merupakan metode perbanyakan vegetatif yang efektif dalam mempercepat produksi tanaman durian unggul. Teknik ini menggabungkan batang bawah dan batang atas melalui penyatuan jaringan kambium untuk menghasilkan tanaman baru yang lebih cepat berbuah dan mempertahankan sifat unggul induknya. Artikel ini merupakan kajian literatur yang meninjau aspek fisiologis seperti peran hormon (auksin dan sitokinin), kompatibilitas jaringan, serta praktik teknik sambung pucuk. Hasil review menunjukkan bahwa keberhasilan sambung pucuk sangat dipengaruhi oleh defoliasi entres, umur batang bawah, sumber hormon (alami maupun sintetis), model sambung, dan faktor lingkungan mikro seperti kelembaban dan suhu. Penggunaan bahan alami seperti air kelapa terbukti efektif mempercepat pembelahan sel dan pembentukan kalus. Kajian ini menegaskan pentingnya integrasi antara teknik agronomis dan pemahaman fisiologi tanaman guna meningkatkan efektivitas sambung pucuk durian secara komersial di Indonesia.</p> <p> </p> <p><br>Keywords: , , </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisa Mardhatillahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1247Deteksi Bakteri Coliform Pada Uji Kualitas Air Limbah Inlet dan Outlet Menggunakan Metode CFU (Colony Forming Unit)2025-12-22T08:10:35+00:00Fazdkia Oktriani Putriazdkiaoktriani19@gmail.com<p>Air limbah merupakan buangan cair dari kegiatan domestik, industri, atau institusi lain yang mengandung berbagai kontaminan, termasuk mikroorganisme patogen. Salah satu indikator penting dalam menilai kualitas air limbah adalah keberadaan bakteri Coliform, yang mencerminkan tingkat pencemaran fekal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri coliform pada sampel air limbah inlet dan outlet menggunakan metode Colony Forming Unit (CFU). Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 6 Januari sampai 6 Februari 2025. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode Total Plate Count (TPC), yaitu dengan menumbuhkan mikroorganisme hidup pada media agar padat sehingga dapat berkembang biak dan membentuk koloni yang terlihat jelas. Jumlah koloni yang terbentuk kemudian dihitung secara manual menggunakan kalkulator sebagai alat bantu, dan hasilnya dipresentasikan dalam satuan CFU/100 ml. Berdasarkan hasil pengujian, diperoleh data bahwa dari 20 sampel yang diperiksa, sebanyak 4 sampel masih berada dalam batas baku mutu yang ditetapkan, yaitu maksimal 3000 CFU/100 ml, sedangkan 16 sampel lainnya menunjukkan tingkat kontaminasi mikrobiologis yang melebihi ambang batas tersebut secara signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar air limbah yang diuji belum melalui proses pengolahan yang optimal, sehingga berpotensi mencemari lingkungan jika dibuang tanpa perlakuan lanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fazdkia Oktriani Putrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1263Valuasi Tanaman Sirih pada Tradisi Pernikahan Adat Betawi di Kelurahan Krukut, Kota Depok 2025-12-23T03:48:54+00:00Maharani Safitrimaharanisofitri644@gmail.comFhadia Anditamaharanisofitri644@gmail.comPriyanti Priyantimaharanisofitri644@gmail.comArdian Khairiahmaharanisofitri644@gmail.com<p>Tradisi pernikahan adat Betawi di Kelurahan Krukut masih lestari hingga kini, salah satunya melalui pemanfaatan tanaman lokal seperti sirih. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan sirih dalam tradisi pernikahan Betawi, meliputi makna simbolik, bentuk penyajian, serta persepsi masyarakat. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan penyebaran kuesioner kepada 82 responden dan observasi terhadap satu informan kunci, yaitu seorang tetua adat setempat. Masyarakat menggunakan 3 macam tanaman sirih yaitu sirih hijau, sirih merah, dan sirih gading, dengan bagian daun sebagai komponen utama. Daun sirih disajikan dalam bentuk seserahan seperti sirih embun, sirih nanas, dan sirih dare. Tanaman ini umumnya diperoleh dari pekarangan rumah (52,43%) dan dari alam liar (34,41%). Sirih memiliki makna simbolik sebagai pelengkap, penghormatan, serta lambang doa dan harapan untuk kehidupan rumah tangga yang baik. Masyarakat meyakini bahwa sirih tidak dapat digantikan oleh tanaman lain tanpa mengubah makna tradisinya. Temuan ini menunjukkan pentingnya pelestarian tanaman lokal sebagai bagian dari identitas budaya Betawi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Maharani Safitri, Fhadia Andita, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1280Pemanfaatan Tanaman Dalam Prosesi Kematian Di Komplek Karyawan TMII, Bambu Apus, Jakarta Timur 2025-12-23T16:01:06+00:00Salsha Nur Adheliasalshanura@gmail.comSiti Padhilahsalshanura@gmail.comPriyanti Priyantisalshanura@gmail.comArdian Khairiahsalshanura@gmail.com<p>Pemanfaatan tanaman dalam prosesi kematian merupakan bagian penting dari tradisi masyarakat Indonesia yang memiliki makna simbolis dan fungsi praktis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tanaman, bagian yang digunakan, fungsi praktis serta cara pemanfaatannya dalam prosesi kematian di RT 016/RW 004, Komplek Karyawan TMII, Bambu Apus, Jakarta Timur. Penelitian telah dilakukan pada April 2025 dengan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara langsung kepada 13 responden yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan mengenai jenis tanaman, bagian yang dimanfaatkan, fungsi, dan cara penggunaan, lalu dianalisis secara deskriptif tematik. Ditemukan delapan jenis tanaman yang digunakan, yaitu mawar (Rosa sp.), melati (Jasminum sambac), kenanga (Cananga odorata), kamboja (Plumeria alba), pacar air (Impatiens balsamina), pandan (Pandanus amaryllifolius), bidara (Ziziphus mauritiana), dan mentimun (Cucumis sativus). Tanaman tersebut dimanfaatkan sebagai pengharum, pembersih, dan penghias dalam setiap tahapan prosesi, baik untuk memandikan jenazah, taburan di makam, maupun simbol spiritual. Setiap tanaman memiliki makna filosofis, seperti kesucian, keindahan, dan penghormatan terhadap jenazah, serta memperkuat nilai-nilai budaya dan spiritual masyarakat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Salsha Nur Adhelia, Siti Padhilah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1143Studi Kualitas Air Isi Ulang (Galon) Berdasarkan Parameter TS, TDS, dan TSS Wilayah Sebrang Ulu dan Ilir, Kota Palembang 2025-12-15T09:25:31+00:00Apreza Reynaldi Prayogafitri_uin@radenfatah.ac.idFitrifitri_uin@radenfatah.ac.idMuhammad Fahri Setiawanfitri_uin@radenfatah.ac.idAhmad Supandji Revolusionerfitri_uin@radenfatah.ac.id<p>Air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan manusia dan keberlanjutan ekosistem. Dalam pemenuhan kebutuhan air minum, air galon menjadi pilihan yang praktis dan ekonomis, terutama di wilayah perkotaan. Namun, kualitas air galon harus memenuhi standar tertentu agar aman dikonsumsi. Parameter penting yang sering digunakan untuk menilai kualitas air meliputi Total Solid (TS), Total Dissolved Solid (TDS), dan Total Suspended Solid (TSS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas air galon dari wilayah Sebrang Ulu dan Ilir berdasarkan parameter Total Solid (TS), Total Dissolved Solid (TDS), dan Total Suspended Solid (TSS) menggunakan metode gravimetri. Pengukuran dilakukan dengan mengamati perubahan berat pada cawan penguap dan kertas saring setelah proses penguapan dan penyaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar TS di wilayah Ulu dan Ilir berkisar antara 0,0125–0,0221 gram dan 0,0128– 0,0204 gram, sedangkan TDS berada pada kisaran 0,0016–0,0041 gram untuk Ulu dan 0,0013–0,0035 gram untuk Ilir. Konsentrasi TSS lebih tinggi, dengan kenaikan berat mencapai 0,6585–0,6844 gram di Ulu dan 0,6506–0,6710 gram di Ilir. Berdasarkan hasil ini, air galon dari kedua wilayah memenuhi standar kualitas air minum dengan kadar TDS di bawah ambang batas 500 mg/L yang ditetapkan EPA. Namun, perbedaan distribusi zat padat dalam sampel menunjukkan perlunya homogenisasi yang lebih baik untuk akurasi pengukuran.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Apreza Reynaldi Prayoga, Fitri, Muhammad Fahri Setiawan, Ahmad Supandji Revolusionerhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1162Uji Cemaran Bakteri Escherichia-coli Pada Jus Buah Segar Yang Dijual Di Pasar Tradisional Sekip Ujung, Pasar Semai, dan Pasar Induk Di Kota Palembang2025-12-17T06:48:01+00:00Anisa Hasanahririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idSonia Wiji Febriantiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idElizahririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Jus buah segar merupakan minuman yang digemari masyarakat karena dianggap menyehatkan. Namun, proses pengolahan yang kurang higienis dapat menyebabkan kontaminasi mikrobiologis, termasuk oleh Escherichia coli yang berpotensi menimbulkan gangguan saluran pencernaan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan metode identifikasi menggunakan media selektif Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) untuk E. coli dan Salmonella Shigella Agar (SSA) untuk Salmonella spp. yang bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Escherichia coli dan Salmonella spp. pada jus buah segar yang dijual di tiga pasar tradisional di Kota Palembang, yaitu Pasar Sekip Ujung, Pasar Semai, dan Pasar Induk Jakabaring., dengan masa inkubasi selama 1×24 jam dan 3×24 jam pada suhu 37 °C. Sebanyak 10 sampel jus diuji dalam penelitian ini. Hasil menunjukkan bahwa 4 dari 10 sampel menunjukkan pertumbuhan koloni E. coli, sedangkan hanya satu sampel menunjukkan kemungkinan pertumbuhan Salmonella spp. setelah inkubasi 3×24 jam. Temuan ini mengindikasikan bahwa jus buah segar dari pasar tradisional memiliki potensi cemaran bakteri patogen yang dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan praktik higiene serta pengawasan dalam proses pengolahan dan penjualan jus buah untuk menjamin keamanan konsumen.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anisa Hasanah, Sonia Wiji Febrianti, Elizah, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1180Studi Aktivitas Grooming Monyet Ekor Panjang Betina (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang, Sumatera Selatan 2025-12-18T10:51:27+00:00Gusti Aryantigustiarianti43@gmail.comVega Putri Masdalenagustiarianti43@gmail.comAndi Saputragustiarianti43@gmail.com<p>Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) merupakan salah satu jenis primata sosial yang cukup sering dijumpai di berbagai kawasan di Indonesia. Salah satu perilaku yang ditunjukkan oleh spesies ini adalah aktivitas grooming atau aktivitas saling merawat antarindividu. Grooming tidak hanya bertujuan untuk menjaga kebersihan tubuh, tetapi juga berperan dalam membentuk ikatan sosial, memperkuat hierarki dalam kelompok, serta mencerminkan tingkat kesejahteraan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas grooming pada monyet ekor panjang betina (Macaca fascicularis). Alat yang digunakan pada pengamatan ini berupa teropong, alat tulis, handphone. Bahannya yaitu monyet ekor panjang betina (Macaca fascicularis). Penelitian ini dilakukan melalui observasi langsung dan focal animal sampling dengan analisis data deskriptif kualitatif. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa grooming paling banyak dilakukan oleh individu dewasa, terutama betina. Aktivitas grooming dengan durasi terlama tercatat selama 26 menit, yaitu berupa allogrooming yang dilakukan oleh sesama monyet betina di atas pohon besar dan teduh. Durasi lamanya melakukan aktivitas grooming menunjukkan adanya interaksi sosial yang kuat di antara individu betina dalam kondisi lingkungan yang nyaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 semnas semnas; Gusti Aryantihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1197Analisis Perilaku Harian Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) Di Bird Park Kota Palembang 2025-12-19T15:09:40+00:00Naomi Puspita Dewiandisaputra@radenfatah.ac.idAndi Saputraandisaputra@radenfatah.ac.id<p>Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea) merupakan salah satu jenis burung eksotis yang memiliki ukuran tubuh sedang hingga besar, dengan ciri khas bulu berwarna putih yang dominan dan penampilan yang menarik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui aktivitas harian Kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea). Penelitian dilakukan pada 16-22 Mei 2025 di Bird Park Kota Palembang, adapun metode yang digunakan yaitu observasi dari aktivitas harian kakatua jambul kuning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata aktivitas harian kakatua jambul kuning yaitu lokomosi (42,8 kali/hari), diikuti interaksi sosial (18,2 kali/hari), makan (16 kali/hari), grooming (14,5 kali/hari), dan istirahat (7,7 kali/hari). Simpulan penelitian ini bahwa perilaku harian burung kakatua jambul kuning dapat dikategorikan ke dalam lima aktivitas utama, yaitu makan, lokomosi, grooming, interaksi dengan pengunjung, dan istirahat. Aktivitas yg paling banyak atau sering yaitu lokomosi dgn nilai rata-rata (42,8 kali/hari) dan aktivitas yg sedikit yaitu istirahat dgn nilai rata rata (7,7 kali/hari).</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Naomi Puspita Dewi, Andi Saputrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1220Identifikasi Organisme Pengganggu Tumbuhan Pada Komodit Ekspor dan Impor Tahun 2024 di Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat2025-12-22T04:21:36+00:00Anisa Syahrul Rahmianisasyahrul605@gmail.comMoralita Chatrianisasyahrul605@gmail.com<p>Ketergantungan antar negara satu dengan negara lain memicu meningkatnya aktifitas perdagangan internasional dan lalu lintas barang ekspor – impor. Organisme penganggu tanaman (OPT) banyak menyerang berbagai tanaman hasil pertanian lokal Indonesia yang di ekspor dan impor yang menyebabkan kerugian.Jenis organisme penganggu tanaman yang ditemukan pada komoditi ekspor adalah hama serangga gudang yang dapat merusak komoditi ekspor dan impor selama penyimpanan di gudang.Penelitian dilakukan untuk melihat jenis OPT hama gudang yang ditemukan pada Laboratorium Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumatera Barat sebagai bentuk pencegahan penyebaran hama gudang pada kegiatan ekpor dan impor.Untuk melihat jenis OPT dilakukan metode identifikasi secara makroskopis dengan menggunakan mikroskop dan mengacu pada literatur Rees dan Gorham. Hasil penelitian menunjukkan jenis OPT yang ditemukan sebanyak 12 spesies dengan spesies dominan yang ditemukan berdasarkan hasil intersepsi di laboratorium hewan, ikan dan tumbuhan Sumatera Barat adalah Liposcellis sp. Dengan frekuensi yang ditemukan sebanyak 27 pada komoditi kulit kayu manis. Salah satu pengendalian hama gudang dapat dilakukan dengan fumigasi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anisa Syahrul Rahmi, Moralita Chatrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1237Sri Rezeki dalam Nilai Estetika dan Spiritual di Masyarakat Kedaung Kaliangke, Jakarta Barat 2025-12-22T07:23:20+00:00Delicia Deliciahermanadelicia@gmail.comVina Maulanahermanadelicia@gmail.comPriyanti Priyantihermanadelicia@gmail.comArdian Khairiahhermanadelicia@gmail.com<p>Sri Rezeki (Aglaonema) merupakan tanaman hias yang memiliki makna spiritual dan nilai estetika yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah Kedaung Kaliangke, Jakarta Barat. Di tengah era modernisasi, keberadaan tanaman ini tidak hanya dimaknai sebagai dekoratif, tetapi juga sebagai simbol keberkahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi masyarakat terhadap nilai estetika dan spiritual yang terkandung dalam tanaman Sri Rezeki. Metode penelitian yang digunakan adalah teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dan pengisian kuesioner kepada masyarakat yang memiliki keterkaitan langsung dengan tanaman tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian masyarakat meyakini bahwa tanaman sri rezeki memiliki nilai spiritual yang dapat mendatangkan keberkahan. Namun, sebagian lainnya hanya memandangnya sebagai tanaman hias yang mempercantik lingkungan rumah. Hasil ini mencerminkan adanya perbedaan pemaknaan yang dipengaruhi oleh faktor pengalaman, latar belakang budaya, dan spiritualitas individu. Diharapkan generasi muda di wilayah Kedaung Kaliangke dapat terus menjaga dan melestarikan tanaman Sri Rezeki.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Delicia Delicia, Vina Maulana, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1254Studi Etnobotani Solanaceae Dalam Tradisi Sedekah Bumi Masyarakat Indramayu Barat2025-12-22T09:04:46+00:00Garda Ibnu Pratamagardaibnu3@gmail.comDhi’fan Ahda Nuryanagardaibnu3@gmail.comPriyanti Priyantigardaibnu3@gmail.comArdian Khairiahgardaibnu3@gmail.com<p>Tradisi Sedekah Bumi merupakan salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat Indramayu Barat untuk menjaga hubungan dengan alam sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan tanaman Solanaceae oleh masyarakat Indramayu Barat dalam tradisi sedekah bumi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa kuisioner dan wawancara dengan masyarakat Indramayu Barat. Pemilihan informan dilakukan dengan metode purposive sampling untuk informan kunci dan random sampling untuk masyarakat umum yang mengetahui tradisi sedekah bumi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terong (Solanum melongena) dengan persentase 92,3% termasuk ke dalam jenis tanaman yang paling umum diketahui oleh masyarakat. Terong diketahui memiliki banyak sekali manfaat dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya sebagai bahan pangan pada tumpeng dan sebagai hiasan altar upacara. Pada upacara sedekah bumi, tanaman Solanaceae digunakan sebagai pelengkap pembuatan gunungan. Selain itu, famili ini dapat digunakan sebagai sumber spiritual sebagai contoh cabai merah yang dipercaya sebagai simbol dari kekuatan dan keberanian karena rasa pedasnya yang diasosiaikan sebagai kekuatan dan perlindungan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Garda Ibnu Pratama, Dhi’fan Ahda Nuryana, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1271Kajian Etnobotani Bidara (Ziziphus mauritiana) di RT 001/RW006 Desa Bantarsari Kabupaten Bogor: Pemanfaatan dan Pengetahuan 2025-12-23T09:00:53+00:00Nadia Maimunah Nuraininadiamaimunah5@gmail.comRizkha Nurlianadiamaimunah5@gmail.comPriyanti Priyantinadiamaimunah5@gmail.comArdian Khairiahnadiamaimunah5@gmail.com<p>Kajian etnobotani memiliki peran krusial dalam mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat tentang pemanfaatan tumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan dan pengetahuan lokal masyarakat RT 001/RW 006 Desa Bantarsari, Kabupaten Bogor, terhadap tumbuhan bidara (Ziziphus mauritiana). Metode penelitian dilakukan melalui survei dengan melibatkan 39 responden untuk mengumpulkan data mengenai cara pemanfaatan bidara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ziziphus mauritiana dimanfaatkan secara dominan sebagai obat tradisional, dengan persentase mencapai 79,49% dari total responden. Selain itu, bidara juga digunakan dalam praktik ritual (15,38%), sebagai bahan makanan (5,13%), dan bahkan dalam pembuatan sabun (2,56%). Data ini mengindikasikan bahwa bidara merupakan bagian integral dari sistem pengobatan dan budaya lokal masyarakat Bantarsari. Meskipun demikian, ditemukan pula adanya variasi tingkat pengetahuan di kalangan responden, dengan sebagian kecil yang menyatakan tidak tahu atau belum pernah memanfaatkan bidara. Temuan ini menegaskan pentingnya pelestarian pengetahuan etnobotani bidara serta membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai validasi ilmiah khasiatnya dan pengembangan produk bernilai tambah.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nadia Maimunah Nuraini, Rizkha Nurlia, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1134Keanekaragaman Asparagaceae di Taman Cafetaria, Universitas Islam Al-Azhar2025-12-15T08:20:06+00:00Intan Kiraniitnkrn@gmail.comSindi Puspita Alfarinaalfarinasindi@gmail.comSlamet Mardiyanto Rahayuslamet.mardiyantorahayu84@gmail.com<p>Cafetaria Universitas Al-Azhar merupakan salah satu fasilitas yang ada di Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan status konservasi spesies yang termasuk dalam familia Asparagaceae di Taman, Cafetaria Universitas Islam Al Azhar. Penelitian dilakukan melalui observasi dan identifikasi. Berdasarkan penelitian terdapat 7 spesies yang termasuk familia Asparagaceae di Taman Cafetaria Universitas Islam Al-Azhar, yaitu: Liriope muscari, Chlorophytum comosum, Dracaena reflexa Lam, Dracaena trifasciata, Dracaena fragrans, Dracaena braunii, Dracaena surculose, dan Ophiopogon japonicus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 semnas semnas; Intan Kirani, Sindi Puspita Alfarina, Slamet Mardiyanto Rahayuhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1150Analisis Kandungan Salmonella sp dan Escherichia coli Pada Telur Mentah dan Telur Setengah Matang Yang Dijual Di Pasar Tradisional Di Kota Palembang2025-12-15T14:22:10+00:00Septi Levia Rahmadaniririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idDelfina Hotmanauli Sinagaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idPutri Qomariyyahririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Telur merupakan produk pangan hewani yang tinggi protein dan rentan terhadap kontaminasi mikrobiologis. Gaya hidup praktis mendorong konsumsi telur dalam kondisi mentah atau setengah matang, yang berisiko membawa bakteri patogen seperti Salmonella sp. dan Eschericia coli. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan kedua bakteri tersebut pada telur mentah dan setengah matang dibeli dari tiga Lokasi di Kota Palembang, yaitu Panca Usaha, Perumnas Sako dan Pasar Sukamoro. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan uji deteksi cemaran menggunakan media selektif SSA (Salmonella Shigella Agar) untuk isolasi Salmonella sp. dan EMBA (Eosin Methylen Blue Agar) untuk isolasi Eschericia coli. Sebanyak 10 sampel diuji dengan menggunakan metode gores. Hasil menunjukkan bahwa beberapa sampel positif mengandung Salmonella sp., sedangkan Sebagian lainnya mengandung E. coli. temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan terhadap kualitas dan keamanan telur di pasaran untuk mencegaha risiko penyakit akibat pangan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Septi Levia Rahmadani, Delfina Hotmanauli Sinaga, Putri Qomariyyah, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1171Studi Literatur : Perbandingan Imunitas Anak Berdasarkan Asupan Nutrisi Alami dan Sintetis 2025-12-18T08:16:20+00:00Daera Thirza Fitridthirzaftr@gmail.comDelia Yusfaranidthirzaftr@gmail.com<p>Sistem imunologi anak merupakan komponen vital dalam menjaga kesehatan anak selama masa pertumbuhan. Salah satu faktor besar yang mempengaruhi pertumbuhan anak adalah asupan nutrisi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pengaruh antara nutrisi alami dan sintetis terhadap imunitas tubuh anak 0-10 tahun. Metode penelitian dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber ilmiah seperti artikel jurnal, buku, dan laporan organisasi kesehatan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa nutrisi alami, seperti ASI, buah, dan sayuran, secara umum memberikan dampak positif jangka panjang terhadap sistem imun anak, antara lain dengan meningkatkan produksi antibodi dan mendukung keseimbangan mikrobiota usus. Sementara itu, nutrisi sintetis, seperti suplemen vitamin dan mineral, efektif dalam kondisi defisiensi tetapi tidak memiliki kompleksitas komponen bioaktif seperti nutrisi alami. Kesimpulannya, nutrisi alami lebih unggul dalam mendukung imunitas anak secara menyeluruh, sementara nutrisi sintetis sebaiknya digunakan secara selektif dan sesuai kebutuhan medis.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Daera Thirza Fitri, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1187SIFAT ORGANOLEPTIK KOMBUCHA TEH BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa) PADA VARIASI SUHU DAN WAKTU FERMENTASI 2025-12-18T15:30:22+00:00Lidya Rizki Amaliasitisoleha@radenfatah.ac.idYolan Anggrainisitisoleha@radenfatah.ac.idMarsya Febriantisitisoleha@radenfatah.ac.idDia Lestarisitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Kombucha rosela merupakan minuman fungsional hasil fermentasi larutan teh bunga rosela (Hibiscus sabdariffa) dengan starter mikroba simbiotik (SCOBY) yang menghasilkan senyawa bioaktif seperti asam organik, antosianin, dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu fermentasi (4°C, 25°C, dan 30°C) selama 14 hari terhadap karakteristik organoleptik kombucha rosela, meliputi aroma, rasa, dan warna. Metode penelitian menggunakan pengamatan uji organoleptik pada hari ke-0 hingga ke-14. Hasil menunjukkan bahwa suhu fermentasi berperan penting dalam menentukan sifat organoleptik. Fermentasi pada suhu 25°C dan 30°C menghasilkan sifat organoleptik terbaik pada hari ke-2 (beraroma agak keasaman, memiliki rasa asam segar dan berwarna merah terang), namun mengalami penurunan mutu setelah hari ke-4 akibat overfermentasi. Sementara itu, fermentasi pada suhu 4°C menunjukkan perubahan yang lebih lambat dan kestabilan mutu hingga hari ke-14. Kombucha rosela pada suhu rendah cocok untuk penyimpanan jangka panjang, sedangkan suhu sedang hingga tinggi lebih optimal untuk konsumsi dalam waktu pendek. Hasil ini merekomendasikan konsumsi kombucha rosela terbaik dilakukan pada hari ke-2 fermentasi pada suhu 25°C atau 30°C guna memperoleh cita rasa dan kualitas terbaik.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Lidya Rizki Amalia, Yolan Anggraini, Marsya Febrianti, Dia Lestari, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1204Uji Antibakteri Ekstrak Jahe Terhadap Patogen Pangan2025-12-20T02:12:46+00:00Eli Wantinaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idZahra An’umilah Darmawanririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Resistensi bakteri terhadap antibiotik sintetis menjadi tantangan serius dalam bidang kesehatan dan keamanan pangan. Salah satu pendekatan alternatif yang menjanjikan adalah pemanfaatan senyawa bioaktif dari tanaman herbal, salah satunya Zingiber officinale (rimpang jahe) yang mengandung minyak atsiri, flavonoid, terpenoid, serta senyawa fenolik yang berpotensi memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Metode yang digunakan adalah uji antibakteri menggunakan metode Kirby-Bauer serta penghitungan persen efektivitas antimikroba. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2025 di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak rimpang jahe terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. Ekstrak diperoleh melalui proses maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, lalu diuji aktivitasnya terhadap dua jenis bakteri patogen dengan konsentrasi 4%, menggunakan pelarut etanol serta kontrol negatif (CMC 1%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak jahe memberikan zona hambat sebesar 11,95 mm terhadap E. coli (dengan persentase hambat 45,98%) dan 12,26 mm terhadap S. aureus (38,42%),yang termasuk dalam kategori aktivitas antibakteri lemah. Dengan demikian, ekstrak jahe menunjukkan adanya kemampuan antibakteri, meskipun masih terbatas. Penelitian ini memberikan informasi bahwa ekstrak rimpang jahe memiliki potensi sebagai agen antibakteri alami dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk pengendalian patogen pangan.<br><br></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Eli Wantina, Zahra An’umilah Darmawan, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1211Upaya Penanganan Konflik Satwa Liar yang Dilindungi pada Lanskap Kawasan Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Sumatera Barat: Pendekatan Ekologi dan Sosial2025-12-22T02:53:59+00:00Rahmadana Rahmadanarijalsatria@fmipa.unp.ac.idRijal Satriarijalsatria@fmipa.unp.ac.idEdi Susilorijalsatria@fmipa.unp.ac.id<p>Konflik antara manusia dan satwa liar merupakan permasalahan konservasi yang semakin menonjol seiring dengan meningkatnya tekanan terhadap habitat alami akibat ekspansi lahan, fragmentasi hutan, serta meningkatnya aktivitas manusia di kawasan konservasi. Sumatera Barat merupakan salah satu wilayah di Pulau Sumatera yang memiliki keragaman hayati tinggi dan menjadi habitat penting bagi berbagai spesies satwa liar yang dilindungi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konflik satwa liar dilindungi, mengevaluasi upaya penanganannya, serta merumuskan pendekatan konservasi yang adaptif melalui lensa ekologi dan sosial. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-kualitatif berdasarkan data rekap konflik yang dihimpun oleh Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA Bukittinggi pada tahun 2025. Hasil menunjukkan bahwa konflik paling banyak melibatkan Harimau Sumatera, disusul oleh Beruang Madu, dengan sebaran lokasi yang mencakup berbagai nagari di Kabupaten Agam, Lima Puluh Kota, Pasaman, dan Pasaman Barat. Strategi penanganan mencakup pemasangan kamera jebak, penggunaan drone thermal, evakuasi satwa, dan edukasi masyarakat. Pendekatan konservasi berbasis ekologi penting untuk memahami pergerakan dan perilaku satwa, sedangkan pendekatan sosial dibutuhkan untuk membangun kesadaran, partisipasi, dan toleransi masyarakat lokal. Integrasi kedua pendekatan ini diharapkan dapat mereduksi konflik secara berkelanjutan dan memperkuat keberhasilan konservasi spesies dilindungi di wilayah Sumatera Barat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Rahmadana Rahmadana, Rijal Satria, Edi Susilohttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1227Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair (POC) dari Limbah Sawi dan Kubis Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans Poir)2025-12-22T05:02:21+00:00Yeyen Yeyenbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idSepti Levia Ramadhanibinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idNovitasari Rahmadhanibinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idBinar Azwar Anas Harfianbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.id<p>Kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) termasuk dalam kelompok tanaman hortikultura yang banyak disukai oleh masyarakat Indonesia karena cita rasanya yang khas. Tetapi, tingkat produksi kangkung darat di kalangan petani masih tergolong rendah. Untuk mengatasi hal ini, salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah menambahkan unsur hara melalui penggunaan pupuk organik, seperti pupuk organik cair (POC). Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada pengaruh dari pemberian pupuk organik cair (POC) dari limbah sayuran sawi dan kubis terhadap pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir), dengan parameter pengamatan yang dilakukan yaitu tinggi tanaman dan jumlah daun. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif kuantitatif yang menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 5 perlakuan berbeda, yaitu P0 (kontrol 100%), P1 (25%), P2 (50%), P3 (75%), dan P4 (100%). Setiap perlakuan dilakukan 5 kali ulangan, sehingga menghasilkan 25 unit percobaan. Hasil penelitian pengaruh pemberian pupu organik cair (POC) dari limbah sawi dan kubis terhadap pertumbuhan tanaman kangkung darat (Ipomoea reptans Poir) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun. Tetapi, pada perlakuan P3 (75% POC) memberikan rata-rata tertinggi terhadap tinggi tanaman kangkung, sedangkan untuk jumlah daun terbanyak berada pada perlakuan P0 (Kontrol).</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Yeyen Yeyen, Septi Levia Ramadhani, Novitasari Rahmadhani, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1244Pengaruh Pemberian Trichoderma sp. Terhadap Pertumbuhan Tanaman Cabai : Literatur Riview2025-12-22T07:55:26+00:00Fatri Juni ArdisaFatrijuniardisa2003@gmail.comReki KardimanFatrijuniardisa2003@gmail.com<p>Hama dan penyakit tanaman merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman di Indonesia. Hama dan penyakit tanaman dianggap sebagai permasalahan utama dalam sistem produksi pertanian di Indonesia yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 30% per tahun.Hal ini yang melatarbelakangi penggunaan pestisida alami sebagai alternatif untuk menghemat biaya pengeluaran pembelian pupuk kimia yang relatif mahal yng tidak sebanding dengan jual beli cabai nya.Salah satu agen pengendali hayati yang bisa digunakan yaitu pemanfaatan jamur Trichoderma sp.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Trichoderma sp. terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Jenis penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan metode literature review. Literatur yang dikumpulkan untuk penelitian ini didasarkan pada pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-Analysis Protocols (PRISMA-P).Dari hasil studi literatur telah dianalisis dan dikaji didapatkan kesimpulan bahwa Trichoderma sp.berperan penting sebagai agen pengendali hayati pada tanaman.Selain itu Trichoderma bersifat antagonis yang mampu untuk menghambat pertumbuhan jamur patogen.Pengaplikasian Trichoderma sp. terhadap tanaman cabai memberikan dampak postif untuk peningkatan tinggi,jumlah daun,serta diameter batang tumbuhan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fatri Juni Ardisa, Reki Kardimanhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1261Etnobotani Pisang Pada Masyarakat Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, Banten2025-12-22T22:38:47+00:00Kesha Kamila Maharanikeshauin@gmail.com Annisa Rahma Auliakeshauin@gmail.comPriyanti Priyantikeshauin@gmail.comArdian Khairiahkeshauin@gmail.com<p>Lahan-lahan di kawasan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang memiliki banyak kebun pisang yang sebagian besar dikelola oleh masyarakat setempat. Selain mudah dibudidayakan, tanaman pisang juga memiliki beragam manfaat untuk kebutuhan sehari-hari serta memiliki nilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan berbagai bentuk pemanfaatan tanaman pisang oleh masyarakat di Rukun Warga 02, Pondok Benda, Kecamatan Pamulang. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2025 dengan metode observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling sebanyak 40 orang dengan kriteria usia minimal 30 tahun. Subjek penelitian ini adalah masyarakat lokal, sedangkan objek penelitian mencakup berbagai bentuk pemanfaatan tanaman pisang, dengan parameter yang diamati meliputi spesies dan varietas pisang yang digunakan, bagian tanaman yang dimanfaatkan, serta tujuan pemanfaatannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua spesies pisang yang dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu Musa paradisiaca dan Musa brachycarpa. Musa paradisiaca memiliki 11 varietas yang dimanfaatkan, diantaranya pisang raja, pisang kepok, pisang ambon, pisang tanduk, pisang uli, pisang lampung, pisang kapas, pisang mas, pisang raja sereh, pisang angleng, dan pisang nangka. Sementara itu, pada Musa brachycarpa hanya ditemukan satu varietas, yaitu pisang batu. Seluruh bagian tanaman pisang, mulai dari buah, daun, bunga, batang semu, pelepah, hingga getah dan keseluruhan tanaman dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan pangan, obat tradisional, ritual adat, kerajinan, dan pakan ternak.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Kesha Kamila Maharani, Annisa Rahma Aulia, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1278Keanekaragaman Euphorbiaceae di Taman Masjid Kampus, Universitas Islam Al-Azhar 2025-12-23T14:40:28+00:00Yaumil Hijriayomel2764@gmail.comWindika Mufrianayomel2764@gmail.comSlamet Mardiyanto Rahayuyomel2764@gmail.com<p>Taman Masjid Universitas Islam Al – Azhar merupakan salah satu tempat yang ada di Universitas Islam Al – Azhar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan status konservasi spesies yang termasuk dalam familia Euphorbiaceae di Taman Masjid Universitas Islam Al – Azhar. Penelitian dilakukan melalui observasi dan identifikasi serta penelusuran status konservasi. Berdasarkan penelitian terdapat 6 spesies yang termasuk familia Euphorbiaceae di Taman Masjid Universitas Islam Al – Azhar, yaitu Acalypha siamensis, Excoecaria cochinchinensis, Euphorbia tithimaloides, Jatropha curcas, Codiaeum variegatum, Ipomoea batatas.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Yaumil Hijria, Windika Mufriana, Slamet Mardiyanto Rahayuhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1141Identifikasi Kemunculan Lumba-Lumba (Dolphinidae sp) Berdasarkan Informasi Masyarakat di Taman Nasional Karimunjawa 2025-12-15T09:06:19+00:00Puji Prihatiningsihpuji.prihatinningsih@gmail.comSusi Sumaryatipuji.prihatinningsih@gmail.comDewi Septiyanipuji.prihatinningsih@gmail.comJeckhapuji.prihatinningsih@gmail.comPramitapuji.prihatinningsih@gmail.com<p>Taman Nasional Karimunjawa merupakan salah satu kawasan konservasi perairan yang berada di Laut Jawa. Taman Nasional Karimunjawa merupakan habitat bagi berbagai satwa perairan termasuk diantaranya lumba-lumba (Dolphinidae sp). Satwa ini seringkali dijumpai di perairan Kepulauan Karimunjawa. Namun demikian sampai dengan saat ini informasi tentang jenis dan sebaran lumba-lumba khususnya di kawasan Taman Nasional Karimunjawa belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi dan waktu perjumpaan lumba-lumba di Taman Nasional Karimunjawa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2018 melalui metode survei di empat desa yaitu Desa Karimunjawa, Kemujan, Parang dan Nyamuk. Survei dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung dengan nelayan setempat. Survei dilakukan terhadap 208 responden dengan rentang usia 21-88 tahun. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sebagian besar responden (99,04%) mengaku pernah melihat lumba-lumba di perairan Taman Nasional Karimunjawa. Terdapat enam lokasi dengan perjumpaan lumba-lumba paling tinggi yaitu perairan Pulau Karimunjawa, perairan Pulau Nyamuk, perairan Pulau Tengah, perairan Pulau Menyawakan, perairan Pulau Katang dan perairan Pulau Geleang. Perjumpaan paling tinggi dijumpai pada bulan Juni, Juli dan Agustus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Puji Prihatiningsih, Susi Sumaryati, Dewi Septiyani, Jeckha, Pramitahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1160Analisis Deskriptif Penerapan SOP Penanganan Kegagalan Alat Laboratorium dalam Mendukung K3 di Laboratorium Fisika UNP 2025-12-18T14:16:02+00:00Putri Amandafitriolvia911@gmail.comRini Oktarianafitriolvia911@gmail.comAlya Eka Putrifitriolvia911@gmail.comShalsa Anggrama Apradillafitriolvia911@gmail.comNailatul Fadilahfitriolvia911@gmail.comFitri Olvia Rahmifitriolvia911@gmail.com<p>Kecelakaan kerja di laboratorium, terutama yang melibatkan alat listrik, masih menjadi perhatian serius, membutuhkan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara deskriptif implementasi SOP penanganan kegagalan alat laboratorium dan dampaknya terhadap K3 di Laboratorium Fisika UNP. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan laboran dan asisten laboratorium serta angket kepada praktikan untuk mengumpulkan data tentang praktik K3 yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Laboratorium Fisika UNP telah menerapkan SOP yang memadai, termasuk pengecekan berkala, penanganan kecelakaan listrik, dan ketersediaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) khusus untuk kebakaran listrik. Meskipun demikian, masih ditemukan kasus kecelakaan kecil seperti kabel terbakar dan kapasitor meledak, yang seringkali disebabkan oleh kelalaian pengguna. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya peningkatan pemahaman dan kepatuhan praktikan terhadap SOP, serta perlunya pelatihan simulasi bahaya secara rutin untuk meminimalkan risiko kecelakaan di laboratorium.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Putri Amanda, Rini Oktariana, Alya Eka Putri, Shalsa Anggrama Apradilla, Nailatul Fadilah, Fitri Olvia Rahmihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1178Deteksi Cemaran Salmonella sp. dan Escherichia coli Pada Sayuran di Pasar Tradisional dan Modern di Kota Palembang 2025-12-18T10:39:42+00:00Dwi Pusvitaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idAyu Arismaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Sayuran segar merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena kandungan gizinya. Namun, sayuran juga rentan terkontaminasi mikroorganisme patogen jika penanganannya kurang higienis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran Salmonella sp. dan Escherichia coli pada berbagai jenis sayuran yang dijual di pasar tradisional dan pasar modern di Kota Palembang. Sampel sayuran yang digunakan meliputi leunca, buncis, kubis, timun, dan terong, yang diuji menggunakan media selektif Salmonella Shigella Agar (SSA) dan Eosin Methylene Blue Agar (EMBA). Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan metode uji menggunakan media selektif Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) untuk mendeteksi Escherichia coli dan Salmonella Shigella Agar (SSA) untuk mendeteksi Salmonella sp. Hasil menunjukkan bahwa Salmonella sp. terdeteksi pada leunca, buncis, kubis, dan timun di kedua pasar, sedangkan E. coli ditemukan pada leunca dan buncis dari kedua pasar serta pada terong dari pasar modern. Temuan ini menunjukkan bahwa baik pasar tradisional maupun modern memiliki potensi cemaran mikroba, sehingga perlu pengawasan yang lebih ketat terhadap sanitasi dan penanganan sayuran untuk menjamin keamanan pangan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dwi Pusvita, Ayu Arisma, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1194Isolasi dan Identifikasi Pertumbuhan Jamur Pada Buah Busuk yang ada dipasar Tradisional Kota Palembang 2025-12-18T17:10:13+00:00Nabila Annisa Rahmaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idDesilva Yunusririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Buah-buahan sangat rentan mengalami kerusakan karena kandungan airnya yang tinggi, yaitu antara 70 hingga 95% dengan tekstur lembek, dan masa penyimpanan cukup singkat serta dapat merusak <br />struktur buah. Jamur adalah mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi buah karena dapat <br />berkembang di mana saja baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan ditubuh manusia. Pasar <br />merupakan tempat yang memegang peranan penting dalam transaksi jual-beli bahan makanan, <br />seperti buah karena dapat menyediakan vitamin dan karbohidrat bagi manusia. Penelitian ini <br />bertujuan untuk mengidentifikasi pertumbuhan jamur yang mencemari buah busuk, jenis penelitian <br />yang dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan metode yaitu mengidentifikasi jamur pada media <br />PDA. Pengambilan sampel dilakukan di pasar tradisional yang ada di kota palembang yaitu pasar <br />buah jakabaring dan Km 5 palembang pada bulan April 2025. Sampel buah yang diambil adalah <br />mangga, jeruk, blewah, pepaya, semangka, lemon, melon, pisang dan salak, setelah itu sampel akan <br />dilakukan isolasi dan pengamatan mikroskopik pada laboraturium mikrobiologi terpadu UIN Raden <br />Fatah Palembang. Pada hasil penelitian terdapat jenis Aspergillus sp disampel melon, semangka, <br />jeruk santang, blewah, lemon, pisang, salak, pepaya, mangga, sedangkkan pada sampel jeruk medan <br />terdapat Penicilllium sp.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nabila Annisa Rahma, Desilva Yunus, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1218Analisis Parameter Fungsi Hati Sapi Melalui Pengukuran ALP Dan SGPT Di UPTD Rumah Sakit Hewan Sumatera Barat2025-12-22T04:20:39+00:00Suchy Rahmadhaniucirahma104@gmail.comNirma Cahyantiucirahma104@gmail.comAbdul Razakucirahma104@gmail.com<p>Hati merupakan organ vital yang berperan dalam metabolisme dan detoksifikasi pada sapi. Gangguan fungsi hati pada sapi dapat menurunkan produktivitas nilai ekonomi dibidang industri peternakan. Parameter yang umumnya digunakan dalam pemeriksaan fungsi hati adalh ALP (Alkaline Phosphatase) dan SGPT (Serum Glutamic Pyruvic Transminase. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter fungsi hati sapi dengan pengukuran kadar ALP dan SGPT di UPTD Rumah Sakit Hewan Sumatera Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah uji kimia klinik dengan sampel serum darah sapi. Pengukuran kadar ALP menggunakan spektofotometer Fujifilm DRI chem NX5000i dan untuk SGPT menggunakan mikrolab 300. Hasil penelitian menunjukkan variasi kadar ALP dan SGPT, beberapa sampel menunjukkan peningkatan yang signifikan (ALP : 226-486 IU/L, SGPT : 85 IU/L) yang menandakan adanya kerusakan fungsi hati pada sapi, sampel lainnya lebih rendah dan normal. Kadar enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti umur, ras, kondisi fisiologis serta pakan. Kesimpulan penelitian ini pemeriksaan ALP dan SGPT merupakan alat yang berharga dalam pemeriksaan fungsi hati sapi, dengan pemeriksaan ALP lebih spesifik dibandingkan SGPT untuk kerusakan fungsi hati sapi. Pemeriksaan kombinasi ALP dan SGPT memberikan informasi yang komprehensif untuk evaluasi kesehatan fungsi hati sapi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Suchy Rahmadhani, Nirma Cahyanti, Abdul Razakhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1234Optimasi Inkubasi Isolasi DNA pada Tahapan Digestion Solution terhadap Konsentrasi DNA Nyamuk Aedes sp2025-12-22T06:46:15+00:00Azzahra Noor Firantizahranoona21@gmail.com<p>Proses isolasi DNA merupakan tahap penting dalam analisis molekuler. Namun, kualitas dan kuantitas DNA yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh spesies dan kondisi sampel yang digunakan. Oleh karena itu, diperlukan optimasi terhadap tahapan-tahapan dalam proses isolasi, salah satunya adalah pada tahap inkubasi dengan digestion solution. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu inkubasi optimum dalam tahapan digestion solution guna memperoleh DNA berkualitas tinggi dari nyamuk Aedes sp. Metode yang digunakan bersifat kualitatif dengan membandingkan dua perlakuan, yaitu inkubasi selama 3 jam dan inkubasi overnight. Sampel yang digunakan adalah nyamuk Aedes sp. DNA diekstraksi menggunakan kit isolasi DNA komersial seperti GeneJET™ Genomic DNA Purification Kit, kemudian dianalisis kuantitas dan kualitasnya menggunakan NanoDrop. Data hasil pengukuran disajikan dalam bentuk tabel untuk dibandingkan antara kedua perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inkubasi selama 3 jam menghasilkan konsentrasi DNA yang rata-rata di atas 10 ng/μl serta nilai kemurnian (rasio A260/A280) dalam rentang 1,8–2,0, yang menunjukkan DNA berkualitas baik dan sesuai standar untuk aplikasi molekuler lebih lanjut. Sebaliknya, inkubasi overnight cenderung menghasilkan DNA dengan konsentrasi yang lebih rendah dan kemurnian di luar rentang ideal. Dengan demikian, waktu inkubasi selama 3 jam dapat direkomendasikan sebagai kondisi optimum dalam tahap digestion solution untuk isolasi DNA nyamuk Aedes sp.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Azzahra Noor Firantihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1252Budidaya dan Produksi Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) menggunakan Pupuk AB Mix dengan Sistem DFT2025-12-22T08:40:51+00:00Gusti Dinia Putrirestifevria@fmipa.unp.ac.idResti Fevriarestifevria@fmipa.unp.ac.id<p>Permintaan akan komoditas hortikultura terutama sayuran terus meningkat, hal ini membuka peluang pasar terhadap penigkatan produksi sayur. Salah satu sayuran yang cocok di produksi adalah pakcoy yang memiliki manfaat bagi kesehatan. Pakcoy dapat dibudidaya tidak hanya di lahan tanah, tetapi juga secara hidroponik. Hidroponik adalah budidaya tanaman yang memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam. Adapun nutrisi yang digunakan yaitu nutrisi AB mix karena mengandung unsur hara lengkap dan praktis. Salah satu metode hidroponik yang telah dikembangkan dan dapat diaplikasikan pada budidaya pakcoy adalah metode hidroponik Deep Flow Technique (DFT), yaitu suatu metode yang memanfaatkan pertumbuhan akar tanaman untuk berada dalam genangan larutan nutrisi hara. Tujuan penelitian untuk mengetahui cara budidaya dan produksi tanaman pakcoy (Brassica rapa L.) menggunakan Nutrisi AB Mix dengan sistem DFT. Metode yang digunakan adalah metode deksriptif kuantitaf dengan menjelaskan hasil budidaya dan produksi tanaman pakcoy menggunakan pupuk AB Mix dengan sistem DFT. Hasil penelitian menunjukan bahwa tanaman memiliki pertumbuhan vegetatif yang tertinggi adalah P2 dengan tinggi tanaman 18,9 cm, jumlah daun 14 helai dan lebar daun 6,5 cm. Berat basah tertinggi dimiliki oleh P2 (10 gr), sejalan dengan jumlah daun yang banyak sebagai indikator kapasitas penampungan air. Sementara itu, berat kering terendah terdapat pada P10 (0,28 gr), yang kemungkinan besar dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan seperti intensitas cahaya dan ketersediaan air</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Gusti Dinia Putri, Resti Fevriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1269Isolasi dan Identifikasi Bakteri Asam Laktat dari Yoghurt Bermerek CY 2025-12-23T08:39:38+00:00Muhammad Saltes AlbiansyahSaltes820@gmail.comMutiara SalsabilaSaltes820@gmail.comAisyah Afina MuslimahSaltes820@gmail.comAlya Istiana AnnisaSaltes820@gmail.comMegga Ratnasari PikoliSaltes820@gmail.com<p>Bakteri Asam Laktat (BAL) memiliki peran penting dalam fermentasi pangan, termasuk yogurt, dengan menghasilkan asam laktat dan senyawa antimikroba yang mendukung keamanan dan mutu produk. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi BAL dalam yogurt komersial merek CY melalui metode culture-dependent. Isolasi dilakukan menggunakan media selektif MRSA dari sampel yogurt yang telah diencerkan, diikuti dengan pengamatan morfologi koloni dan pewarnaan sederhana. Hasil menunjukkan bahwa bakteri pada pengenceran CY-1 dan CY-3 memiliki morfologi koloni yang sesuai dengan genus Streptococcus, didukung oleh hasil yang menunjukkan bentuk kokus, hasil ini memiliki kesesuaian dengan komposisi produk kemasan yoghurt CY. Pengukuran pH yogurt didapatkan rata-rata sebesar 3,58, nilai pH lebih rendah dari standar yang ditetapkan SNI 2981:2009 yang berkisar antara 3,80 hingga 4,50. Kesimpulannya, genus Streptococcus merupakan BAL dominan dalam produk tersebut, namun dibutuhkan analisis molekuler untuk validasi lebih lanjut.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Saltes Albiansyah, Mutiara Salsabila, Aisyah Afina Muslimah, Alya Istiana Annisa, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1286Teknik Pembibitan Dan Pertumbuhan Tanaman Surian (Toona Sureni) Secara Generatif Di UPTD BSPTH Dinas Kehutanan Sumatera Barat2025-12-27T23:34:53+00:00Mella Alfianita Sarimellaalfianita9@gmail.comJefri Chandramellaalfianita9@gmail.com<p>tanaman Surian (Toona sureni) secara generatif merupakan salah satu upaya penting dalam mendukung pelestarian dan pemanfaatan tanaman kehutanan bernilai ekonomis tinggi di Indonesia. Permasalahan yang sering dihadapi dalam teknik pembibitan generatif meliputi rendahnya daya kecambah, ketidaksesuaian media tanam, serta kurang optimalnya perlakuan benih sebelum tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pembibitan generatif yang tepat guna meningkatkan viabilitas dan vigor bibit Surian. observasi partisipatif. Mahasiswa secara langsung mengamati dalam tahapan pembibitan surian (Toona sureni). Selain itu, dilakukan wawancara dengan tenaga ahli terkait teknik pembibitan serta kendala yang dihadapi dalam proses tersebut.di Hasil penelitian menunjukkan bahwa media tanam campuran tanah dan kompos serta perlakuan perendaman benih dalam air hangat selama 12 jam memberikan hasil terbaik, dengan tingkat perkecambahan mencapai 85% dan pertumbuhan bibit yang lebih cepat serta sehat dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil ini memberikan rekomendasi teknis dalam rangka mendukung program rehabilitasi hutan dan peningkatan produktivitas tanaman Surian secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Mella Alfianita Sari, Jefri Chandrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1132Deteksi Bakteri Salmonella sp. dan Escherichia Coli Pada Minuman Kemasan Yang Beredar di Pasaran di Kota Palembang2025-12-15T08:05:48+00:00Putri Famaliaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idSelvina Yuliasariririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idDebyta Sahdilaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Keamanan pangan merupakan isu penting dalam kesehatan masyarakat, khususnya terkait meningkatnya konsumsi minuman kemasan. Produk-produk ini, termasuk minuman dalam kemasan berharga murah seperti teh cup dan kopi cup, rentan terhadap kontaminasi mikrobiologi akibat proses produksi dan distribusi yang kurang higienis. Jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan metode deteksi E. coli & Salmonella sp dengan media selektif Eosin Methylen Blue Agar (EMBA) dan Salmonella Shigella Agar (SSA) dengan prosedur pengayaan awal menggunakan Lactose Broth dan Nutrient Broth. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2025, bertempat di Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang. Seluruh prosedur dilakukan secara aseptik dan hasil diamati setelah inkubasi selama 24 jam pada suhu 370C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagaian besar sampel minuman kemasan positif mengandung Escherichia coli, dan satu sampel menunjukkan kontaminasi ganda oleh E.coli dan Salmonella sp. Temuan ini menegaskan bahwa masih terdapat produk minuman kemasan yang tidak memenuhi standar sanitasi yang layak sehingga dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi konsumen.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Putri Famalia, Selvina Yuliasari, Debyta Sahdila, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1148Uji Deteksi Escherichia coli Pada Beberapa Merek Sosis Yang Beredar Di Pasaran Kota Palembang2025-12-15T13:35:19+00:00Salsa Nurtitaniaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRheza Dwi Utamiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Keamanan pangan pada produk daging olahan seperti sosis menjadi perhatian utama karena risiko kontaminasi bakteri patogen seperti Escherichia coli yang dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan E. coli pada sampel sosis dari berbagai merek yang beredar dipasaran kota palembang. Jenis penelitian deskriptif kualitatif, metode pengujian menggunakan media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) untuk deteksi selektif E. coli berdasarkan karakteristik koloni hijau metalik dan media Lactose Broth (LB) sebagai media pertumbuhan non-selektif untuk mendukung viabilitas bakteri E. coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua dari 10 sampel sosis (20%) positif terkontaminasi E. coli, mengindikasikan adanya variasi tingkat higienitas antar merek yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan dalam pengendalian kualitas selama proses produksi atau penyimpanan. Selama proses perpindahan adanya kontaminasi<br>E. coli dapat berasal dari bahan baku yang tidak higienis, kontaminasi silang dari peralatan, atau penyimpanan yang tidak optimal. Media EMBA efektif untuk deteksi awal E. coli hanya menjamin ciri koloni adanya hijau metalik. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan sistem keamanan pangan seperti Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) dan pengujian mikrobiologi rutin untuk memastikan keamanan produk sosis. Edukasi konsumen mengenai penyimpanan dan pengolahan sosis yang benar juga diperlukan untuk mencegah risiko kesehatan. Temuan ini menjadi peringatan bahwa pengawasan ketat terhadap proses produksi dan distribusi sosis sangat penting untuk menjamin keamanan pangan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Salsa Nurtitania, Rheza Dwi Utami, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1169Pengujian Ekstrak Buah Cabai (Capsicum Annuum) Sebagai Pestisida Alami Untuk Mengendalikan Hama Ulat Titik Tumbuh Pada Tumbuhah 2025-12-18T08:03:30+00:00Bela Sintiafitri_uin@radenfatah.ac.idFitrifitri_uin@radenfatah.ac.id<p>Penelitian ini mengkaji potensi senyawa capsaicin dalam cabai rawit (Capsicum frutescens L.) sebagai agen alami untuk melindungi tanaman sayuran dari serangan ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis). Capsaicin diketahui memiliki efek sebagai antifeedant, repelan, dan neurotoksin yang dapat mengganggu sistem saraf serangga hama. Kajian ini didasarkan pada sejumlah referensi ilmiah dan hasil penelitian terdahulu. Hasilnya menunjukkan bahwa capsaicin mampu menurunkan populasi hama secara signifikan tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap organisme non-target maupun lingkungan. Dengan demikian, ekstrak cabai rawit berpotensi besar digunakan sebagai pestisida nabati yang mendukung praktik pertanian berkelanjutan secara ekologis.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 semnas semnas; Bela Sintia, Fitrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1185Analisis Kandungan Formalin Pada Kerupuk Mentah Di Pasar Tradisional di Kota Palembang 2025-12-18T15:17:00+00:00Sakhira Mardhotilaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idLathy Okta Ramandharirinovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Peredaran bahan tambahan berbahaya dalam produk makanan, seperti formalin, masih menjadi isu serius dalam upaya menjaga keamanan pangan di Indonesia. Salah satu produk yang sering dikaitkan dengan penyalahgunaan formalin adalah kerupuk mentah, terutama yang dijual di pasar tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis kandungan formalin pada produk kerupuk mentah yang dijual di berbagai pasar tradisional di Kota Palembang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Dengaan metode tes kit formalin uji laboratorium menggunakan pereaksi khusus formalin. Sampel diambil dari 10 pasar tradisional secara acak. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 10 sampel yang diuji, 2 di antaranya positif mengandung formalin. ditandai dengan perubahan warna reagen menjadi keunguan, yang secara kimiawi merupakan reaksi spesifik antara formaldehid dengan asam kromotropat dalam kondisi asam kuat. Temuan ini menunjukkan adanya penyalahgunaan formalin dalam produk pangan yang beredar di pasar tradisional. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan ketat dari instansi terkait guna menjaga keamanan pangan bagi masyarakat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Sakhira Mardhotila, Lathy Okta Ramandha, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1202Literature Review: Ekstrak Daun Pepaya Sebagai Biopestisida Dalam Mengendalikan Hama Ulat Grayak (Spodoptera litura F.) Pada Berbagai Tanaman 2025-12-19T15:51:23+00:00Novitasari Rahmadhanifitri_uin@radenfatah.ac.idFitrifitri_uin@radenfatah.ac.id<p>Biopestisida atau pestisida nabati merupakan alternatif solusi dalam pengendalian hama dan telah terbukti efektif serta bersifat lebih aman dan ramah lingkungan. Daun Pepaya (Carica papaya L.) adalah salah satu tanaman yang berpotensi dijadikan sebagai pestisida nabati karena terbukti mengandung berbagai senyawa aktif, seperti alkaloid, flavonoid, terpenoid, saponin, triterpenoid, tanin, serta mengandung enzim papain yang dapat membunuh organisme pengganggu seperti kutu, tungau, rayap, dan ulat. Ulat grayak (Spodoptera litura F.) merupakan hama yang banyak ditemukan di berbagai kawasan dunia dan sering menimbulkan kerusakan serius pada tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana ekstrak daun pepaya dapat digunakan sebagai biopestisida dalam mengatasi serangan ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada berbagai tanaman. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode studi pustaka dari database Science and Technology Index (SINTA), Google Schoolar, serta Directory of Open Access Journals (DOAJ), dengan periode publikasi antara tahun 2015 sampai 2025. Artikel dipilih berdasarkan kata kunci seperti “pestisida”, “biopestisida”, “ekstrak pepaya”, dan “Spodoptera sp.”. Berdasarkan hasil studi, ekstrak daun pepaya terbukti memiliki potensi sebagai biopestisida alami yang efektif dalam mengendalikan ulat grayak pada tanaman hortikultura seperti tomat, cabai, jagung, kangkung, dan bayam merah. Penggunaan dengan konsentrasi minimal 20% telah terbukti memberikan hasil yang optimal dalam memperkuat pertumbuhan dan ketahanan tanaman terhadap gangguan organisme pengganggu tanaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Novitasari Rahmadhani, Fitrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1209Efektivitas Nutrisi AB Mix pada Tanaman Kangkung (Ipomoea aquatic) dengan Metode Hidroponik DFT (Deep Flow Technique) 2025-12-22T02:37:45+00:00Quratul Ainirestifevria@fmipa.unp.ac.idResti Fevriarestifevria@fmipa.unp.ac.id<p>Kangkung (Ipomoea aquatica) merupakan suatu jenis sayuran yang ditanam di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis seberapa efektif ketentuan nutrisi campuran AB dalam pertumbuhan tanaman akuatik dengan metode (Deep Flo Technique) (DFT) terhadap pertumbuhan tanaman kangkung (Ipomoea qquatica) di Alfi Hidroponik Padang. Kegiatan Dilakukan selama satu bulan, dari januari-februari 2025. Data yang diperoleh secara kuantitatif dan deskriptif dianalisis dan disajikan dalam bentuk diagram pertumbuhan. Metode yang digunakan adalah observasi langsung, wawancara, pencatatan data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, lebar daun, dan jumlah daun), serta dokumentasi. Hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa tanaman mengalami suatu peningkatan pertumbuhan selama 21 hari. Tanaman tertinggi mencapai 50 cm, jumlah daun terbanyak sebanyak 21 helai, dan lebar daun mencapai lebih dari 3 cm. Teknik Deep Flow Technique (DFT) mampu menyediakan nutrisi dan oksigen secara stabil, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mempercepat pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem DFT (Deep Flow Technique) dapat dijadikan sebagai alternatif untuk budidaya sayuran yang dapat menjadi pendekatan yang efektif untuk mendukung dan meningkatkan pertanian berkelanjutan di daerah perkotaan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Quratul Aini, Resti Fevriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1225Identifikasi Sarcoptes scabiei Pada Pasien Kucing di UPTD Pusat Kesehatan Hewan Dan Inseminasi Buatan Kota Pariaman2025-12-22T04:51:03+00:00Zulfadilah Zulfadilahfadilahzul17@gmail.comElsa Yuniartifadilahzul17@gmail.comDefsi Betrisnafadilahzul17@gmail.com<p>Dalam proses pemeliharaan hewan banyak hal yang perlu diperhatikan, khususnya kondisi kesehatan. Kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei. S. scabiei adalah serangga berukuran kecil yang dapat hidup dan berkembang biak di dalam kulit dan menyebar ke bagian tubuh lainnya. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui identifikasi kasus scabies pada hewan peliharaan berupa kucing yang ada di UPTD Puskeswan Kota Pariaman serta dapat mengetahui gejala klinis, pemeriksaan dan pengobatan yang dapat diberikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunkan metode purposive sampling. Hasil dari identifikasi 10 sampel kucing yang ada di UPT Puskeswan Kota Pariaman, keseluruhnya positif terinfeksi tungau Sarcoptes scabiei, sehingga diberikan pengobatan dan penanganan dengan pemberian obat ivermectin yang bekerja membunuh dan menghambat siklus hidup Sarcoptes scabiei, pengobatan ini dilakukan pengontrolan dalam rentang waktu 2 minggu.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Zulfadilah Zulfadilah, Elsa Yuniarti, Defsi Betrisnahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1242Analisis Penyebaran Rabies Pada Hewan Penyebar Rabies Di Balai Karantina Hewan, Ikan, Dan Tumbuhan Sumatera Barat2025-12-22T07:46:54+00:00Delon Agmelindodelonajha@gmail.comSandi Fransisco Pratamadelonajha@gmail.com<p>Rabies merupakan penyakit zoonosis yang mematikan dan m asih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Provinsi Sumatera Barat. Tingginya mobilitas hewan dan lemahnya pengawasan lalu lintas biologis antarwilayah menyebabkan potensi penyebaran rabies dan penyakit lainnya tetap tinggi. Untuk mengatasi hal tersebut, sistem karantina hewan, ikan, dan tumbuhan (HIT) menjadi instrumen penting dalam pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit lintas batas wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi isu-isu pokok terkait rabies di Sumatera Barat serta mengevaluasi peran dan efektivitas sistem karantina dalam mencegah penyebaran penyakit dan melindungi keanekaragaman hayati lokal. Pendekatan penelitian ini menggunakan studi literatur terhadap peraturan perundang-undangan (UU No. 21 Tahun 2019), laporan instansi terkait seperti Dinas Peternakan dan Balai Karantina Padang, serta data sekunder dari WHO dan FAO. Analisis dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan memetakan permasalahan, kebijakan, serta implementasi teknis karantina dan pengendalian rabies di tingkat daerah. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun telah dilakukan program vaksinasi rabies dan pengawasan karantina, tantangan masih ditemukan dalam bentuk minimnya infrastruktur, keterbatasan SDM, dan kurangnya kesadaran masyarakat. Sistem karantina memiliki peran strategis dalam menekan penyebaran rabies, penyakit ikan, serta hama tanaman, namun memerlukan penguatan teknologi dan koordinasi antarinstansi agar lebih optimal. Dengan demikian, penguatan karantina HIT di Sumatera Barat bukan hanya penting bagi kesehatan manusia dan hewan, tetapi juga dalam menjaga ketahanan pangan dan lingkungan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Delon Agmelindo, Sandi Fransisco Pratamahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1259Etnobotani Tradisi Mendem Ari-ari Pada Masyarakat Sunda Di Kelurahan Jelambar, Kota Jakarta Barat 2025-12-22T09:34:26+00:00Haniyah Savita Zuhrihaniyah.savita@gmail.comNur Mala Azizahaniyah.savita@gmail.comPriyanti Priyantihaniyah.savita@gmail.comArdian Khairiahhaniyah.savita@gmail.com<p>Modernisasi di wilayah urban menyebabkan banyak tradisi lokal mulai ditinggalkan, termasuk tradisi mendem ari-ari dalam Masyarakat Sunda. Tradisi ini merupakan proses pasca kelahiran yang melibatkan penguburan ari-ari bayi bersama bahan simbolik, termasuk tumbuhan yang diyakini memiliki nilai spiritual dan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji pemanfaatan tumbuhan dalam tradisi mendem ari-ari di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui kuesioner terhadap 10 responden berusia 20—65 tahun dan wawancara semi terstruktur 2 informan kunci. Hasil menunjukkan terdapat 13 spesies tanaman dari 10 famili yang digunakan, di antaranya Asam jawa (Tamarindus indica), Pepaya (Carica papaya), Jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), Mawar putih (Rosa alba), Mawar merah (Rosa hybrida), Melati (Jasminum sambac), Kenanga (Cananga odorata), Kantil (Michelia champaca), Sedap malam (Polianthes tuberosa), Kembang telon (Clitoria ternatea), Bawang merah (Allium cepa), Bawang putih (Allium sativum), dan Kelapa (Cocos nucifera). Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan adalah bunga (54%), yang melambangkan kesucian, perlindungan, dan harapan. Tradisi mendem ari-ari masih bertahan di lingkungan urban dan mencerminkan kearifan lokal yang penting untuk diidentifikasi dan dilestarikan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Haniyah Savita Zuhri, Nur Mala Aziza, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1276STUDI ETNOBOTANI TANAMAN OBAT DI GG. SUDIRJA, SUKAMENAK, MARGAHAYU, BANDUNG 2025-12-23T14:23:02+00:00Andika Firza Pramanaandikafrzz12@gmail.comArdelia Azhariandikafrzz12@gmail.comPriyanti Priyantiandikafrzz12@gmail.comArdian Khairiahandikafrzz12@gmail.com<p>Masyarakat Gg. Sudirja, Desa Sukamenak, Kabupaten Bandung, memiliki tradisi pemanfaatan tanaman obat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari kearifan lokal hasil interaksi dengan lingkungan sekitar. Praktik ini berperan dalam menjaga kesehatan secara alami sekaligus memperkuat identitas budaya dan menunjukkan adaptasi ekologis yang berkelanjutan. Namun, modernisasi dan perubahan gaya hidup mengancam keberlanjutannya karena minimnya dokumentasi. Studi ini bertujuan mendokumentasikan penggunaan tanaman obat di wilayah tersebut sebagai upaya pelestarian pengetahuan tradisional dan biodiversitas lokal. Penelitian dilakukan pada April 2025 dengan pendekatan kualitatif menggunakan metode snowball sampling, melibatkan 41 responden berusia di atas 30 tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur langsung di lapangan. Hasil menunjukkan dominasi famili Zingiberaceae, dengan bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan berupa rimpang dan daun. Tanaman umumnya dibudidayakan di pekarangan rumah, dan metode pengolahan yang paling sering digunakan adalah perebusan. Seluruh spesies memiliki nilai Fidelity Level (FL) sebesar 100%, mencerminkan konsistensi penggunaannya untuk indikasi tertentu, sementara nilai Use Value (UV) tertinggi ditemukan pada Vernonia amygdalina, Kaempferia galanga, dan Curcuma longa. Preferensi penggunaan lebih tinggi pada kalangan usia lanjut, mengindikasikan potensi erosi pengetahuan tanpa upaya dokumentasi dan transfer antargenerasi. Hasil studi ini menegaskan pentingnya pelestarian pengetahuan etnobotani sebagai bagian dari konservasi hayati dan pengembangan inovasi pengobatan berbasis tanaman lokal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Andika Firza Pramana, Ardelia Azhari, Priyanti Priyanti, a Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1139Analisis Efektivitas Sterilisasi Dengan Metode Panas Kering dan Panas Basah2025-12-15T08:57:10+00:00Annisa Nurhalizasitisoleha@radenfatah.ac.idLutfia Nurazizah Ferliantisitisoleha@radenfatah.ac.idRidhiyyah Nursyifasitisoleha@radenfatah.ac.idOkta Riyasitisoleha@radenfatah.ac.idUlfa Zahirasitisoleha@radenfatah.ac.idRiska Rahimisitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Sterilisasi merupakan proses penting dalam mikrobiologi pangan untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme yang tidak diinginkan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas berbagai metode sterilisasi. Metode yang digunakan yaitu dengan metode sterilisasi panas kering (dry heat sterilization) dan sterilisasi panas basah (moist heat sterilization). Efektivitas metode sterilisasi di konfirmasi dengan melihat pertumbuhan koloni mikroorganisme kontaminan pada lempeng agar menggunakan teknik pour plate. Hasil dari studi ini ditemukan bahwa sampel yang di sterilisasi dengan metode panas basah pada media NA (Nutrient Agar) ditemukan pertumbuhan bakteri sebanyak 3 koloni bakteri pada cawan pertama dan 4 koloni bakteri pada cawan kedua. Pada media PDA tidak terdapat pertumbuhan mikroorganisme dari sampel yang di sterilisasi dengan metode panas basah. Sedangkan pada NA (Nutrient Agar) dan PDA (Potato Dextrose Agar) yang di inokulasikan dengan sampel dari proses sterilisasi panas kering tidak terdapat pertumbuhan mikroorganisme. Metode sterilisasi panas kering lebih efektif digunakan dari pada sterilisasi panas basah dikarenakan pada sterilisasi panas kering tidak ditemukan tumbuhkan bakteri sedangkan pada sterilisasi panas basah di media NA (Nutrient Agar) ditemukan tumbuhnya bakteri.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisa Nurhaliza, Lutfia Nurazizah Ferlianti, Ridhiyyah Nursyifa, Okta Riya, Ulfa Zahira, Riska Rahimi, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1158Studi Literatur: Mekanisme dan Peran Inflamasipada Jerawat Bakteri (Acne Vulgaris) 2025-12-17T06:38:30+00:00Anas Tasyatasyazahraid@gmail.comDelia Yusfaranitasyazahraid@gmail.com<p>Jerawat bakteri atau acne vulgaris. sering kali disebabkan oleh infeksi bakteri Propionibacterium acnes (P. Acnes) atau Cutibacterium acnes (C. Acnes). Beberapa faktor lain seperti produksi banyak minyak, pori tersumbat, penumpukan sel kulit mati, pengunaan produk kecantikan dengan tidak tepat, dan kurangnya menjaga kebersihan kulit sehingga menyebabkan reaksi gatal. Menggaruk ataupun memecahkan jerawat dapat merusak lapisan kulit, membuat mikrolesi hingga parut, menyebabkan bakteri dan mikroorganisme masuk kedalam jaringan kulit melalui lesi atau memakan sebum. Tubuh akan memberikan respon imun yang menyebabkan peradangan. Respon imun berupamunculnya jerawat bernanah danterasanyeri. Studi literaturini bertujuan untuk mengetahui mekanisme dan peran mediator inflamasi seperti sitokin, makrofag, sel mast, dan sel-sel lain. Mengunakan metode dari beberapa kajian literatur dengan beberapa referensi yang relevan, sehingga memberikan wawasan mengenai apa saja komponen imun yang berperan untuk melawan bakteri.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anas Tasya, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1176Deteksi Bakteri Salmonella sp. Dan Escherichia coli Pada Daging Ayam Segar di Pasar Tradisional, Kota Palembang 2025-12-18T10:24:49+00:00Dinda Reharirinovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idArdila Dwiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Daging ayam merupakan protein hewani tinggi yang sering disantap oleh orang masyarakat. kandungan protein tinggi membuatnya rentan terhadap pembusukan disebabkan pertumbuhan mikroorganisme dari lingkungan. Beberapa jenis bakteri berbahaya yang sering dijadikan sebagai kontaminan adalah Escherichia coli dan Salmonella sp. jenis Penelitian ini deskriptif kualitatif, di mana metode yang digunakan untuk mendeteksi bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp. melalui media Eosin Methylen Blue Agar dan Salmonella Shigella Agar. Tujuan penelitian adalah untuk mengisolasi dan mendeteksi keberadaan Escherichia coli dan Salmonella sp. pada daging ayam segar yang dijual di Pasar tradisional kota Palembang. Pelaksanaan penelitian dilakukan Pada bulan April 2025 di Laboratorium mikrobiologi, UIN Raden Fatah Palembang. Sepuluh sampel diambil dari kedua pasar, dengan masing-masing lima sampel dari setiap lokasi. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa semua sampel dari Pasar Palimo (100%) terkontaminasi Salmonella sp., sedangkan di Pasar Kebun Bunga, prevalensinya mencapai 60% (3 dari 5 sampel). Escherichia coli ditemukan pada 3 sampel di Pasar Kebun Bunga. Perbedaan dalam tingkat kontaminasi ini kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi fisik pasar, sanitasi, kualitas air dan pasca penyembelihan </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dinda Reha, Ardila Dwi, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1192Integrasi Konservasi Mangrove dan Reklamasi Pantai :Kajian Literatur terhadap Pendekatan Berkelanjutan 2025-12-18T16:56:50+00:00Putri Febrianititonurseha_uin@radenfatah.ac.idMuhammad Hafidzintitonurseha_uin@radenfatah.ac.idSahrultitonurseha_uin@radenfatah.ac.idTito Nursehatitonurseha_uin@radenfatah.ac.id<p>Keberadaan ekosistem mangrove yang sehat berfungsi penting sebagai pencegahan abrasi, menahan badai, dan menyaring pencemar kasar. Ekosistem mangrove memberikan manfaat penting sebagai tempat hidup yang menyediakan sumber makanan bagi beberapa spesies hewan laut. Reklamasi pantai merupakan salah satu strategi pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengatasi keterbatasan lahan, khususnya di wilayah pesisir kota-kota besar. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan berdasar informasi yang diperoleh dari berbagai jenis literatur dan sumber penelitian serta dokumen yang berkaitan dengan topik dan analisis penelitian. Hasil penelitian menunjukkan Hutan mangrove memiliki fungsi ekologis penting sebagai penahan erosi pantai dan abrasi, terutama di kawasan pesisir yang rentan. Rehabilitasi mangrove diperlukan untuk memulihkan ekosistem dan meningkatkan keanekaragaman hayati, dengan mempertimbangkan kondisi biofisik dan jenis spesies yang sesuai. Pemanfaatan lahan reklamasi diatur oleh hukum dan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan produktif, seperti tambak, wisata, dan produksi kerajinan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Putri Febriani, Muhammad Hafidzin, Sahrul, Tito Nursehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1216Pengujian Total Coliform Air Limbah Inlet IPAL di Laboratorium Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat Menggunakan Metode Most Probable Number (MPN) 2025-12-22T03:44:40+00:00Shella Anggraenishelaanggraeni10@gmail.comIrdawati Irdawatishelaanggraeni10@gmail.com<p>Pencemaran lingkungan akibat pembuangan air limbah yang belum memenuhi standar baku mutu merupakan salah satu isu penting dalam pengelolaan kualitas lingkungan. Air limbah yang tidak diolah dengan baik dapat mengandung mikroorganisme patogen, salah satunya adalah kelompok bakteri Total Coliform yang umum digunakan sebagai indikator pencemaran biologis. Kegiatan magang ini bertujuan untuk mempelajari metode pengujian Total Coliform pada air limbah menggunakan pendekatan Most Probable Number (MPN), serta menganalisis hasil uji dua sampel air limbah dari saluran inlet Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) laboratorium. Magang dilaksanakan di UPTD Laboratorium Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Barat. Metode MPN dipilih karena mampu mengestimasi jumlah bakteri berdasarkan reaksi fermentasi laktosa yang disertai pembentukan gas, serta cocok digunakan untuk sampel air yang tidak jernih. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jumlah Total Coliform pada sampel pertama (20 Januari 2025) adalah 110.000 MPN/100 mL, sementara pada sampel kedua (10 Februari 2025) menurun menjadi 930 MPN/100 mL. Meskipun terjadi penurunan yang signifikan, kedua nilai tersebut masih melebihi ambang batas baku mutu yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri LHK No. P.68 Tahun 2016 sebesar 3.000 MPN/100 mL. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses pengolahan limbah telah menunjukkan peningkatan, namun masih memerlukan optimalisasi, terutama pada tahap desinfeksi akhir. Kegiatan ini memberikan pemahaman langsung tentang teknik pengujian mikrobiologi air limbah serta pentingnya peran laboratorium lingkungan dalam pengawasan kualitas air secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Shella Anggraeni, Irdawati Irdawatihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1232Inventarisasi Varietas Tanaman Padi Sawah Di Kota Pariaman: Potensi Dan Tantangan Untuk Pertanian Berkelanjutan2025-12-22T05:36:00+00:00Annisya Putriannisyaputri261@gmail.comAzwir Anharannisyaputri261@gmail.com<p>Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama yang memiliki peran strategis dalam ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani. Salah satu kota di Sumatera Barat yang memiliki potensi agroklimat yang mendukung budidaya padi sawah adalah Kota Pariaman. Namun, Kota Pariaman menghadapi tantangan dalam pelestarian varietas lokal dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi varietas padi sawah yang dibudidayakan di empat kecamatan di Kota Pariaman, serta mengidentifikasi potensi dan tantangan dalam mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada Januari–Februari 2025 dengan pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara terhadap 10 petani dan 2 penyuluh, serta studi dokumen dari Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kota Pariaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas PB 42 dan Cisokan merupakan varietas unggul yang paling banyak dibudidayakan, didukung oleh kualitas beras dan ketahanan terhadap kondisi lingkungan. Beberapa varietas lokal juga masih dijumpai, namun dalam jumlah terbatas. Potensi keberagaman varietas ini dapat meningkatkan ketahanan dan produktivitas pertanian. Akan tetapi, tantangan seperti serangan hama, perubahan iklim, keterbatasan teknologi, dan rendahnya partisipasi generasi muda masih perlu diatasi. Oleh karena itu, pelestarian varietas lokal, adopsi varietas unggul baru, pelatihan petani, serta dukungan kelembagaan menjadi langkah penting dalam mewujudkan sistem pertanian padi yang berkelanjutan di Kota Pariaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisya Putri, Azwir Anharhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1250Pengaruh Faktor Lingkungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Cabai (Capsicum spp Kelompok Tani Lubuk Ramang) Di Dinas Pertanian BPP Koto Tangah,Sumatra Barat2025-12-22T08:31:18+00:00Frenky Dio Sandika ArigaFrenkydio12@gmail.comAbdul RazakFrenkydio12@gmail.com<p>Magang adalah salah satu elemen dalam kurikulum Program Studi Biologi di Universitas Negeri Padang yang bertujuan untuk memberikan pengalaman lapangan serta kemampuan menerapkan ilmu secara langsung. Kegiatan magang ini dilakukan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Koto Tangah, Kota Padang, dengan fokus pada dampak faktor lingkungan terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman cabai (Capsicum spp. ) di Kelompok Tani Lubuk Ramang. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui faktor lingkungan utama yang mempengaruhi pertumbuhan dan hasil panen, menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan dan produktivitas tanaman, serta memberikan saran untuk pengelolaan budidaya yang tepat. Metode yang digunakan meliputi observasi langsung dan pengukuran suhu udara, kelembaban relatif, intensitas cahaya, serta pH tanah, dan juga pengukuran tinggi tanaman serta jumlah daun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu (27,5–28°C), kelembaban (80–82%), intensitas cahaya (35. 000–37. 000 lux), dan pH tanah (6,4–6,5) berada dalam rentang yang ideal untuk pertumbuhan tanaman cabai. Selama periode tiga minggu, tinggi tanaman meningkat dari 12,5 cm menjadi 24,8 cm, dan jumlah daun dari 8 menjadi 18. Hasil ini menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di lokasi penelitian mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman cabai dengan baik.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Frenky Dio Sandika Ariga, Abdul Razakhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1267Peran Situ Gintung sebagai Upaya Pelestarian Avifauna di Kawasan Urban, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan 2025-12-23T05:53:20+00:00Muhammad Fazly Mawlamuhammadfazlymawla@gmail.comMuhammad Rafi Al-Gifarimuhammadfazlymawla@gmail.comArdian Khairiahmuhammadfazlymawla@gmail.comWalid Rumblatmuhammadfazlymawla@gmail.comDinda Rama Haribowomuhammadfazlymawla@gmail.com<p>Lingkungan urban seringkali menjadi habitat terfragmentasi bagi burung akibat polusi kebisingan dan berkurangnya ruang terbuka hijau. Burung memiliki peran penting sebagai bioindikator karena keberadaan dan kelimpahannya mencerminkan kondisi ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan peran ekologis Situ Gintung dalam lanskap urban berdasarkan keanekaragaman jenis burung serta mengelompokkan spesies berdasarkan tipe pakan utamanya di kawasan Situ Gintung, sebagai dasar untuk memahami struktur komunitas burung. Penelitian dilakukan dengan metode survei atau jelajah. Analisis data berdasarkan indeks dominansi dan keanekaragaman (H’), indeks dominansi Simpsons, dan indeks kemerataan (evennes). Jenis burung yang ditemukan dan teridentifikasi berjumlah 17 spesies dari 13 famili. Berdasarkan tipe pakan utama ditemukan tipe pakan frugivora (pemakan buah) merupakan pakan utama tertinggi, diikuti granivora (pemakan biji-bijian), dan tipe insektivora (pemakan serangga). Nilai indeks keanekaragaman (H’) sebesar 1,09 dikategorikan rendah. Nilai indeks dominansi Simpsons di kawasan Situ Gintung sebesar 0,10 dan indeks kemerataan sebesar 0,6 menunjukkan tidak adanya jenis burung yang mendominasi di kawasan Situ Gintung . Temuan ini meindikasikan kondisi kawasan Situ Gintung sebagai ruang hijau di wilayah urban tetap memberikan kontribusi ekologis dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan mendukung konservasi avifauna ditengah tekanan perubahan lingkungan, meskipun tingkat keanekaragaman avifauna yang relatif rendah tetap dapat mempertahankan struktur komunitas secara ekologis sebagai habitat burung.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Fazly Mawla, Muhammad Rafi Al-Gifari, Ardian Khairiah, Walid Rumblat, Dinda Rama Haribowohttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1284Pemanfaatan Beauveria bassiana Sebagai Bioinsektisida Alami Dalam Pengendalian Hama Pada Tanaman Jagung: Literature Review2025-12-27T23:15:08+00:00Mayanda Normanmayandanorman27@gmail.comLinda Advindamayandanorman27@gmail.com<p>Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu komoditas strategis dalam system pangan nasional terpenting di Indonesia. Produksi jagung sering kali mengalami penurunan akibat serangan hama seperti Spodoptera frugiperda (ulat grayak) dan Helicoverpa armigera (penggerek tongkol). Penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus telah menimbulkan berbagai permasalahan seperti resistensi hama, pencemaran lingkungan, dan dampak negatif terhadap organisme non-target. Oleh karena itu, penggunaan agens hayati seperti Beauveria bassiana menjadi alternatif yang berkelanjutan dalam pengendalian hama jagung. Beauveria bassiana merupakan cendawan entomopagoten yang memiliki kisaran inang relatif luas dan efektif terhadap berbagai jenis hama pada tanaman maupun dalam penyimpanan, serta mampu menyerang berbagai jenis serangga baik dalam tahapan larva maupun usia serangga dewasa. Salah satu tujuan dari keunggulan B. bassiana adalah bersifat ovisidal sehingga mampu menggagalkan penetasan telur serangga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kajian Literatur (Literature Review). Penggunaan B. bassiana menunjukkan efektivitas tinggi, sebagai bioinsektisida alami. Hasil telah menunjukkan bahwa B. bassiana mampu menginfeksi berbagai jenis hama jagung dengan tingkat mortalitas mencapai 70–100% dalam kondisi laboratorium dan lapangan. Aplikasi B. bassiana juga menunjukkan peningkatan efisiensi ekonomi dan ramah lingkungan dibandingkan dengan insektisida kimia.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Mayanda Norman, Linda Advindahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1130Pengaruh Konsentrasi Perendaman Ekstrak Bonggol Pisang dan Air Kelapa terhadap Pertumbuhan Kemangi (Ocimum basilicum L.)2025-12-15T07:23:35+00:00Hervira Sri Adeliabinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idPutri Qomariyyahbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idNur Alfi Amalia Sakinahbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idVira Azzahrabinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idBinar Azwar Anas Harfianbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.id<p>Tanaman kemangi (Ocimum basilicum L) merupakan jenis sayuran yang sangat dikenal di kalangan masyarakat indonesia. Pupuk organik memiliki peran yang sangat penting bagi tanaman karena tanah yang kaya akan nutrisi sangat diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan konsentrasi POC yang paling efektif dari bonggol pisang dan air kelapa untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman kemangi yang optimal. Jenis penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan metode yang digunakan adalah eksperimen dengan desain Rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial. Terdapat 5 perlakuan yang diuji dengan 5 ulangan yaitu K0 (Kontrol 100 ml), K1(Konsentrasi 5 ml), K2 (Konsentrasi 10 ml), K3 (Konsetrasi 15 ml), K4 (Konsentrasi 20 ml). Parameter yang diamati yaitu tanaman, jumlah daun, dan diameter daun. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi POC yang berasal dari limbah bonggol pisang dan air kelapa tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tinggi, jumlah daun dan lebar daun tanaman kemangi. Tidak terlihatan efek pada tinggi, jumlah daun dan lebar daun kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi pupuk yang kurang optimal, rendahnya kandungan unsur hara pada tanah, serta waktu aplikasi yang tidak sesuai dengan fase pertumbuhan tanaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hervira Sri Adelia, Putri Qomariyyah, Nur Alfi Amalia Sakinah, Vira Azzahra, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1146Pengaruh Variasi Suhu Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus 2025-12-15T09:39:40+00:00Aisya Tria Fitrianisitisoleha@radenfatah.ac.idAisyah Putri Azzahrasitisoleha@radenfatah.ac.idDesilva Yunussitisoleha@radenfatah.ac.idSangputri Pustika MSsitisoleha@radenfatah.ac.idDebyta Sahdilasitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Pertumbuhan bakteri dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, salah satunya adalah suhu. Suhu berperan penting dalam mengatur aktivitas metabolisme dan enzimatik yang menjadi dasar pertumbuhan sel mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus serta menentukan suhu optimum untuk pertumbuhannya. Penelitian dilakukan secara eksperimental di Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang pada bulan Maret 2025. Kultur S. aureus ditanam pada media Nutrient Broth (NB) dan Nutrient Agar (NA), kemudian diinkubasi selama 24 jam pada tiga variasi suhu 4°C, 25°C, dan 37°C. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tidak terdapat pertumbuhan koloni pada suhu 4°C. Terdapat pertumbuhan bakteri pada suhu 25°C dan 37°C. Pada suhu 25°C jumlah sel bakteri sebanyak 1,5 x 105 CFU/ml. Dan pada suhu 37°C jumlah sel bakteri sebanyak 11 x 105 CFU/ml. Suhu rendah menghambat aktivitas enzim dan metabolisme sel, sedangkan suhu mendekati suhu 37°C memberikan kondisi optimal bagi S. aureus, yang tergolong bakteri mesofilik. Penyimpanan pada suhu rendah terbukti efektif dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen. Suhu tinggi (dalam batas optimal) mempercepat pertumbuhan bakteri, sedangkan suhu rendah menghambatnya.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Aisya Tria Fitriani, Aisyah Putri Azzahra, Desilva Yunus, Sangputri Pustika MS, Debyta Sahdila, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1167Pengukuran Sampel Air Isi Ulang Menggunakan Analisa TDS dan pH 2025-12-18T07:51:54+00:00Anjelina Agresia Saputrifitri_uin@radenfatah.ac.idFitrifitri_uin@radenfatah.ac.id<p>Air merupakan senyawa kimia yang terdiri dari satu atom oksigen yang berikatan dengan dua atom hidrogen. Karena sifatnya yang mudah larut, air sangat rentan tercemar. Di wilayah Seberang Ulu dan Ilir Barat, banyak masyarakat menggunakan air minum isi ulang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mutu air isi ulang dengan mengukur nilai TDS dan pH. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan melibatkan sampel air sebanyak 100 ml. Hasil menunjukkan bahwa air yang ideal untuk dikonsumsi sebaiknya memiliki pH netral (antara 6,5 hingga 8,5). Selain itu, juga diamati nilai COD sebagai indikator kebutuhan oksigen untuk mengurai senyawa organik terlarut dalam air.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anjelina Agresia Saputri, Fitrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1183Pengaruh Pemberian Hormon Giberelin Alami Dari Akar Enceng Gondok (Eichhornia crassipes) Dan Giberelin Sintetik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kangkung (Ipomoea spp.) 2025-12-18T14:01:15+00:00Ira Dwi Lestariiradl.bika@gmail.comTri Handiniiradl.bika@gmail.comBinar Azwar Anas Harfianiradl.bika@gmail.com<p>Giberelin (GA₃) merupakan salah satu jenis hormon giberelin yang paling aktif dan paling banyak digunakan dalam dunia pertanian dan hortikultura. GA₃ berperan penting dalam mengatur berbagai proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman, seperti pemanjangan batang, pembentukan bunga dan buah, serta pemecahan dormansi benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian hormon giberelin alami yang diekstrak dari akar enceng gondok (Eichhornia crassipes) dan giberelin sintetik terhadap pertumbuhan tanaman kangkung (Ipomoea spp.). Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan lima ulangan, sehingga terdapat total 25 unit percobaan. Perlakuan terdiri atas: P0 (kontrol, tanpa hormon), P1 (GA sintetik 100 ppm), P2 (GA Sintetik 200 ppm), P3 (GA Alami 100 ppm), dan P4 (GA alami 200 ppm). Hormon diberikan secara penyiraman setiap satu hari sekali selama tiga minggu. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar dan analisis data dilakukan dengan menggunakan ANOVA. dari hasil pengamatan didapatkan hasil bahwasanya (P2) dengan hormon giberelin sintetik yang lebih unggul dibandingkan dengan media kontrol, hal ini menunjukan bahwa GA3 berperan dalam pertumbuhan tanaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ira Dwi Lestari, Tri Handini, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1200Karakterisasi Kompos Berbasis Limbah Sarang Tyto alba: Studi Kasus di Kelurahan Sukajadi Timur, Talang Kelapa, Banyuasin 2025-12-19T15:39:30+00:00Nopriandiandinopri98@gmail.com Apreza Reynaldi Prayogaandinopri98@gmail.com Ledis Heru Saryono Putroandinopri98@gmail.com<p>Pemanfaatan limbah organik sebagai kompos merupakan solusi strategis untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan. Penelitian ini mengkaji karakteristikkompos yang dihasilkan dari limbah sarang burung hantu (Tyto alba), yang terdiri atas bulu, tulang hasil regurgitasi, kotoran, dan material alami lainnya. Penelitian dilakukan di Kelurahan Sukajadi Timur, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, dan analisis laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Ekologi, Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang pada Maret 2025. Parameter yang dianalisis meliputi kadar air, karbon organik (C organik), bahan organik, pH, potensial oksidasi reduksi (ORP), total zat terlarut (TDS), dan konduktivitas listrik (EC). Metode spektrofotometri UV-Vis digunakan untuk mengukur kadar C organik. Hasil menunjukkan kadar air berada pada kisaran 12,52 15,30%, C-organik 5,48–6,21%, bahan organik 9,45–13,15%, pH netral (6,72–6,99), ORP stabil (21–23 mV), TDS antara 4270 5160 ppm, dan EC relatif tinggi (9,33–14,30 mS/cm). Secara umum, parameter pH, ORP, dan TDS berada dalam kisaran agronomis yang mendukung aktivitas mikroba tanah. Namun, berdasarkan standar SNI 19-7030-2004, seluruh sampel belum memenuhi syarat minimal kadar C organik (≥9,80%) dan bahan organik (≥27%), namun kadar air telah terpenuhi (<50%). Dengan demikian, meskipun kompos dari limbah sarang Tyto alba menunjukkan potensi dalam memperbaiki sifat kimia tanah, diperlukan pengayaan material organik atau pencampuran dengan bahan lain agar layak sebagai kompos berkualitas tinggi. Penelitian ini membuka peluang pemanfaatan sumber daya lokal yang belum banyak dieksplorasi, namun juga menekankan pentingnya validasi mutu terhadap standar nasional untuk menjamin efektivitas dan keamanan aplikatif di lahan pertanian.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nopriandi, Apreza Reynaldi Prayoga, Ledis Heru Saryono Putrohttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1207Pengaruh Pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria ( PGPR) Akar Rumput Ilalang (Imperata cylindrica) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.)2025-12-20T13:05:42+00:00Abil Pratama Putrapratamaputraabil@gmail.comLinda Advindapratamaputraabil@gmail.com<p>Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.) merupakan sayuran daun yang memiliki siklus tanam pendek dan bernilai ekonomi tinggi. Namun, praktik budidaya yang intensif sering kali didominasi pupuk dan insektisida kimia yang dapat merusak kualitas tanah dan lingkungan. Salah satu metode inovatif yang berkembang adalah penerapan agen hayati seperti Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Salah satu sumber PGPR yang potensial namun belum banyak dimanfaatkan adalah dari akar rumput Ilalang (Imperata cylindrica). Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh pemberian PGPR terhadap pertumbuhan tanaman Pakcoy. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif. Pemberian PGPR dilakukan pada tanaman berumur 1 minggu. Pengambilan data dilakukan pada saat tanaman berumur 7, 14, 21, dan 28 (HST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan yang paling baik pada konsentrasi 20% dengan kenaikan tinggi tanaman 24.4 cm dengan kenaikan rata-rata 3,5 cm setiap minggunya, jumlah daun 7 helai, dan berat basah sebesar 20 gram.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Abil Pratama Putra, Linda Advindahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1223Analisis Kesiapan Fasilitas Laboratorium Kimia dalam Menunjang Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Lingkungan Praktikum 2025-12-22T04:37:55+00:00Arif Fikiansahfitriolvia911@gmail.comNadiatul Khairiahfitriolvia911@gmail.comNur Azizah Jamilfitriolvia911@gmail.comRahmi Maharanifitriolvia911@gmail.comYudha Ikhwal Maryantofitriolvia911@gmail.comFitri Olvia Rahmifitriolvia911@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesiapan fasilitas laboratorium kimia dalam mendukung Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di lingkungan praktikum. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui angket kepada kepala laboratorium, mahasiswa, dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar laboratorium kimia di institusi pendidikan belum sepenuhnya memenuhi standar K3, terutama dalam hal fasilitas seperti alat pelindung diri (APD), ventilasi, dan alat pemadam kebakaran. Selain itu, pemahaman pengguna laboratorium tentang prosedur K3 masih perlu ditingkatkan. Meskipun beberapa laboratorium telah menerapkan prosedur darurat dan penanganan limbah dengan baik, masih ditemukan kekurangan dalam infrastruktur dan komunikasi keselamatan. Studi ini menyimpulkan bahwa evaluasi berkala dan perbaikan menyeluruh diperlukan untuk menciptakan lingkungan praktikum yang aman dan mendukung pembelajaran.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Arif Fikiansah, Nadiatul Khairiah, Nur Azizah Jamil, Rahmi Maharani, Yudha Ikhwal Maryanto, Fitri Olvia Rahmihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1240Analisis Kandungan Aflatoksin Pada Kunyit Giling Dan Kunyit Bubuk Di Pasar Lubuk Buaya Kota Padang Menggunakan Metode HPLC2025-12-22T07:37:31+00:00Azzahra Zulia Putri13azzahrazuliaputri@gmail.com<p>Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakan tanaman rimpang yang banyak digunakan sebagai bumbu masakan dan bahan baku obat tradisional. Dalam bentuk giling atau bubuk, kunyit rentan terkontaminasi oleh jamur xerofilik, terutama jika penanganan pascapanen, pengeringan, dan penyimpanan tidak higienis. Jamur seperti Aspergillus flavus dan A. parasiticus mampu memproduksi aflatoksin, yaitu senyawa toksik dan karsinogenik yang membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan aflatoksin dalam kunyit bubuk dan kunyit giling yang dijual di Pasar Lubuk Buaya, Kota Padang, menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Sampel dianalisis di Laboratorium Dinas Pangan Provinsi Sumatera Barat dengan menggunakan kolom imunoselektif (Immunoaffinity Column) untuk pemurnian. Berdasarkan hasil analisis kromatogram, terdeteksi tiga jenis aflatoksin dalam sampel kunyit, yaitu G2 (0,116 ppb), B2 (0,382 ppb), dan B1 (5,714 ppb), sedangkan aflatoksin G1 tidak terdeteksi. Konsentrasi aflatoksin B1 melebihi ambang batas maksimum yang ditetapkan oleh BPOM RI (5 ppb), meskipun total aflatoksin masih berada di bawah batas maksimum 20 ppb. Temuan ini menunjukkan adanya kontaminasi aflatoksin dalam kunyit bubuk akibat penanganan yang kurang higienis, serta menegaskan pentingnya pengawasan keamanan pangan dan pengendalian kualitas produk rempah di pasar tradisional.<br><br></p> <p> </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Azzahra Zulia Putrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1257Teknik Pembibitan Jengkol (Archidendron pauciflorum) Berkualitas 853 di UPTD BSPTH Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat2025-12-22T09:15:15+00:00Lega Pesona Kasihlegapesona05@gmail.comAzwir Anharlegapesona05@gmail.comJefri Chandralegapesona05@gmail.com<p>Degradasi hutan dan lahan menjadi isu lingkungan yang signifikan di Indonesia dan berdampak pada turunnya produktivitas lahan serta hilangnya keanekaragaman hayati. Salah satu strategi pemulihan adalah rehabilitasi berbasis spesies lokal yang adaptif dan bernilai ekonomi, seperti jengkol (Archidendron pauciflorum). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi teknik pembibitan jengkol yang diterapkan di UPTD Balai Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan (BSPTH), Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan observasi partisipatif, melalui pengamatan langsung terhadap proses pembibitan mulai dari seleksi benih hingga pemeliharaan bibit dan pendistribusian. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit jengkol yang disemai menggunakan benih tua dan media tanam campuran tanah topsoil dan sekam bakar (3:1) mampu tumbuh dengan baik, dengan rata-rata tinggi mencapai 30 – 40 cm, jumlah daun 15 – 18 helai, dan persentase kelulushidupan 90 – 100% dalam waktu tiga bulan. Teknik pemeliharaan yang disesuaikan dengan kondisi musim serta penerapan prinsip sanitasi terbukti efektif dalam menekan serangan patogen. Namun, masih ditemukan kendala berupa infeksi jamur pada tahap awal pertumbuhan. Secara keseluruhan, teknik pembibitan ini dapat dijadikan model praktik baik (best practice) yang layak direplikasi dalam mendukung keberhasilan program rehabilitasi hutan dan lahan secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Lega Pesona Kasih, Azwir Anhar, Jefri Chandrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1274Isolasi Dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat Dari Yoghurt Komersial ‘EV’ 2025-12-23T14:05:25+00:00Arva Soraya Putriarvaaasp01@gmail.comAulia Lutfi Alawiyah Alawiyaharvaaasp01@gmail.comNaqiya Nurul Izzaharvaaasp01@gmail.comMegga Ratnasari Pikoliarvaaasp01@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri asam laktat (BAL) dari yoghurt komersial merek EV. BAL berperan penting dalam fermentasi, menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH dan berfungsi sebagai probiotik. Isolasi dilakukan dengan metode spread plate pada media MRS agar, dilanjutkan karakterisasi koloni secara makroskopis dan mikroskopis serta pewarnaan sederhana. Hasil menunjukkan rata-rata nilai pH yoghurt dari 3 batch sampel sebesar 3,76 belum memenuhi standar SNI. Jumlah koloni BAL yang diperoleh hanya 5 × 10⁴ CFU/mL, di bawah standar minimum 10⁷ CFU/mL. Morfologi menunjukkan keberadaan Streptococcus thermophilus sebagai BAL dominan yang terdapat pada yoghurt komersial EV. Meskipun produk mengklaim mengandung starter Bifidobacterium, bakteri tersebut tidak ditemukan secara morfologis. Penelitian ini menunjukkan pentingnya verifikasi menggunakan metode molekuler untuk mengidentifikasi BAL secara akurat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Arva Soraya Putri, Aulia Lutfi Alawiyah Alawiyah, Naqiya Nurul Izzah, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1137Potensi Limbah Kulit Nanas Sebagai Pupuk Organik Cair2025-12-15T08:44:23+00:00Putri Purnama SariRainaratnamaya@gmail.comRaina Ratna MayaRainaratnamaya@gmail.comFeronyca FeronycaRainaratnamaya@gmail.com<p>Limbah kulit nanas memiliki potensi besar sebagai pupuk organik cair (POC) yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, terutama bayam (Amaranthus sp). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian POC dari limbah kulit nanas terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun bayam. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan konsentrasi POC (0, 2, 4, 6, dan 8 ml/L air) dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian POC berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun. Perlakuan dengan konsentrasi 8 ml/L menghasilkan pertumbuhan tertinggi dan jumlah daun terbanyak. POC dari limbah kulit nanas kaya akan unsur hara makro seperti nitrogen, fosfor, dan kalium yang mendukung pertumbuhan vegetatif tanaman. Penerapan POC tidak hanya meningkatkan hasil pertanian tetapi juga lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. Hasil ini menunjukkan bahwa limbah kulit nanas dapat dimanfaatkan secara optimal dalam pertanian berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Putri Purnama Sari, Raina Ratna Maya, Feronyca Feronycahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1156Perlakuan Perendaman Sayuran Pada Air Cuka 5% dan Air Garam 0,9% Terhadap Jumlah Total Koloni Mikroba dan E. coli 2025-12-17T06:06:01+00:00Aisyah Putri Az Zahraririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idPutri Naviatul Janna ririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunarti ririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Kontaminasi mikroba, khususnya Escherichia coli (E. coli), pada sayuran segar seperti selada (Lactuca sativa) dan bayam (Spinacia oleracea) menjadi ancaman serius terhadap keamanan pangan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas perendaman sayuran dalam larutan cuka 5% (asam asetat) dan larutan garam 0,9% (natrium klorida) dalam mengurangi jumlah koloni E. coli. Penelitian ini dilaksanakan pada April 2025 di Laboratorium Terpadu UIN Raden Fatah Palembang. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan yaitu uji deteksi E. coli dengan menggunakan media Eosin Methylene Blue (EMB) agar dan Nutrient Agar (NA) untuk uji total koloni bakteri. Hasil menunjukkan bahwa semua sampel terkontaminasi E. coli, dengan koloni pada media EMB agar menunjukkan karakteristik hijau metalik. Perendaman dengan larutan cuka 5% dan garam efektif mengurangi jumlah koloni E. coli, meskipun tidak menghilangkan kontaminasi sepenuhnya. Faktor seperti permukaan daun yang berpori, potensi kontaminasi silang selama penanganan, dan sumber sayuran yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama. Temuan ini menunjukkan perlunya <br />sanitasi yang lebih ketat dan optimasi kondisi perendaman untuk memaksimalkan pengurangan mikroba tanpa mengorbankan kualitas sensorik sayuran. Kombinasi larutan cuka dan garam berpotensi menjadi solusi praktis dan ekonomis untuk meningkatkan keamanan pangan di tingkat <br />rumah tangga dan industri. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Aisyah Putri Az Zahra, Putri Naviatul Janna , Riri Novita Sunarti https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1174Eksplorasi Dan Inventarisasi Jamur Pelapuk Kayu di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Kemampo, Banyuasin, Sumatera selatan, Indonesia 2025-12-18T10:11:20+00:00Dhea Amandariikeapriani_uin@radenfatah.ac.idAnisa Permata Sariikeapriani_uin@radenfatah.ac.idIke Aprianiikeapriani_uin@radenfatah.ac.id<p>Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Kemampo di Sumatera Selatan dikenal sebagai wilayah dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, meliputi berbagai jenis tumbuhan obat, satwa liar, dan mikroorganisme seperti jamur. Potensi ekologis ini menjadikan kawasan tersebut penting untuk kegiatan eksplorasi dan inventarisasi hayati. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginventarisasi jenis-jenis jamur pelapuk kayu yang terdapat di KHDTK Kemampo. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksplorasi di kawasan hutan lindung Kemampo, Sumatera Selatan. Pengambilan sampel dilakukan secara manual dengan mengikuti jalur eksplorasi berdasarkan peta kawasan, dimulai dari jalur utama di sekitar pohon ulin hingga ke batas shelter sengon. Sampel jamur yang ditemukan dicatat, didokumentasikan, dan diklasifikasikan berdasarkan morfologi makroskopis yang mencakup bentuk tudung, warna, tekstur permukaan, serta struktur bagian bawah tudung. Hasil eksplorasi menunjukkan adanya empat jenis jamur pelapuk kayu yang masing-masing diberi kode KMP 1, KMP 2, KMP 3 dan KMP 4. Penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai keberadaan jamur kayu di KHDTK Kemampo dan dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan serta mendukung pengelolaan sumber daya hayati secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dhea Amandari, Anisa Permata Sari, Ike Aprianihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1190Uji Keberadaan Escherichia coli dan Salmonella sp. pada Pempek di Pasar Lemabang Kota Palembang2025-12-18T16:41:49+00:00M Rafli Ramadhanririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idMuhammad Alif Saputraririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Pempek merupakan makanan khas Palembang yang banyak dikonsumsi masyarakat, namun keamanannya masih perlu dikaji karena potensi kontaminasi mikrobiologis, terutama oleh Escherichia coli dan Salmonella sp. yang dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan (foodborne illness). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan E. coli dan Salmonella pada pempek yang dijual di Pasar Lemabang, Kota Palembang, sebagai upaya evaluasi kualitas higienitas pangan tradisional. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode eksperimen laboratorium untuk mendeteksi keberadaan Escherichia coli dan Salmonella sp. pada sampel menggunakan media selektif EMBA dan SSA. Hasil uji menunjukkan bahwa 3 dari 10 sampel (30%) positif mengandung E. coli, ditandai dengan terbentuknya koloni hijau metalik pada media EMBA, sedangkan seluruh sampel menunjukkan hasil negatif terhadap Salmonella sp. pada media SSA. Temuan ini menunjukkan adanya potensi kontaminasi fekal pada sebagian produk pempek akibat sanitasi yang tidak optimal, meskipun tidak ditemukan indikasi keberadaan Salmonella sp. Kesimpulannya, pempek yang dijual di Pasar Lemabang memiliki risiko mikrobiologis yang perlu diawasi, sehingga penguatan pengendalian sanitasi dan keamanan pangan sangat disarankan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 M Rafli Ramadhan, Muhammad Alif Saputra, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1214Analisis Pengujian Cemaran Aflatoksin Total Pada Pala Bubuk Dengan Menggunakan Metode Hplc 2025-12-22T03:33:55+00:00Regina Zahrani Marza reginazahranimarza@gmail.com<p>Aflatoksin merupakan mikotoksin berbahaya yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus, terutama berkembang pada kondisi panas dan lembap. Kontaminasi aflatoksin dalam bahan pangan, seperti pala, dapat menyebabkan gangguan kesehatan serius dan menjadi hambatan dalam perdagangan internasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kadar aflatoksin (B1, B2, G1, G2) dalam sampel pala bubuk menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan deteksi fluoresensi dan teknik pembersihan kolom imunoafinitas. Hasil uji menunjukkan kurva kalibrasi yang linier (R² = 1,000) dan nilai LOD serta LOQ yang rendah, membuktikan sensitivitas metode. Sampel pala (kode 02/AF/PALA/LKP) mengandung total aflatoksin sebesar 2,6292 ppb dan aflatoksin B1 sebesar 1,538 ppb, yang masih berada di bawah ambang batas maksimum menurut Peraturan BPOM No. 18 Tahun 2018. Dengan demikian, sampel dinyatakan memenuhi syarat keamanan pangan. Pengawasan berkelanjutan dan penerapan protokol penyimpanan yang baik sangat penting untuk mencegah kontaminasi aflatoksin demi menjaga kesehatan konsumen dan kelancaran ekspor pala Indonesia.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Regina Zahrani Marza https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1230Pertumbuhan Tanaman Hidroponik Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) dengan Metode DFT (Deep Flow Technique)2025-12-22T05:20:01+00:00Annisa Mardaniyahrestifevria@fmipa.unp.ac.idResti Fevriarestifevria@fmipa.unp.ac.id<p>Pertumbuhan penduduk yang meningkat mengakibatkan meningkatnya kebutuhan pangan yang sehat dan berkelanjutan. Hidroponik merupakan suatu upaya untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui suatu efektivitas dari metode yang suadah diambil yaitu metode Deep Flow Technique (DFT) terhadap pertumbuhan bayam merah (Amaranthus tricolor L.) di Alfi Hidroponik Padang. Kegiatan dilakukan selama satu bulan, dari 13 Januari hingga 15 Februari 2025. Metode yang digunakan adalah observasi langsung, wawancara, pencatatan data pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, lebar daun, dan jumlah daun), serta dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa tanaman mengalami suatu peningkatan pertumbuhan selama 21 hari. Tanaman tertinggi mencapai 28 cm, jumlah daun terbanyak sebanyak 12 helai, dan lebar daun mencapai lebih dari 10 cm. Teknik Deep Flow Technique (DFT) mampu menyediakan nutrisi dan oksigen secara stabil, meningkatkan efisiensi penggunaan air dan mempercepat pertumbuhan tanaman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sistem DFT (Deep Flow Technique) dapat dijadikan sebagai alternatif untuk budidaya sayuran terutama di lahan yang terbatas atau lahan yang sempit seperti wilayah urban, dan potensial dikembangkan dalam skala rumah tangga maupun komersial.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisa Mardaniyah, Resti Fevriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1248Metode Pembibitan Tanaman Matoa (Pometia Pinnata) Secara Generatif Di UPTD BSPTH Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat2025-12-22T08:23:24+00:00Febi Permata Jinggafebiputrijingga@gmail.comAzwir Anharfebiputrijingga@gmail.comJefri Chandrafebiputrijingga@gmail.com<p>Kegiatan magang merupakan bagian integral dari proses pembelajaran mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan teknis dan non-teknis di dunia kerja nyata. Laporan ini membahas pelaksanaan magang mahasiswa Biologi Universitas Negeri Padang di UPTD Balai Sertifikasi dan Perbenihan Tanaman Hutan (BSPTH), Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, yang berlangsung dari 6 Januari hingga 14 Februari 2025. Fokus utama kegiatan adalah pembibitan tanaman matoa (Pometia pinnata) secara generatif, yakni menggunakan biji sebagai bahan tanam. Proses pembibitan melibatkan perendaman biji, penyemaian dalam media tanah, pemindahan ke polybag, dan perawatan rutin seperti penyiraman dua kali sehari. Hasil menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh bibit mencapai 9%, dipengaruhi oleh kualitas benih dan metode perawatan yang baik. Selain memberikan pengalaman praktis di lapangan, kegiatan ini juga memperkaya wawasan mahasiswa tentang konservasi tanaman hutan dan pentingnya pemanfaatan sumber daya hayati lokal secara berkelanjutan. Magang ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi dalam pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik.<br>Keywords: , , , , .</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Febi Permata Jingga, Azwir Anhar, Jefri Chandrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1264Keanekaragaman Vegetasi Liana di Empat Kawasan Terbuka Hijau Jakarta Selatan 2025-12-23T04:33:08+00:00Ghina Chairunnisapriyanti@uinjkt.ac.idPriyanti Priyantipriyanti@uinjkt.ac.idAchmad Junaidipriyanti@uinjkt.ac.id<p>Liana adalah vegetasi yang pertumbuhannya memanjat dan memiliki peran sebagai penjerap debu atau kebisingan atau tanaman hias di suatu kawasan terbuka hijau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis, keanekaragaman, dan manfaat liana yang tumbuh di empat kawasan terbuka hijau Jakarta Selatan. Metode penelitian adalah survey dengan koleksi sampel liana dilakukan secara purposive sampling di kawasan Ecopark Tebet dan hutan kota Srengseng Sawah, Pondok Labu, dan Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Indeks keanekaragaman jenis dihitung menggunakan rumus Shannon Wiener. Informasi pemanfaatan liana mengacu pada beberapa pustaka yang terbit sejak tahun 2017 hingga 2024. Sebanyak 23 jenis liana telah diidentifikasi dan dikelompokkan menjadi 7 famili. Indeks keanekaragaman jenis (H’) vegetasi liana tergolong sedang dengan nilai 1,79 H’ 2,19. Vegetasi liana yang tumbuh di lokasi penelitian memiliki manfaat sebagai tanaman hias (14 jenis), bahan pangan (6 jenis), perbaikan kualitas udara (13 jenis), dan bahan obat tradisional (6 jenis). Vegetasi liana di empat kawasan terbuka hijau Jakarta Selatan bervariasi jenis dan manfaatnya. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ghina Chairunnisa, Priyanti Priyanti, Achmad Junaidihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1281ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI ASAM LAKTAT (BAL) DARI MINUMAN PROBIOTIK YOGHURT DRINK K2025-12-23T16:15:31+00:00Rizky Maulana Cahyadirizkymchyd@gmail.comSayyidah Novila Fitririzkymchyd@gmail.comNajmi Berliana Maulidarizkymchyd@gmail.comMegga Ratnasari Pikolirizkymchyd@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dari produk yoghurt kemasan K asal Bulgaria, serta memverifikasi kesesuaian jumlah koloninya dengan standar SNI 2981:2009. Yoghurt adalah produk susu fermentasi yang mengandung BAL probiotik. Isolasi BAL dilakukan dengan pengenceran berseri pada media MRSA, diikuti perhitungan koloni dan identifikasi makroskopis-mikroskopis. Hasil menunjukkan pH yoghurt rata-rata 3,62 (di bawah standar SNI) dan jumlah koloni BAL 2,22×104 CFU/ml (di bawah standar minimum SNI 107 CFU/ml). Isolat BAL yang teridentifikasi adalah Streptococcus thermophilus, yang memiliki morfologi kokus berantai, berwarna ungu, tidak membentuk spora, dan non-motil.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Rizky Maulana Cahyadi, Sayyidah Novila Fitri, Najmi Berliana Maulida, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1128Pengaruh Model Pembelajaran Berbasis Masalah Terhadap Ekoliterasi Pengetahuan Kaldera Toba Siswa Sekolah Menengah Pertama 2025-12-15T05:10:17+00:00Erika Rosdianarikadianapanjaitan@gmail.comRetno Dwi Suyantirikadianapanjaitan@gmail.comBinari Manurungrikadianapanjaitan@gmail.com<p>Abstrak Kaldera Toba dengan keunikan biodiversitasnya telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu taman bumi dunia (Toba Caldera UNESCO Global Geopark). Sehubungan dengan itu konservasi terhadapnya dan edukasi terhadap masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar ataupun di dalamnya harus dilakukan. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap ekoliterasi pengetahuan siswa Sekolah Menengah Pertama akan Kaldera Toba telah dilaksanakan. Sampel penelitian adalah dua kelas VII siswa SMP Negeri 3 Muara-Tapanuli Utara, masing-masing terdiri atas 25 siswa dan diambil secara purposiv. Kelas Kontrol dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung, sedangkan kelas perlakuan dengan model pembelajaran berbasis masalah. Pembelajaran dilakukan pada topik Ekosistem. Instrumen penelitian berupa test hasil belajar 28 soal bentuk pilihan berganda dan 2 soal bentuk tes uraian. Indikator test hasil belajar (ekoliterasi pengetahuan) terdiri atas 5 indikator, yakni isu faktual masalah lingkungan, dampak masalah lingkungan, faktor penyebab terjadinya masalah lingkungan, usaha yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi dampak dari kerusakan lingkungan dan keanekaragaman flora-fauna serta nama geosite yang terdapat di Kaldera Toba. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang sangat signifikan dari model pembelajaran masalah terhadap ekoliterasi pengetahuan siswa (t hit=16,87; P=0,00). Dalam hal ini rata-rata pengetahuan ekoliterasi siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran berbasis masalah (76,16) lebih tinggi dibandingan dengan yang dibelajarkan dengan model pembelajaran langsung (57,20).</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Erika Rosdiana, Retno Dwi Suyanti, Binari Manurunghttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1144Aktivitas Antagonistik Bakteri Probiotik Terhadap Mikroorganisme Patogen2025-12-15T09:33:26+00:00Robiatul Adawiyahsitisoleha@radenfatah.ac.idPutri Naviatul Jannasitisoleha@radenfatah.ac.idSalsa Nurtitaniasitisoleha@radenfatah.ac.idArdilla Dwi Angrainisitisoleha@radenfatah.ac.idMuhammad Hafis Ansorisitisoleha@radenfatah.ac.idKaroline Natasitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Antagonisme bakteri merupakan suatu interaksi biologis di mana satu jenis bakteri dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri lain melalui produksi senyawa tertentu, seperti antibiotik, enzim, atau metabolit sekunder lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antagonisme bakteri probiotik (Lentilactobacillus buchneri) terhadap mikroorganisme pathogen. Uji antagonisme bakteri probiotik terhadap mikroorganisme pathogen dilakukan dengan metode cross streak method dan diffusion method. Uji antagonisme dilakukan dengan pengulangan sebanyak dua kali. Dimeter zona hambat diperoleh dengan cara menghitung diameter keseluruhan dikurangi dengan diameter kertas cakram. Data hasil uji dianalisis secara deskriptif dan kuantitatif. Hasil uji antagonisme menunjukkan bahwa Lentilactobacillus buchneri memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri uji dengan ratarata zona hambat sebesar 11,725 mm dan standar deviasi ±1,66. Nilai ini menunjukkan bahwa L. buchneri memiliki potensi sebagai agen antimikroba alami. Zona hambat yang dihasilakn oleh L. bucneri menunjukkan bahwa bakteri ini memproduksi senyawa metabolit sekunder seperti asam organik atau bakteriosin yang efektif menghambat mikroorganisme lain</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Robiatul Adawiyah, Putri Naviatul Janna, Salsa Nurtitania, Ardilla Dwi Angraini, Muhammad Hafis Ansori, Karoline Nata, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1163Dari Raja Ampat hingga Great Barrier Reef: Mengintip Rahasia Keberhasilan Ekowisata Terumbu Karang From2025-12-17T06:53:37+00:00Syifa Mariskatitonurseha_uin@radenfatah.ac.idDhea Elsyatitonurseha_uin@radenfatah.ac.idIren Saskiahtitonurseha_uin@radenfatah.ac.idTito Nursehatitonurseha_uin@radenfatah.ac.id<p>Ekowisata terumbu karang merupakan sektor yang krusial bagi konservasi laut dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di wilayah pesisir. Studi ini menyajikan kajian mengenai faktor-faktor keberhasilan ekowisata terumbu karang terhadap dua lokus ekowisata laut yang ikonik. Raja Ampat (Indonesia) dan Great Barrier Reef (Australia). Tujuan utama dari studi ini adalah mengidentifikasi prinsip-prinsip universal dan konteks-spesifik yang mendorong keberhasilan ekowisata, dengan harapan dapat memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan ekowisata terumbu karang yang lebih tangguh dan berkelanjutan, khususnya di negara-negara berkembang yang kaya akan keanekaragaman hayati laut namun memiliki keterbatasan kapasitas. Dengan menerapkan metode studi literatur sistematis, analisis komparatif difokuskan pada kerangka kebijakan dan regulasi, model pengelolaan, tingkat dan bentuk keterlibatan masyarakat lokal, strategi pemasaran, serta tantangan dan solusi adaptif yang diimplementasikan. Menunjukkan bahwa keberhasilan adalah produk dari interaksi kompleks antara faktor ekologis, sosial, ekonomi, dan tata kelola. Raja Ampat menonjol sebagai model yang didorong oleh pemberdayaan komunitas lokal dan mekanisme finansial inovatif. Sebaliknya, Great Barrier Reef merepresentasikan tata kelola skala besar yang sangat terstruktur didukung oleh riset ilmiah intensif dan kerangka regulasi yang ketat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Syifa Mariska, Dhea Elsya, Iren Saskiah, Tito Nursehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1181Literature Review: Efektivitas Ekstrak Daun Kelor (Moringa oleifera) sebagai Insektisida Nabati dalam Pengendalian Hama 2025-12-18T10:58:57+00:00Hervira Sri Adeliafitri_uin@radenfatah.ac.idFitrifitri_uin@radenfatah.ac.id<p>Ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan terpenoid yang berpotensi sebagai insektisida alami. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ini efektif dalam menurunkan populasi hama pertanian dan vektor penyakit, termasuk Spodoptera exigua, Sitophilus zeamais, dan Aedes aegypti. Literatur ini menyajikan hasil kajian dari berbagai sumber ilmiah mengenai efektivitas insektisida nabati berbahan dasar daun kelor, serta membahas mekanisme kerjanya dan potensinya sebagai solusi pertanian ramah lingkungan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor mampu meningkatkan mortalitas serangga, meskipun efektivitasnya dipengaruhi oleh konsentrasi dan metode ekstraksi. Oleh karena itu, pemanfaatan ekstrak daun kelor dapat menjadi alternatif pengendalian hama yang berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hervira Sri Adelia, Fitrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1198Uji Fitokimia Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum basilicum L.) 2025-12-19T15:16:15+00:00Naomi Puspita Dewinaomipuspita2@gmail.comKhalda Azahra Putri Salimnaomipuspita2@gmail.comNur Azizahnaomipuspita2@gmail.comDelia Yusfaraninaomipuspita2@gmail.com<p>Indonesia dikenal sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi yang berpotensi sebagai sumber bahan baku obat alami. Salah satu tanaman dengan potensi farmakologis adalah kemangi (Ocimum basilicum L.). Daun kemangi mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan lainnya yang diketahui memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan, antimikroba, antiinflamasi, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder dalam simplisia daun kemangi melalui uji fitokimia kualitatif. Daun kemangi segar dikeringkan menjadi simplisia, lalu diekstraksi menggunakan etanol 70%. Ekstrak diuji dengan pereaksi spesifik untuk mendeteksi alkaloid, saponin, dan flavonoid. Hasil menunjukkan adanya saponin dan alkaloid, ditandai dengan busa stabil dan endapan spesifik. Hasil flavonoid ditandai dengan munculnya perubahan warna menjadi kuning, yang mengindikasikan keberadaan senyawa flavonoid dalam daun kemangi. Kandungan alkaloid, saponin, dan Flavonoid menunjukkan potensi daun kemangi sebagai bahan obat herbal dengan aktivitas antimikroba, antiinflamasi, dan antioksidan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Naomi Puspita Dewi, Khalda Azahra Putri Salim, Nur Azizah, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1221PEMBESARAN IKAN NILA SALIN (oreochoromis niloticus) DENGAN SALINITAS YANG BERBEDA DI UPTD BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR LAUT DAN PAYAU (BPBALP) TELUK BUO, SUMATERA BARAT 2025-12-22T04:27:47+00:00Winda Sakinah Fitriwindasakinahfitri@gmail.com<p>Ikan nila salin adalah ikan nila yang dibudidayakan dalam kondisi air dengan salinitas (kadar garam) yang lebih tinggi dibandingkan air tawar. Salinitas yang digunakan untuk budidaya ikan nila salin ini berkisar antara 5 ppt (parts per thousand) hingga 15 ppt, yang merupakan kondisi perairan brackish water (perairan payau). Rancangan percobaan, yang dilakukan adalah uji kruskal wallis dengan tiga perlakuan yaitu perlakuan 1 : 5-8 ppt, perlakuan 2 : 8-10 ppt, dan perlakuan 3 : 10-15 ppt. Kondisi ikan nila pada media yang bersalinitas membutuhkan lebih banyak energi untuk menyeimbangkan cairan dan garam internal tubuhnya dari pada untuk pertumbuhan berat badannya, sehingga energi yang seharusnya digunakan untuk proses pertumbuhan akan lebih banyak digunakan untuk melakukan proses osmoregulasi. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Winda Sakinah Putrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1238Review Article : Pengaplikasi Kloning SCNT pada Spesies Langka sebagai Upaya Konservasi2025-12-22T07:29:21+00:00Azzahra Noor Firantizahranoona21@gmail.comYusni Atifahzahranoona21@gmail.com<p>Percepatan kepunahan spesies akibat aktivitas manusia, seperti perubahan iklim, perusakan habitat, dan perburuan liar, menuntut inovasi dalam konservasi keanekaragaman hayati. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah pemanfaatan teknologi kloning, khususnya Somatic Cell Nuclear Transfer (SCNT). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas aplikasi SCNT dalam konservasi spesies langka melalui studi literatur. Metode yang digunakan adalah telaah pustaka dari sumber-sumber ilmiah selama rentang 2015–2025 dengan kata kunci relevan, yang kemudian diseleksi berdasarkan kesesuaian topik. Hasil kajian menunjukkan bahwa beberapa spesies berhasil dikloning, seperti Mustela nigripes, Equus przewalskii, Oryx leucoryx, Elephas maximus dan spesies lainnya. Teknologi SCNT terbukti mampu merekonstruksi embrio dari sel somatik spesies target dengan donor oosit dari spesies sejenis atau berbeda (interspecies SCNT). Meskipun tingkat keberhasilan masih bervariasi dan memerlukan optimasi, temuan ini memperlihatkan potensi SCNT sebagai alat konservasi genetika. Kesimpulannya, kloning melalui teknik SCNT berpeluang besar menjadi strategi pendukung pelestarian spesies langka, terutama bila dikombinasikan dengan pendekatan konservasi konvensional lainnya.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Azzahra Noor Firanti, Yusni Atifahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1255Jenis-Jenis Pakan Galo-Galo (Trigona: Apidae: Hymenoptera) Pada Nagari Simarasok Kabupaten Agam, Sumatera Barat2025-12-22T09:00:33+00:00Iftihal Fathonah Bakriiftihalfathonahbakri3@gmail.comRijal Satriaiftihalfathonahbakri3@gmail.com<p>Lebah Trigona yang dalam bahasa daerah dinamakan galo-galo (Sumatera Barat) dan klanceng, lenceng (Jawa) merupakan salah satu dari berbagai sumberdaya lokal yang memiliki potensi untuk mengatasi permasalahan karena dikenal menghasilkan madu yang berkhasiat dengan harga yang dikatakan tinggi dari madu biasanya, serta memiliki peran ekologis yang penting sebagai penyerbuk dan peran ekonomis bagi masyarakat lokal. Warga Nagari Simarasok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat sudah mengenal tentang galo-galo. Ketersediaan dan keberagaman pakan sangat memengaruhi produktivitas koloni dan kualitas produksi madu yang dihasilkan dari lebah galo-galo. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies galo-galo, serta mendata dan mengambil sampel tanaman apa saja yang berada di sekitar habitat yang berpotensi sebagai pakan. Metode pengamatan dilakukan dengan survey eksploratif (jelajah). Berdasarkan hasil survey yang telah dilakukan diketahui ada 21 jenis tanaman berbunga yang diketahui berada di sekitar habitat galo-galo yang diartikan tanaman tersebut menjadi pakan dari galo-galo sehingga data ini bisa menjadi rujukan bagi masyarakat yang ingin membudiayakan galo-galo di daerahnya.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Iftihal Fathonah Bakri, Rijal Satriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1272Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat (BAL) Dari Yoghurt Kemasan Bermerk G 2025-12-23T13:40:17+00:00Naila Azizahazizahnaila91@gmail.comFarida Widyastutiazizahnaila91@gmail.comMuhammad Rafi Al-Gifariazizahnaila91@gmail.comMegga Ratnasari Pikoliazizahnaila91@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi bakteri asam laktat (BAL) dari yoghurt merk G, serta mengevaluasi kesesuaian jumlah dan karakteristik koloni BAL dengan standar SNI 2981:2009. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengukuran pH, isolasi menggunakan metode spread plate pada media de Man Rogosa Sharpe Agar (MRSA), dan identifikasi morfologi koloni. Hasil pengukuran pH menunjukkan nilai rata-rata 3,62, yang berada di bawah standar SNI. Isolasi bakteri menghasilkan koloni BAL dengan jumlah 2,02 × 10⁸ CFU/ml, memenuhi syarat minimal yang ditetapkan. Karakteristik morfologi isolat menunjukkan koloni berwarna putih, berbentuk batang, dan tidak membentuk spora, yang diduga merupakan Lactobacillus bulgaricus. Penelitian ini mengindikasikan bahwa yoghurt merk G memiliki potensi sebagai sumber probiotik yang baik, serta memberikan informasi penting mengenai keberadaan dan karakteristik BAL dalam produk komersial.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Naila Azizah, Farida Widyastuti, Muhammad Rafi Al-Gifari, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1135Keanekaragaman Jenis Kepiting Infraordo Brachyura di Pantai Pasir Putih, Pantai Malabero dan Pantai Kualo di Kota Bengkulu 2025-12-15T08:42:19+00:00Lola Sultitanianoviaduya@gmail.comNovia Duyanoviaduya@gmail.comAchmad Farajallahnoviaduya@gmail.com<p>Kepiting merupakan komponen penting dalam ekosistem pesisir karena perannya sebagai predator sekaligus sebagai bioindikator kondisi lingkungan. Kota Bengkulu terletak di pesisir barat pulau Sumatera, pesisir Kota Bengkulu memiliki ekosistem yang kaya dan beragam yang menjadi habitat penting bagi berbagai biota, termasuk kepiting dari infraordo brachyura. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kepiting infraordo Brachyura yang terdapat di Pantai Pasir Putih, Pantai Malabero, dan Pantai Kualo di Kota Bengkulu. Penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling pada 3 lokasi penelitian. Pengoleksian kepiting dilakukan secara survei dengan cara menangkap kepiting yang dijumpai di lokasi penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dari bulan Agustus sampai November 2024 dengan menggunakan hand net dan hand picking sedangkan kepiting yang ada di dalam lubang diambil dengan cara menggali lubang menggunakan sekop kecil. Hasil identifikasi menunjukan kepiting yang diperoleh dalam penelitian ini terdiri dari 4 famili yaitu Famili Grapsidae, Matutidae, Portunidae dan Xanthidae dan terdapat 10 spesies yaitu, Grapsus albolineatus, Matuta purnama, Charybdis feriata, Charybdis japonica, Charybdis lucifer, Portunus sanguinolentus, Thalamita admete, Thalamita crenata, Actaeodes tomentosus dan Atergatis floridus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Lola Sultitania, Novia Duya, Achmad Farajallahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1153Uji Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)2025-12-17T05:00:13+00:00Siti Elisya Balkiaelsyablkia@gmail.comNur Alfi Amalia Sakinahelsyablkia@gmail.comEliza Elizaelsyablkia@gmail.comDelia Yusfaranielsyablkia@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) menggunakan metode uji fitokimia kualitatif. Rimpang kunyit segar diolah menjadi simplisia, diekstraksi dengan pelarut metanol melalui metode maserasi, kemudian diuji kandungan senyawanya di laboratorium. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol rimpang kunyit mengandung lima golongan senyawa bioaktif, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan fenol. Masing-masing senyawa menunjukkan hasil positif berdasarkan perubahan warna dan pembentukan endapan setelah penambahan pereaksi tertentu. Temuan ini memperkuat potensi kunyit sebagai bahan dasar obat herbal karena senyawa-senyawa tersebut diketahui memiliki aktivitas farmakologis seperti antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba. Penelitian ini menjadi langkah awal penting dalam pengembangan formulasi obat herbal berbasis kunyit dan mendukung standarisasi mutu bahan baku tanaman obat di Indonesia.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Siti Elisya Balkia, Nur Alfi Amalia Sakinah, Eliza Eliza, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1172Studi Literatur: Perbandingan Respon Imun Antara Individu Yang Divaksinasi dan Tidak Divaksinasi 2025-12-18T08:22:43+00:00Dea Safitridea318183@gmail.comDelia Yusfaranidea318183@gmail.com<p>Vaksinasi merupakan upaya preventif yang terbukti efektif dalam mencegah penyakit menular dengan merangsang sistem imun agar mampu mengenali dan melawan patogen lebih cepat dan efisien. Studi literatur ini bertujuan untuk membandingkan respons imun antara individu yang divaksinasi dan tidak divaksinasi. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif terhadap 22 artikel ilmiah yang diterbitkan antara 2017 hingga 2024. Hasil kajian menunjukkan bahwa individu yang divaksinasi memiliki aktivasi sistem imun adaptif yang lebih optimal, termasuk pembentukkan antibodi spesifik, aktivasi sel T dan B, serta sel memori yang memberikan perlindungan jangka panjang. Sebaliknya, individu yang tidak divaksinasi hanya mengandalkan respons imun primer yang lambat dan kurang efisien, sehingga lebih berisiko mengalami gejala berat. Beberapa jenis vaksin seperti MMR, BCG, Polio, Hepatitis B, dan Influenza terbukti memicu respons imun yang kuat. Vaksinasi juga mendukung terciptanya kekebalan kelompok yang melindungi populasi rentan. Dengan demikian, vaksiansi merupakan pendekatan aman dan efektif dalam memperkuat sistem imun dan mencegah penyebaran penyakit menular dimasyarakat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dea Safitri, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1188Studi Literatur : Analisis Dampak Penyakit Pelecehan Seksual (INCEST) dalam Perspektif Kesehatan 2025-12-18T15:36:06+00:00Luciana Caroline Agnesya lucianacaroline252@gmail.comDelia Yusfaranilucianacaroline252@gmail.com<p>Salah satu kasus Familial Abuse (incest) yang terungkap di media sosial yang dimana banyak komunitas grup khusus Fantasi Sedarah yang membagikan cerita oleh para pelaku terhadap aksi bejatnya. Kasus ini menarik sorotan banyak kalangan dikarenakan kasusnya yang melibatkan pelaku yaitu ayah, kakak, dan adik kandung korban pada korban yang merupakan seorang anak bahkan saudara kandung sendiri. Dalam kasus ini bukan hanya orang dewasa saja tetapi anak-anak pun ikut menjadi korban. Kasus ini terungkap ketika salah satu pengguna media sosial membagikan bukti berupa tangkapan layar cerita para pelaku. Kasus ini sangat marak sekali dikarenakan komunitas grup tersebut diikuti 3000 orang. Hal ini memicu kecaman netizen kepada pelaku pelecehan seksual incest yang dapat merusak generasi bangsa. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui dampak incest terhadap kesehatan, agar semua masyarakat mengetahui bahayanya hubungan seksual sedarah (incest) terhadap kesehatan. Salah satunya yakni HIV/AIDS, Cystic Fibrosis hingga HBV dan HCV yang dapat menurunkan imunitas tubuh orang yang terinfeksi penyakit tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur (kualitatif) dengan mengumpulkan sumber data yang relevan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Luciana Caroline Agnesya , Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1205Efektivitas Pemberian PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) Ekstrak Akar Bambu Terhadap Pertumbuhan Sawi Caism (Brassica chinensis var. parachinensis)2025-12-20T02:24:30+00:00Titin Ayuk Nofitasarititinayuknofitasari12@gmail.comHasanatun Nada Nahariyahtitinayuknofitasari12@gmail.comNur Ayna Mumarisa Al Haqtitinayuknofitasari12@gmail.comBinar Azwar Anas Harfiantitinayuknofitasari12@gmail.com<p>Sawi caism (Brassica chinensis var. parachinensis) merupakan salah satu sayuran penting di Indonesia dengan tingkat produksi yang tinggi. Dalam upaya meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan, pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) menjadi alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pupuk kimia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengkaji efektivitas pemberian Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) yang berasal dari ekstrak akar bambu terhadap pertumbuhan tanaman dan menentukan konsentrasi optimal PGPR yang memberikan pertumbuhan terbaik pada tanaman sawi caism (Brassica chinensis var. parachinensis). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental di Greenhouse UIN Walisongo Semarang selama bulan Mei-Juni 2025 dengan menggunakan lima perlakuan, yaitu kontrol (tanpa PGPR), P1 (5 mL/L), P2 (10 mL/L), P3 (15 mL/L), dan P4 (20 mL/L), yang diaplikasikan setiap minggu. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, dan lebar daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan sawi dibandingkan kontrol. Perlakuan optimal diperoleh pada konsentrasi 10 mL/L, yang menghasilkan tinggi tanaman 22 cm, panjang daun 6,3 cm, lebar daun 3,9 cm, dan jumlah daun 6 helai pada minggu ke-4. Berdasarkan hasil penelitian, pemberian PGPR pada konsentrasi 10 mL/L dapat direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam budidaya sawi caism secara berkelanjutan.<br><br><br></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Titin Ayuk Nofitasari, Hasanatun Nada Nahariyah, Nur Ayna Mumarisa Al Haq, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1212Analisis Vegetasi Tumbuhan Invasif di Kawasan Nagari Halaban, Kec.Lareh Sago Halaban, Kab. Limapuluh Kota, Sumatera Barat2025-12-22T03:06:12+00:00Rahmi Dwi Huriahuriaputri01@gmail.comIrma Leilani Eka Putrihuriaputri01@gmail.com<p>Tumbuhan invasif adalah spesies asing yang dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan baru dan memiliki kemampuan kompetitif yang tinggi, sehingga dapat mengungguli tumbuhan asli dan menjadi faktor pembatas bagi spesies lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis vegetasi tumbuhan invasif di kawasan Nagari Halaban, Kecamatan Lareh Sago Halaban, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi survei lapangan dengan pengambilan data menggunakan metode kuadrat berukuran 5x5 pada tiga plot yang ditentukan secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 spesies tumbuhan invasif yang teridentifikasi, dengan Miconia crenata (Vahl) Michelang sebagai spesies dominan yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai dampak tumbuhan invasif terhadap keanekaragaman hayati dan ekosistem di kawasan Nagari Halaban, serta menjadi dasar untuk upaya konservasi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Rahmi Dwi Huria, Irma Leilani Eka Putrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1228Pemanfaatan Sukun (Artocarpus altilis) Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat Sunda2025-12-22T05:13:17+00:00Alya Amaniamanialya014@gmail.com Nuramelia Wahidahamanialya014@gmail.comPriyanti Priyantiamanialya014@gmail.comArdian Khairiahamanialya014@gmail.com<p>Indonesia merupakan negara megabiodiversitas dengan kekayaan tanaman obat tradisional yang masih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama di wilayah pedesaan. Salah satu tanaman yang memiliki potensi pengobatan adalah sukun (Artocarpus altilis), yang selain sebagai sumber pangan, juga dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional oleh masyarakat Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk menggali pengetahuan masyarakat Sunda mengenai pemanfaatan tanaman sukun sebagai obat tradisional, dengan fokus pada bagian tanaman yang digunakan, cara pengolahan, dan jenis penyakit yang diobati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling, melalui kuesioner daring dan wawancara semi struktural terhadap 26 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 30,8% responden mengetahui sukun sebagai tanaman obat, dan pengetahuan ini lebih banyak dimiliki oleh generasi tua melalui pewarisan budaya, bukan pendidikan formal. Daun sukun merupakan bagian yang paling sering dimanfaatkan, terutama untuk mengobati diabetes dan tekanan darah tinggi, dengan metode pengolahan utama berupa perebusan. Namun, sebagian besar responden tidak mengetahui dosis atau cara penggunaan yang tepat. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan antar generasi dan perlunya pelestarian pengetahuan etnobotani melalui dokumentasi serta validasi ilmiah. Penelitian ini diharapkan menjadi dasar awal dalam pengembangan obat herbal berbasis kearifan lokal dan memperkuat peran pengobatan tradisional sebagai pelengkap dalam sistem kesehatan modern.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Alya Amani, Nuramelia Wahidah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1246Keanekaragaman Jenis Burung yang ditemukan di Wilayah Taman Makam Solear, Kabupaten Tangerang, Banten 2025-12-22T08:17:07+00:00Fatihatsal Murfikpbnectarinia@gmail.comVera Puspitakpbnectarinia@gmail.comKholila Nur Ma’rufikpbnectarinia@gmail.comFivi Lutfianikpbnectarinia@gmail.com Nabila Kanaya Khairunnisakpbnectarinia@gmail.comAnnisa Rahma Auliakpbnectarinia@gmail.com<p>Keanekaragaman burung merupakan indikator lingkungan yang penting dalam ekosistem. Taman Makam Solear, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang, memiliki potensi keanekaragaman burung yang tinggi karena kondisi lingkungan yang masih didominasi persawahan, semak belukar, dan vegetasi yang lebat. Meskipun demikian, informasi mengenai keanekaragaman jenis burung di lokasi ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghitung keanekaragaman burung di Taman Makam Solear. Pengamatan dilakukan pada 10–11 Mei 2025 ketika pagi dan sore hari dengan metode plot sampling dan jelajah. Pengambilan data dilakukan di tiga titik lokasi berbeda untuk merepresentasikan variasi habitat dan aktivitas burung. Kemudian data yang diperoleh dianalisis secara kuantitatif menggunakan indeks Shannon-Wiener. Hasil yang didapatkan sebanyak sebanyak 191 individu dengan 17 jenis spesies dengan indeks keanekaragaman (H’) burungnya 2,21. Keanekaragaman jenis burung dapat dipengaruhi oleh lingkungannya, seperti ancaman dari hewan lain, salah satunya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Wilayah Taman Makam Solear layak dijadikan area pemantauan biodiversitas jangka panjang karena vegetasi yang terdapat di sini bervariasi, tersedia sumber pakan untuk burung-burung liar di lahan pertanian dan ruang terbuka, sehingga bisa menjadi habitat burung liar di kawasan agraris dan pinggiran kota.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fatihatsal Murfi, Vera Puspita, Kholila Nur Ma’rufi, Fivi Lutfiani, Nabila Kanaya Khairunnisa, Annisa Rahma Auliahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1262Tumbuhan Sebagai Bahan Pangan Yang Diperjual-Belikan Di Pasar Tradisional Bintaro2025-12-23T02:18:17+00:00Khairunnisa Salshabil salshabilk@gmail.comNur Hamidah Gusvinasalshabilk@gmail.comPriyanti Priyantisalshabilk@gmail.comArdian Khairiahsalshabilk@gmail.com<p>Keanekaragaman tumbuhan bahan pangan di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pokok manusia Sumber utama perolehan bahan makanan adalah pasar yang memperjual-belikan tumbuhan bahan pangan oleh pengaruh kearifan dan tradisi masyarakat lokal. Studi ini bertujuan untuk menjelaskan keanekaragaman tumbuhan pangan yang diperjual-belikan dan potensinya sebagai bahan pangan menyehatkan di lingkungan masyarakat sekitar pasar tradisional Bintaro. Penelitian dilakukan pada 19 Maret 2025 dengan pendekatan etnobotani menggunakan metode purposive sampling, observasi, dan wawancara. Responden dalam penelitian adalah pedagang, pengelola pasar, dan pembeli. Analisa kualitatif meliputi pengelompokkan tumbuhan berdasarkan manfaat, famili, dan bagian yang dimanfaatkan. Ditemukan sebanyak 64 species dengan 77 nama lokal yang berasal dari famili Amaryllidaceae, Brassicaceae, Solanaceae, Cucurbitaceae, Convolvulaceae, Fabaceae, dan Zingiberaceae. Hasil penelitian menunjukkan bagian daun paling banyak digunakan dan diolah mejadi makanan lokal pada tradisi adat tertentu karena, mudah ditemukan dan merupakan tumbuhan hasil budidaya. Sementara itu, bagian kulit batang paling sedikit digunakan oleh masyarakat dikarenakan kurangnya pengetahuan umum masyarakat. Pengambilan kulit batang secara berlebihan dapat merusak tanaman dan menghambat pertumbuhan serta kelangsungan hidupnya, sehingga masyarakat cenderung menghindari pemanfaatan yang berlebihan demi menjaga keberlanjutan tanaman.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Khairunnisa Salshabil , Nur Hamidah Gusvina, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1279Isolasi dan Karakterisasi Bakteri Asam Laktat dari Yoghurt Komersial YK2025-12-23T15:36:32+00:00Avrielle Mauliaraudhah Farmudyaavriellemf.05@gmail.comUnaisah Unaisahavriellemf.05@gmail.comSalman Ahmad Torikavriellemf.05@gmail.comMegga Ratnasari Pikoliavriellemf.05@gmail.com<p>Yoghurt merupakan produk fermentasi susu yang mengandung bakteri asam laktat (BAL) seperti Lactobacillus casei yang berperan dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi BAL dari yoghurt komersial merek YK serta mengevaluasi kesesuaiannya dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan jumlah bakteri dan nilai pH. Isolasi dilakukan dengan metode sebar pada media selektif MRSA, disertai pengamatan morfologi koloni, morfologi sel, dan pewarnaan sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH rata-rata yoghurt sebesar 2,89, sesuai dengan kisaran standar produk fermentasi. Koloni yang tumbuh memiliki ciri khas L. casei berupa bentuk sirkular, permukaan datar, tepi halus, dan warna putih kusam. Hasil pewarnaan sederhana menunjukkan bakteri berbentuk batang, tersusun berantai pendek, dan bersifat Gram positif. Perhitungan Total Plate Count (TPC) menunjukkan jumlah BAL sebesar 2,98 × 10⁷ CFU/mL, memenuhi persyaratan minimal BAL menurut SNI yaitu ≥10⁷ CFU/mL. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa yoghurt komersial YK memenuhi kriteria mutu mikrobiologis sesuai SNI dan berpotensi sebagai produk probiotik yang aman serta berkualitas. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Avrielle Mauliaraudhah Farmudya, Unaisah Unaisah, Salman Ahmad Torik, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1142Perilaku Harian Kucing Liar (Felis silvestris) di Lorong Wakaf III Palembang 2025-12-15T09:16:38+00:00Adelliasariadelliasari496@gmail.comRosa Damayantadelliasari496@gmail.comAndi Saputraadelliasari496@gmail.com<p>Kucing (Felis catus) merupakan hewan domestik yang hidup berdampingan dengan manusia dan memiliki perilaku yang unik, terutama pada individu yang hidup secara liar di lingkungan perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan mendeskripsikan perilaku harian kucing liar betina di sekitar Lorong Wakaf III, Palembang. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui observasi langsung selama tujuh hari berturut-turut (1–7 Mei 2025), masing-masing pada pukul 08.00, 12.00, dan 16.00 WIB selama 20 menit setiap sesi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kucing liar menampilkan berbagai kategori perilaku seperti perilaku sosial, makan, merawat diri, eksplorasi, agresif, perlindungan diri, dan pasif. Perilaku yang paling sering muncul adalah perilaku merawat diri seperti menjilati tubuhdan tidur, serta perilaku sosial seperti mengeong dan berinteraksi dengan manusia. Temuan ini menunjukkan bahwa kucing liar memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan urban, baik dalam menjaga kebersihan tubuh maupun menjalin interaksi sosial.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Adelliasari, Rosa Damayant, Andi Saputrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1161Investigasi Cemaran Escherichia coli dan Salmonella sp. pada Daging Ikan Giling yang di Jual di Pasar Tradisional Kota Palembang2025-12-17T06:46:02+00:00Ainun Jariyahririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idSuci Utamiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Kontaminasi mikroba pada produk pangan, khususnya daging ikan giling, merupakan isu penting dalam menjamin kualitas dan keamanan konsumsi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran bakteri Escherichia coli dan Salmonella sp. pada daging ikan giling yang dijual di pasar tradisional di Palembang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pengambilan 10 sampel dari berbagai jenis ikan seperti kakap, tenggiri, dan gabus. Sampel diuji menggunakan media selektif Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) untuk mendeteksi cemaran Escherichia coli dan media Salmonella Shigella Agar (SSA) untuk mendeteksi cemaran Salmonella sp. Hasil menunjukkan bahwa 8 dari 10 sampel positif mengandung Escherichia coli dan 3 sampel positif mengandung Salmonella sp. penemuan ini menekankan pentingnya penerapan sanitasi yang baik dalam proses penanganan dan pengolahan ikan guna mencegah risiko penyakit akibat kontaminasi bakteri patogen.<br><br></p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ainun Jariyah, Suci Utami, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1179Studi Perilaku Agresif Monyet Ekor Panjang Jantan (Macaca fascicularis) Terhadap Pola Makan di Taman Wisata Alam Punti Kayu Palembang 2025-12-18T10:46:04+00:00Bunga Citra Dewifitrijuneli@gmail.comFitri Junelifitrijuneli@gmail.comAndi Saputrafitrijuneli@gmail.com<p>Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah primata yang berhasil dalam hal kelangsungan hidup dan penyebarannya serta memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Perilaku makan tidak hanya terkait dengan kebutuhan nutrisi, tetapi juga berhubungan erat dengan interaksi sosial, termasuk munculnya perilaku agresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perilaku agresif yang terjadi saat makan serta apa saja faktor yang memicu. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 29 April 2025 di TWA Punti Kayu Palembang, menggunakan metode observasi focal animal sampling pada tiga periode waktu, yaitu pagi pukul 08.00-10.00 WIB, siang pukul 10.00-13.00 WIB, dan sore hari pukul 13.00-17.00 WIB, untuk mencatat secara detail perilaku agresif yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku agresif terjadi saat monyet ekor panjang jantan bersaing untuk mendapatkan makanan. Faktor perilaku agresif MEP jantan di TWA Punti Kayu seperti mengeram, dan mengejar dipicu oleh kurangnya ketersediaan makanan di habitatnya sehingga monyet sering menyerang pengunjung untuk mendapatkan makanan. Interaksi manusia mempengaruhi pola makan dan meningkatkan potensi konflik, sehingga perlu pengelolaan interaksi demi mendukung konservasi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Bunga Citra Dewi, Fitri Juneli, Andi Saputrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1195Analisis Pengelolaan Ampas Tahu Berkelanjutan Dari Limbah Menjadi Pakan Ternak Di Pabrik Tahu Kopti Ilir Barat 1 Kota Palembang2025-12-19T11:18:49+00:00Yeyen Yeyenyeyenanggraini14@gmail.comLevi Meylisayeyenanggraini14@gmail.comLedis Heru Saryono Putroyeyenanggraini14@gmail.com<p>Studi ini mengakaji pengelolaan sampah di Pabrik Tahu Kopti Ilir Barat 1, Palembang yang memproduksi 500 Kg tahu goreng setiap hari , menghasilkan 150kg ampas kedelai serta limbah cair. Selama produksi, Pabrik menggunakan 6.000 liter air untuk membersihkan kacang kedelai, ditambah 200 liter untuk membersihkan peralatan. Limbah air yang dihasilkan meliputi 60 liter perkarung untuk air rebus, ditambah 180 liter air rendaman dan 20 liter tetesan dari alat yang sudah dicuci. Jumlah limbah cair mencapai 6.460 liter setiap hari. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengelolaan limbah, pengaruhnya terhadap lingkungan terhadap lingkungan, dan penggunaan limbah untuk keberlanjutan. Data menunjukkann bahwa ampas tahu yang bernutrisi digunakan sebagai pangan hewan, memingkatkan hasil bagi ternak. Walaupun pengelolaan limbah padat sudah maksimal, limbah cair tetap berisiko mencemari lingkungan. Anjuran meliputi penerapan teknologi hijau untuk limbah cair, pelatihan bagi perternak mengenai pemanfaatan ampas, serta penelitian lanjutan untuk menyelidiki potensi ampas tahu. Studi ini mendukung keberlansungan industri tahu serta kesejahteraan komunitas di sekitar.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Yeyen Yeyen, Levi Meylisa, Ledis Heru Saryono Putrohttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1219Budidaya Tanaman Bayam Hijau (Amarathus spp.) secara hidroponik dengan sistem DFT2025-12-22T04:10:16+00:00Amelia Dwi Putriameliadwiputri1504@gmail.comResti Fevriaameliadwiputri1504@gmail.com<p>Sayuran merupakan salah satu sumber vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan untuk memahami asupan gizi pada manusia. Salah satu sayuran yang digemari oleh Masyarakat karena nilai gizinya yang sangat tinggi dan mudah ditemukan adalah tanaman bayam, Bayam juga memiliki beberapa manfaat diantaranya dapat memperbaiki daya kerja ginjal dan melancarkan pencernaan Bayam adalah tanaman sayur yang kaya akan protein, sumber pro vitamin A, B, C, serat dalam jumlah besar dan mengandung asam oksalat yang tinggi pada jaringan daun. Selain itu bayam juga kaya akan kandungan mineral, kalsium, zat besi, magnesium, fosfor dan kandungan hidrat arang bayam cukup tinggi dalam bentuk serat solulosa yang tidak tercerna. Serat tidak tercerna ini berperan penting dalam membantu proses pencernaan lambung. Salah satunya adalah pembudidayaan bayam menggunakan metode hidroponik. Hidroponik merupakan metode pertanian tanpa menggunakan tanah, di mana nutrisi yang diperlukan tanaman disuplai melalui larutan nutrisi yang terdapat dalam air, unsur hara dan oksigen sebagai medianya dengan beberapa system, salah satunya DFT (Deep Flow Technique). DFT adalah sistem hidroponik yang mirip dengan NFT, tetapi menggunakan nutrisi yang lebih dalam, sehingga akar akan tanaman terendam Sebagian dalam air.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Amelia Dwi Putri, Resti Fevriahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1235Isolasi dan Karakterisasi Genus Bakteri Asam Laktat dari Yoghurt Komersial Inisial Yu2025-12-22T06:48:19+00:00Muhammad Fazly Mawlanbllzzhraa@gmail.comNabilla Azzahranbllzzhraa@gmail.comCamalia Mukti Wulandarinbllzzhraa@gmail.comMegga Ratnasari Pikolinbllzzhraa@gmail.com<p>Yoghurt merupakan produk fermentasi susu yang populer karena kandungan bakteri asam laktat (BAL) yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi genus BAL dari yoghurt komersial merek Yu. Isolasi dilakukan menggunakan media selektif MRS agar melalui metode pengenceran serial, diikuti identifikasi morfologi koloni dan pengamatan mikroskopis setelah pewarnaan sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koloni yang diisolasi memiliki morfologi kokus, tersusun dalam rantai pendek, yang diduga kuat sebagai Streptococcus. Tidak terdeteksi Lactobacillus acidophilus maupun Bifidobacterium. Penghitungan Total Plate Count (TPC) menunjukkan jumlah BAL sebesar 1,0 × 10⁸ CFU/mL, memenuhi dengan standar minimal SNI 2981:2009 yaitu 10⁷ CFU/mL. Hasil ini menegaskan bahwa yoghurt komersial tersebut mengandung BAL hidup dalam jumlah yang memadai, dengan Streptococcus sebagai genus dominan. Penelitian ini memberikan dasar penting untuk pengembangan produk fermentasi berkualitas dan peningkatan kontrol mutu yoghurt komersial.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Fazly Mawla, Nabilla Azzahra, Camalia Mukti Wulandari, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1253Pentingnya Kesadaran dan Penanganan Risiko Bahan Kimia dalam Menjamin Kesehatan serta Keselamatan Kerja (K3) di Laboratorium2025-12-22T08:52:28+00:00Serli Sri Wahyunifitriolvia911@gmail.comHilda Fadillahfitriolvia911@gmail.comFebi Anggrainifitriolvia911@gmail.comNatasya Rahiimahfitriolvia911@gmail.comSalli Al Fadilafitriolvia911@gmail.comFitri Olvia Rahmifitriolvia911@gmail.com<p>Laboratorium merupakan tempat kerja yang memiliki resiko tinggi karena penggunaan bahan kimia yang berbahaya. Penerapan prinsip K3 sangat penting untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi yang bekerja di laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesadaran dan penanganan resiko bahan kimia dalam menjamin kesehatan dan keselamatan kerja (K3) di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Padang. Penelitian dilaksanakan selama dua minggu dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif melalui wawancara dan angket kepada 31 praktikan. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman cukup baik mengenai prinsip K3. Namun, hanya 54,8% yang pernah mengikuti simulasi tanggap darurat, dan masih terdapat kekurangan dalam penyediaan SOP tertulis serta pelatihan praktis. Temuan ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara pemahaman teoritis dan kesiapan praktis dalam menghadapi insiden laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan penguatan sistem pelatihan keselamatan, pelaksanaan simulasi berkala, serta penyusunan SOP sebagai bentuk pencegahan dan perlindungan jangka panjang terhadap risiko kerja di laboratorium.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Serli Sri Wahyuni, Hilda Fadillah, Febi Anggraini, Natasya Rahiimah, Salli Al Fadila, Fitri Olvia Rahmihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1270Isolasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dari Yoghurt Komersial “YS” untuk Menilai Kesesuaian terhadap SNI Yoghurt (Konsentrasi Bakteri Laktat dan pH)2025-12-23T08:51:11+00:00Fani Afif Fadilahfaniafif450@gmail.comNabila Kanaya Khairunnisafaniafif450@gmail.comSyalsya Rezky Alamsyahfaniafif450@gmail.comLutfi Athallah Wijayafaniafif450@gmail.comMegga Ratnasari Pikolifaniafif450@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri asam laktat (BAL) dari yoghurt komersial merk “YS”, serta mengevaluasi kesesuaiannya terhadap standar mutu SNI 29831:2009 berdasarkan parameter pH dan karakteristik mikroorganisme. Isolasi BAL dilakukan melalui metode pengenceran bertingkat, dilanjutkan dengan penanaman pada media de Man Rogosa and Sharpe Agar (MRSA), penghitungan jumlah koloni, serta karakterisasi isolat secara makroskopis dan mikroskopis. Nilai pH diukur menggunakan pH meter digital. Hasil menunjukkan bahwa pH yoghurt berada pada kisaran 3,54–3,57, lebih rendah dari ambang batas SNI 29831:2009 (3,80–4,50) mengindikasikan tingkat aktivitas fermentasi yang tinggi. Berdasarkan identifikasi, isolat bakteri yang ditemukan merupakan Streptococcus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fani Afif Fadilah, Nabila Kanaya Khairunnisa, Syalsya Rezky Alamsyah, Lutfi Athallah Wijaya, Megga Ratnasari Pikolihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1287Aplikasi Metode MPN untuk Deteksi Coliform dan Colifecal sebagai Parameter Kualitas Air Sungai2025-12-27T23:48:43+00:00Nabillla Yoantristanabillayoantrista@gmail.comElsa Yuniartinabillayoantrista@gmail.com<p>Sungai merupakan komponen vital dalam siklus hidrologi yang berfungsi sebagai sumber air bagi berbagai aktivitas manusia, termasuk konsumsi, pertanian, dan rekreasi. Namun, peningkatan aktivitas phatogen berpotensi menurunkan kualitas air, khususnya dari aspek mikrobiologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan bakteri Coliform dan Fecal Coliform pada air sungai menggunakan metode Most Probable Number (MPN) sebagai parameter kualitas mikrobiologi, mengacu pada baku mutu air kelas II menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2021. Penelitian dilakukan secara deskriptif di UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Barat pada tiga titik lokasi aliran Sungai Batang (hulu, tengah, dan hilir). Sampel diuji menggunakan uji pendugaan dan uji penegasan dengan media LB dan BGLB, serta dihitung melalui tabel MPN ragam II. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsentrasi Coliform dan Fecal Coliform tertinggi terdapat pada lokasi hilir, yaitu sebesar 22.000 MPN/100 mL dan 1.700 MPN/100 mL. Lokasi hulu dan tengah masih menunjukkan nilai di bawah ambang batas baku mutu yang ditetapkan, yakni masing-masing sebesar 540 dan 920 MPN/100 mL untuk Coliform, serta 43 dan 170 MPN/100 mL untuk Fecal Coliform. Dengan demikian, air di lokasi hilir telah tercemar secara mikrobiologis dan tidak layak digunakan tanpa pengolahan. Temuan ini menegaskan pentingnya pengawasan terhadap limbah domestik dan aktivitas di sepanjang daerah aliran sungai guna menjaga keberlanjutan ekosistem dan kesehatan masyarakat</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nabillla Yoantrista, Elsa Yuniartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1133Diferensiasi Sel Bakteri: Kajian Eksperimental Melalui Praktikum Mikrobiologi2025-12-15T08:21:14+00:00Putri Febrianisitisoleha@radenfatah.ac.idPutri Famaliasitisoleha@radenfatah.ac.idRheza Dwi Utamisitisoleha@radenfatah.ac.idNabila Annisa Rahmasitisoleha@radenfatah.ac.idSahrul Sahrulsitisoleha@radenfatah.ac.idMaya Sarisitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Diferensiasi sel merupakan perubahan bakteri pada morfologi, fisiologi, atau perilaku sebagai respons terhadap kondisi lingkungan atau sebagai bagian dari siklus hidupnya. Kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti kekurangan nutrisi atau suhu ekstrem, bakteri ini dapat membentuk struktur endospora yang sangat tahan terhadap panas, radiasi, dan bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati proses diferensiasi sel khususnya pada Bacillus sp. dan untuk mengetahui waktu pembentukkan serta perkembangan spora selama proses sporulasi. Struktur endospora diamati dengan cara mengginokulasikan Bacillus sp. ke dalam media Nutrient Broth dan TYGE, kemudian diinkubasi dan diamati setiap enam jam. Pengamatan dilakukan menggunakan mikroskop setelah pewarnaan endospora dengan Malachite Green dan safranin. Hasil menunjukkan adanya perubahan morfologi sel dari bentuk batang (basil) hingga tampak struktur spora. Pada pengamatan mikroskop perbesaran 100x pukul 14.30 dan 18.00, sel berbentuk basil tersebar merata. Pada perbesaran 40x pukul 12.00 terlihat batang dengan bagian bulat yang menunjukkan pembentukan endospora. Pada pukul 17.00, tampak warna hijau yang mengindikasikan keberadaan Bacillus sp.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Putri Febriani, Putri Famalia, Rheza Dwi Utami, Nabila Annisa Rahma, Sahrul Sahrul, Maya Sari, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1149Analisis Kontaminasi Bakteri Salmonella Sp dan Escherichia coli pada Produk Kemasan dan Olahan Daging Ikan Giling di Pasar 10 Ulu Kota Palembang2025-12-15T14:15:11+00:00Septa Ardiyan Muka Rohmaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idSiti Elisya Balkiaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idPratika Zelpiaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Ikan dan produk daging umumnya mengandung protein serta air dalam jumlah tinggi, sehingga rentan terhadap kontaminasi mikrobiologis. Seiring meningkatnya gaya hidup praktis, produk olahan ikan seperti daging ikan giling dalam kemasan semakin populer di pasar tradisional. Meski praktis, produk ini berisiko terkontaminasi bakteri patogen seperti Salmonella sp. dan Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keberadaan Salmonella sp. dan E. coli pada produk olahan ikan menggunakan media selektif SSA dan EMBA. Metode yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif berupa pengujian cemaran bakteri Salmonella sp., dan Escherichia coli. Sebanyak 10 sampel dikumpulkan dari 5 pedagang Pasar 10 Ulu Palembang. Uji dilakukan dengan metode gores pada media selektif untuk memperkirakan kontaminasi bakteri. Hasil menunjukkan 5 sampel otak-otak, tekwan, pempek lenjer, pempek telur, dan pempek keriting positif mengandung Salmonella sp. Sementara itu, pempek lenjer juga terdeteksi mengandung E. coli. Temuan ini menunjukkan perlunya pengawasan ketat terhadap keamanan dan kebersihan produk olahan ikan guna melindungi konsumen dari risiko penyakit bawaan makanan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Septa Ardiyan Muka Rohma, Siti Elisya Balkia, Pratika Zelpia, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1170Respon Tanaman Sawi Caisim (Brassica juncea L.) Terhadap Pemberian Pepaya Busuk Sebagai Pupuk Organik Cair 2025-12-18T08:09:39+00:00Bunga Citra Dewibungacitra0501@gmail.comFitri Junelibungacitra0501@gmail.comGusti Aryantibungacitra0501@gmail.comBinar Azwar Anas Harfianbungacitra0501@gmail.com<p>Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman sawi (Brassica juncea L.) adalah melalui kegiatan pemupukan yang tepat dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk dapat melihat respon tanaman sawi caisim terhadap POC dari pepaya busuk. Alat dan bahan yang digunakan yaitu polybag, bibit sawi caisim, POC dari pepaya busuk yang siap digunakan, tanah, kompos dan air. Metode yang digunakan yaitu RAL dengan analisis sidik ragam (ANOVA). Metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan dengan empat perlakuan konsentrasi POC (0%, 20%, 40%, 60%) dan dua ulangan. Namun, karena kematian tanaman pada perlakuan 60%, analisis hanya mencakup 0%, 20%, dan 40%. Hasil analisis ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan (p>0.05) pada variabel pertumbuhan (jumlah helai daun, panjang batang, lebar daun, panjang daun) di antara perlakuan POC. POC ini berdampak signifikan terutama pada konsentrasi perlakuan II. Kandungan nutrisi dalam POC meningkatkan jumlah daun, panjang batang, dan ukuran daun. Namun, konsentrasi POC yang terlalu tinggi (Perlakuan IV) terbukti toksik dan menyebabkan kematian tanaman. Oleh karena itu, penggunaan POC dari limbah pepaya sebagai pupuk yang efektif dan ramah lingkungan memerlukan penyesuaian konsentrasi yang optimal untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman dan menghindari efek negatif.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Bunga Citra Dewi, Fitri Juneli, Gusti Aryanti, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1186Pengaruh konsentrasi pemberian Pupuk (POC) Air Kelapa Dan Air Cucisn Beras Terhadap Pertumbuhan Sawi Cesim (Brassica Juncea L.)2025-12-18T15:23:56+00:00Bela Sintiabinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idLevi Meylisabinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.idBinar Azwar Anas Harfianbinarazwaranasharfian_uin@radenfatah.ac.id<p>Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak (RAL), yang terdiri dari lima perlakuan dosis pupuk organik cair (POC) (0 mililiter, 15 mililiter, 20 mililiter, 30 mililiter, dan 45 mililiter). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dampak berbagai konsentrasi POC terhadap pertumbuhan tanaman sayur cesim (Brassica juncea L.) dengan lima ulangan. Jumlah daun dan tinggi tanaman diukur setelah tiga puluh harisetelah penanaman. Penelitian ini menunjukan bahwa perlakuan tanpa POC (kontrol) memberikan pertumbuhan terbaik; perlakuan ini menghasilkan 10 daun per minggu dan tinggi 8 cm per minggu. Pada tingkat 5%, analisis ANOVA menunjukkan adanya pengaruh signifikasi, tetapi tidak pada tingkat 1% agar memperoleh hasil optimal, dosisi POC yang akurat dari bahan alami ini perlu disesuaikan. Hal ini disebabkan oleh dosis POC yag terlalu tinggi cenderung menghasilkan menghasilkan stres fisiologis dan mengganggu proses penyerapan nutrisi, yang menghalangi pertumbuhan tanaman. Studi ini bertujuan untuk mendukung praktik pertanian organik yang mengandalkan pemanfaatan limbah rumah tangga dengan cara yang ramah lingkungan</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Bela Sintia, Levi Meylisa, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1203Efektivitas ZPT Alami Dari Bawang Merah (Allium cepa L.) Dan ZPT Sintetis Giberelin Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Bayam Merah (Amaranthus tricolor L.) 2025-12-19T15:58:45+00:00Nopriandiandinopri98@gmail.comNur Ainun Nazirahandinopri98@gmail.comAisya Nur Hafizahandinopri98@gmail.comBinar Azwar Anas Harfianandinopri98@gmail.com<p>Pertanian modern kini semakin berorientasi pada prinsip keberlanjutan, mengedepankan efisiensi sumber daya, kelestarian lingkungan, dan keamanan pangan. Dalam budidaya tanaman, penggunaan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) sangat vital untuk meningkatkan pertumbuhan, perkembangan, serta hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas ZPT alami dari ekstrak bawang merah (Allium cepa L) dan ZPT sintetis giberelin (GA₃) terhadap pertumbuhan bayam merah (Amaranthus tricolor L.). Riset ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan: kontrol, dua konsentrasi ekstrak bawang merah (100 g/L dan 200 g/L), serta dua konsentrasi GA₃ (150 ppm dan 200 ppm). Parameter yang diamati meliputi jumlah daun, tinggi tanaman, panjang akar, dan berat basah.Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian ZPT secara signifikan memengaruhi jumlah daun. Perlakuan dengan GA₃ (150 dan 200 ppm) memberikan hasil terbaik, diikuti oleh ekstrak bawang merah dosis tinggi. Namun, parameter lain seperti tinggi tanaman, panjang akar, dan berat basah tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Ini mengindikasikan bahwa jumlah daun adalah indikator paling responsif terhadap aplikasi ZPT pada fase akhir pertumbuhan. Temuan ini mendukung pemanfaatan ZPT alami sebagai alternatif ramah lingkungan yang berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman berdaun seperti bayam merah.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nopriandi, Nur Ainun Nazirah, Aisya Nur Hafizah, Binar Azwar Anas Harfianhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1210TEKNIK KULTUR Nannocloropsis oculata DENGAN SKALA LABORATORIUM DI UPTD BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR LAUT DAN PAYAU (BPALP) TELUK BUO, SUMATERA BARAT 2025-12-22T02:46:50+00:00Raesya Cholidaresyach@gmail.comAbdul Razakresyach@gmail.com<p>Nannochloropsis oculata merupakan mikroalga yang digunakan secara luas dalam akuakultur sebagai pakan alami karena kandungan protein, asam lemak tak jenuh (EPA), dan vitamin yang tinggi. Kultur dilakukan selama lima hari dengan pemantauan terhadap parameter kualitas air (suhu, pH, salinitas) dan kepadatan sel. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kepadatan sel hingga mencapai puncaknya pada hari kelima. Fase pertumbuhan yang diamati meliputi fase lag, eksponensial, stasioner, dan kematian. Faktor lingkungan seperti pencahayaan, aerasi, salinitas, dan ketersediaan nutrien memengaruhi laju pertumbuhan mikroalga. Kultur skala massal memerlukan kontrol lingkungan yang lebih kompleks namun menjanjikan produksi biomassa yang lebih tinggi. Tahap pemanenan dilakukan pada fase eksponensial akhir untuk mempertahankan kualitas dan kuantitas biomassa secara optimal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Raesya Cholida, Abdul Razakhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1226Analisis Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Pada Tanaman Padi di Kabupaten Pesisir Selatan Bulan Februari 20242025-12-22T04:50:00+00:00Annisa Khairaniannisakhairanii133@gmail.comMoralita Chatriannisakhairanii133@gmail.comBetriyeni Betriyeniannisakhairanii133@gmail.com<p>Penyebab utama yang dapat menurunkan produktivitas padi di banyak daerah, termasuk Kabupaten Pesisir Selatan, adalah organisme pengganggu tanaman (OPT). Menganalisis tingkat keparahan serangan serangga pada tanaman padi pada bulan Februari 2024 di berbagai kecamatan di Kabupaten Pesisir Selatan adalah tujuan dari penelitian ini. Metodologi deskriptif kuantitatif, berdasarkan data sekunder dari pemantauan lapangan oleh staf Dinas Pertanian setempat, digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dengan luas serangan 34,80 hektar, tikus merupakan hama yang paling banyak menyerang tanaman padi. Wereng batang coklat (WBC) berada di urutan kedua dengan luas serangan 24,00 hektar, dan penggerek batang dengan luas serangan 8,50 hektar. Dengan luas serangan 20,00 hektar, Batang Kapas merupakan kecamatan dengan masalah hama tikus terparah. Meskipun ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil, hama lain seperti blas, ngengat tanah, dan kutu kebul juga teridentifikasi. Temuan ini berfungsi sebagai dasar untuk saran di masa depan untuk kebijakan perlindungan tanaman dan menawarkan wawasan yang signifikan untuk inisiatif pengelolaan hama terpadu.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisa Khairani, Moralita Chatri, Betriyeni Betriyenihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1243Etnobotani Musaceae Pada Tradisi Upacara Adat Babaritan di Desa Kranggan, Jawa Barat 2025-12-22T07:57:21+00:00Balgis Yusfira Zahraeigaandini03@gmail.comEiga Andinieigaandini03@gmail.comPriyanti Priyantieigaandini03@gmail.comArdian Khairiaheigaandini03@gmail.com<p>Upacara Adat Babaritan merupakan salah satu tradisi masyarakat Sunda yang masih dilestarikan di Desa Kranggan. Tradisi ini memanfaatkan tumbuhan secara tradisional, salah satunya adalah tanaman dari keluarga Musaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengidentifikasi, serta menggali peran tanaman pisang yang terdapat pada upacara adat babaritan. Metode penelitian yang digunakan, yaitu purposive sampling, survei lapangan, dan membagikan kuesioner melalui google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh macam pisang yang digunakan, diantaranya pisang raja, pisang ambon, pisang tanduk, pisang nangka, pisang kepok, pisang barangan, dan pisang mas. Berbagai bagian tanaman pisang, seperti buah, daun, jantung dan batangnya, telah dimanfaatkan dalam upacara adat babaritan. Serta dalam peletakkan penyajiannya dibedakan menjadi 3, yaitu dipermukaan tanah, di bawah tanah, dan digantung di atas pohon. Untuk buahnya digunakan sebagai sajian makanan, daunnya dimanfaatkan sebagai wadah makanan, jantung pisang diolah menjadi makanan dan batangnya digunakan sebagai penyanggah. </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Balgis Yusfira Zahra, Eiga Andini, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1260Valuasi Tanaman Timun (Cucumis sativus L.) sebagai Tanaman Obat di Pasar Tradisional Ciputat 2025-12-22T09:45:16+00:00Fatihatun Mahmudfatihatunmahmud@gmail.comIlma Mahdalenafatihatunmahmud@gmail.comPriyanti Priyantifatihatunmahmud@gmail.comArdian Khairiahfatihatunmahmud@gmail.com<p>Pemahaman masyarakat terhadap manfaat tanaman berperan penting dalam upaya pelestarian dan pemanfaatannya. Namun, pemanfaatan timun (Cucumis sativus L.) sebagai tanaman obat belum banyak diketahui. Penilaian timun sebagai tanaman obat dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dengan penjual dan pembeli terpilih secara purposive. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana valuasi timun sebagai tanaman obat di kalangan penjual dan pembeli di Pasar Ciputat. Kegiatan ini dilaksanakan di Pasar Ciputat pada Sabtu, 26 April 2025. Berdasarkan hasil wawancara, sebagian besar responden hanya mengenal timun sebagai bahan konsumsi, seperti lalapan atau campuran minuman. Beberapa responden menyebutkan manfaat timun untuk perawatan wajah dan penurun tekanan darah. Pengetahuan terhadap khasiat lain, seperti sebagai peluruh urin, pereda nyeri sendi, dan pelindung ginjal, belum banyak diketahui. Sejumlah kecil responden menyampaikan informasi mengenai asal timun dari pasar induk dan harga yang berubah-ubah. Penjualan timun yang tinggi juga hanya berdasarkan kebutuhan konsumsi pribadi. Penilaian masyarakat terhadap timun sebagai tanaman obat masih rendah, menunjukkan kurangnya perhatian terhadap pemanfaatannya di pasar tradisional. Karena itu, penyuluhan tentang potensi tanaman lokal sebagai obat perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fatihatun Mahmud, Ilma Mahdalena, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1277Implementasi Sistem Sosial Ekologi Pada Penataan Zona Pengelolaan di Taman Nasional Karimunjawa 2025-12-23T14:32:04+00:00Susi Sumaryati susilinky@gmail.comPuji Prihatinningsih susilinky@gmail.comSukma Raharja Tarigansusilinky@gmail.comRipanto Ripantosusilinky@gmail.comJamaludin Jamaludinsusilinky@gmail.comJessica Pinkansusilinky@gmail.com<p>Taman Nasional Karimunjawa merupakan kawasan konservasi dengan luas 111.625 Ha. Kawasan ini menjadi satu satunya kawasan pelestarian alam perairan di Provinsi Jawa Tengah. Pengelolaan kawasan menggunakan sistem zonasi. Dinamika pengelolaan kawasan konservasi tercermin pada perubahan zona yang terjadi pada tahun 2001, 2005, 2010, 2012 dan 2023. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan implementasi sistem sosial ekologi pada penataan zona pengelolaan taman nasional di tahun 2023. Aspek yang menjadi pertimbangan pada penataan zona Taman Nasional Karimunjawa meliputi aspek ekologi, sosial, ekonomi dan pola pemanfaatan. Penataan zona diawali dengan melakukan pengumpulan data pada ekosistem terumbu karang, lamun, mangrove, dan hutan tropis dataran rendah. Ekosistem hutan tropis dataran rendah dan mangrove dianalisis menggunakan pendekatan sensivitas ekologi, sedangkan untuk perairan menggunakan analisis Marxan. Dari hasil tersebut didapatkan rancangan zona pengelolaan yang kemudian dibahas melalui Focus Group Discussion kepada masyarakat di sekitar kawasan pada tingkat desa, kecamatan, kabupaten dan provinsi. Perubahan pada rancangan zona dilakukan dengan pertimbangan dari hasil pembahasan pada saat FGD. Zona Pengelolaan Taman Nasional Karimunjawa yang dihasilkan menunjukkan keselarasan antara kepentingan konservasi kawasan, instansi terkait dan masyarakat di sekitar kawasan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Susi Sumaryati , Puji Prihatinningsih , Sukma Raharja Tarigan, Ripanto Ripanto, Jamaludin Jamaludin, Jessica Pinkanhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1140Keanekaragaman Araceae di Taman Fakultas Pertanian, Universitas Islam Al-Azhar 2025-12-15T08:57:46+00:00Nesya Velina Putri Priyagungnesyaavelin@gmail.comSuriatul Ummahnesyaavelin@gmail.comSlamet Mardiyanto Rahayunesyaavelin@gmail.com<p>Fakultas pertanian merupakan salah satu fakultas yang ada di Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan status konservasi spesies yang termasuk dalam familia Araceae di Taman Fakultas Pertanian Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian dilakukan melalui observasi dan identifikasi serta penelusuran status konservasi. Berdasarkan penelitian terdapat 6 spesies yang termasuk familia Araceae di Taman Fakultas Pertanian Universita Islam Al-Azhar, yaitu: Epipremnum tetrasperma, Zamioculcas zamiifolia, Aglaonema commutatum, Anthurium crystallinum, Spathiphyllum blandum, dan Colocasia esculenta.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nesya Velina Putri Priyagung, Suriatul Ummah, Slamet Mardiyanto Rahayuhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1159KARAKTERISASI ISOLAT TP04 BERDASARKAN UJI FISIOLOGI DAN BIOKIMIA DALAM PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI2025-12-17T06:36:04+00:00Sonia Soniasitisoleha@radenfatah.ac.idDinda Rehasitisoleha@radenfatah.ac.idSelvina Yuliasarisitisoleha@radenfatah.ac.idAn’nisa Ferbetsitisoleha@radenfatah.ac.idMuhammad Hafidzinsitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Pendekatan fisiologi dan biokimia dalam karakterisasi bakteri merupakan metode yang lebih akurat dibandingkan identifikasi berdasarkan karakter morfologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisiologi dan biokimia isolat TP04 melalui serangkaian uji standar mikrobiologi. Penelitian dilakukan pada bulan April 2025 di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang menggunakan isolat bakteri dengan kode TP04. Metode penelitian meliputi uji kebutuhan oksigen, uji indol, katalase, sitrat, urease, fermentasi karbohidrat, dan uji MR-VP (Methyl Red-Voges Proskauer). Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat TP04 merupakan bakteri anaerob fakultatif dengan memiliki karakteristik VP (-), urease (+), SIM (-), sitrat (-), MR (+), dan katalase (-). Pada uji fermentasi karbohidrat, isolat menunjukkan hasil positif terhadap glukosa, sukrosa, dan laktosa, namun negatif terhadap manitol. Kombinasi hasil uji fisiologi dan biokimia ini mengindikasikan bahwa isolat TP04 memiliki kemampuan metabolik spesifik yang dapat digunakan untuk identifikasi bakteri dan berpotensi untuk aplikasi dalam bidang lingkungan atau bioteknologi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Sonia Sonia, Dinda Reha, Selvina Yuliasari, An’nisa Ferbet, Muhammad Hafidzin, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1177Pengaruh Suhu Dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Sifat Organeleptik Kombucha Teh Hijau (Camellia Sinensis) 2025-12-18T10:32:52+00:00Disi Martilisitisoleha@radenfatah.ac.idSelvia Balqissitisoleha@radenfatah.ac.idFatimah Aminul Umahsitisoleha@radenfatah.ac.idDini Solehatul Jannahsitisoleha@radenfatah.ac.idSiti Solehasitisoleha@radenfatah.ac.id<p>Kombucha teh hijau (Camellia sinensis) merupakan minuman hasil fermentasi yang semakin populer karena kandungan antioksidannya yang tinggi dan potensi manfaat kesehatannya. Fermentasi dilakukan oleh koloni simbiotik bakteri dan ragi (SCOBY) yang mengubah larutan teh manis menjadi minuman kaya senyawa bioaktif. Kombucha difermentasikan pada suhu 4°C, 25°C, dan 30°C, dengan pengamatan dilakukan setiap dua hari selama 14 hari, sebagai upaya penelitian ini yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama fermentasi terhadap sifat organoleptic (aroma, rasa, dan juga warna) pada kombucha teh hijau tersebut. Pembuatan kombucha dilakukan dengan menyeduh teh hijau, menambahkan gula, dan menginkubasi larutan dengan starter kombucha serta SCOBY. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa selama proses fermentasi terjadi perubahan signifikan pada aroma, rasa, dan warna kombucha. Pada tahap awal fermentasi, kombucha memiliki rasa dan aroma yang ringan dan seimbang, namun seiring waktu fermentasi, rasa menjadi lebih asam dan aroma semakin tajam akibat peningkatan produksi asam organik. Suhu 25°C menghasilkan kualitas organoleptik terbaik dengan keseimbangan rasa, aroma, dan warna.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Disi Martili, Selvia Balqis, Fatimah Aminul Umah, Dini Solehatul Jannah, Siti Solehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1193Uji Cemaran Bakteri Escherichia coli dan Salmonella spp pada Sayur yang Dijual di Pasar Tradisional 7 Ulu dan Pasar Modern Fresh Ulu Kertapati di Kota Palembang 2025-12-18T17:04:07+00:00Muhammad Haidilririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idEvans Aditya Pratamaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idM Deni Irawanririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Sayuran merupakan komoditas pangan penting karena kaya akan vitamin, mineral, dan serat, serta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Namun, sayuran segar juga rentan terhadap kontaminasi mikroorganisme patogen apabila tidak ditangani dengan sanitasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Escherichia coli dan Salmonella spp. pada sayuran segar yang dijual di Pasar Tradisional 7 Ulu dan Pasar Modern Fresh Ulu Kertapati, Kota Palembang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan identifikasi Bakteri menggunakan media selektif. Pengujian dilakukan terhadap 10 sampel sayuran menggunakan media Eosin Methylene Blue Agar (EMBA) untuk mengidentifikasi Escherichia coli dan Salmonella Shigella Agar (SSA) untuk mengidentifikasi Salmonella spp. Inkubasi dilakukan pada suhu 37 °C selama 24 jam. Hasil menunjukkan bahwa 4 sampel teridentifikasi mengandung E. coli, 3 sampel mengandung Salmonella spp., dan 1 sampel terkontaminasi oleh kedua bakteri tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa baik pasar tradisional maupun pasar modern Fresh Ulu belum sepenuhnya bebas dari kontaminasi mikrobiologis. Kontaminasi diduga terjadi akibat rendahnya sanitasi pada proses panen, distribusi, dan penanganan sayuran. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan sanitasi yang lebih ketat pada setiap tahapan rantai pasok serta edukasi kepada pelaku usaha dan konsumen untuk mengurangi risiko penyakit akibat konsumsi sayuran segar yang terkontaminasi.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Haidil, Evans Aditya Pratama, M Deni Irawan, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1217Pengaruh Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) : Literature Review 2025-12-22T03:53:03+00:00Silvia Ayundasilviaayunda345@gmail.comReki Kardimansilviaayunda345@gmail.com<p>Selada (Lactuca sativa L.) merupakan salah satu sayuran yang memiliki nilai gizi tinggi dan permintaan pasar yang terus meningkat. Namun, penggunaan pupuk anorganik dalam budidayanya secara berlebihan dapat menurunkan kesuburan tanah dan berdampak negatif terhadap lingkungan. Sebagai alternatif, pendekatan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan pupuk hayati seperti Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) mulai dikembangkan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh PGPR terhadap pertumbuhan tanaman selada melalui studi literatur dari berbagai hasil penelitian sebelumnya. Metode yang digunakan adalah Studi literatur terhadap artikel-artikel ilmiah relevan yang diterbitkan dalam kurun waktu lima belas tahun terakhir. Hasil kajian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR mampu meningkatkan berbagai parameter pertumbuhan selada, seperti tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar, serta luas daun. Beberapa penelitian juga menunjukkan efektivitas konsentrasi dan frekuensi aplikasi tertentu dalam meningkatkan hasil yang optimal. Kajian ini mempertegas potensi PGPR sebagai alternatif pupuk ramah lingkungan yang mendukung produktivitas dan keberlanjutan sistem pertanian, khususnya dalam budidaya selada.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Silvia Ayunda, Reki Kardimanhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1233Pemanfaatan Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Obat Tradisional di Kelurahan Serua, Kota Tangerang Selatan 2025-12-22T05:31:50+00:00Arina Qurrata A’yunarinaqurrataa2610@gmail.comSiti Nurfajriaharinaqurrataa2610@gmail.comPriyanti Priyantiarinaqurrataa2610@gmail.comArdian Khairiaharinaqurrataa2610@gmail.com<p>Pemanfaatan tanaman obat tradisional masih menjadi pilihan utama, terutama di kalangan masyarakat desa. Daun salam (Syzygium polyanthum) merupakan salah satu tanaman herbal yang umum digunakan untuk mengatasi penyakit metabolik dan gangguan ringan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemanfaatan dan pengolahan daun salam oleh masyarakat RT 05 RW 11 Kelurahan Serua, Kota Tangerang Selatan. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan purposive sampling terhadap 10 informan lansia. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan daun salam digunakan untuk mengobati enam jenis penyakit, yaitu asam urat, diabetes, kolesterol, meriang, pegal, dan hipertensi. Pengolahan yang paling banyak dilakukan dengan cara perebusan sebanyak 7 lembar daun salam dan ditambahkan 2 gelas air kemudian menghasilkan air rebusan sebanyak 1 gelas. Sumber daun salam sebagian besar dari pasar tradisional. Pengetahuan tentang pengobatan daun salam ini diketahui melalui beberapa sumber seperti sosial media, diwariskan secara lisan dari turun-temurun dan buku.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Arina Qurrata A’yun, Siti Nurfajriah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1251Pemanfaatan Tumbuhan Famili Piperaceae di Kelurahan Duren Mekar, Kecamatan Bojongsari, Depok 2025-12-22T08:32:32+00:00Fitri Wulandarifitriiwlnd@gmail.comRizky Intan Noviantifitriiwlnd@gmail.comPriyanti Priyantifitriiwlnd@gmail.comArdian Khairiahfitriiwlnd@gmail.com<p>Depok merupakan wilayah semi-perkotaan yang masih memiliki vegetasi alami dan potensi pemanfaatan tumbuhan lokal. Salah satu kelompok tumbuhan yang memiliki beragam manfaat adalah famili Piperaceae. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tumbuhan famili Piperaceae serta menggali pengetahuan lokal setempat yang berkaitan dengan pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengumpulan data dilakukan melalui pendekatan etnobotani dengan wawancara semi-terstruktur. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yang melibatkan 30 responden dengan karakteristik tertentu sesuai kriteria penelitian. Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram. Berdasarkan hasil observasi di lapangan, terdapat tiga jenis tumbuhan famili Piperaceae yang diketahui dan dimanfaatkan oleh masyarakat, yaitu Piper betle, Piper nigrum, dan Piper retrofractum. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan ketiga jenis tumbuhan tersebut sebagai obat tradisional, bahan pangan, dan untuk keperluan ritual.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Fitri Wulandari, Rizky Intan Novianti, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1268Tumbuhan Bawang-Bawangan Sebagai Tanaman Obat pada Masyarakat Suku Sunda di Kelurahan Margajaya, Kota Bogor, Jawa Barat. 2025-12-23T08:29:40+00:00Muhammad Raihan Pratamaraihhanp12@gmail.comRizky Adil Hidayahraihhanp12@gmail.comPriyanti Priyantiraihhanp12@gmail.comArdian Khairiahraihhanp12@gmail.com<p>Bawang-bawangan merupakan salah satu tanaman hortikultura yang diperlukan untuk konsumsi rumah tangga. Selain untuk bahan masakan, bawang-bawangan juga telah lama dijadikan sebagai obat tradisional oleh masyarakat, salah satunya masyarakat Suku Sunda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis tumbuhan bawang-bawangan yang dijual dan dikonsumsi di Kelurahan Margajaya dan cara pemanfaatannya untuk dijadikan sebagai obat tradisional. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara terstruktur terhadap 3 narasumber kunci yang terdiri atas tokoh masyarakat di Kelurahan Margajaya dan 16 responden perempuan suku sunda berumur 29-60 tahun di Kelurahan Margajaya. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh tumbuhan bawang-bawangan sebagai tanaman obat dapat memanfaatkan umbi, batang dan daun. Bagian tumbuhan yang paling banyak digunakan adalah bagian umbi (75%). Terdapat 3 spesies yang dimanfaatkan umbinya yaitu bawang merah (Allium cepa), bawang putih (Allium sativum) dan bawang daun (Allium fistulosum). Ada 1 spesies yang dimanfaatkan batangnya yaitu bawang merah (Allium cepa), serta 1 spesies yang dimanfaatkan daunnya yaitu bawang daun (Allium fistulosum). Pengelolaan tumbuhan obat umumnya dengan cara direbus (50%). Ketiga jenis bawang tersebut berpotensi mengobati penyakit flu, kolesterol dan diabetes.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Raihan Pratama, Rizky Adil Hidayah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1285Identifikasi Jenis OPT Komoditi Ekspor Kulit Kayu Manis di Laboratorium Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat2025-12-27T23:22:39+00:00Melani Domisofameldomisofa@gmail.comMoralita Chatrimeldomisofa@gmail.com<p>Kulit kayu manis merupakan salah satu komoditi unggulan ekspor bernilai ekonomi tinggi. Organisme pengganggu tanaman (OPT) sering ditemukan menyerang produk pertanian lokal Indonesia yang akan diekspor, terutama saat penyimpanan dalam gudang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis OPT pada komoditas kulit kayu manis di Laboratorium Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan observasi langsung secara makroskopis dan mikroskopis. Hasil intersepsi tahun 2024 menunjukkan keberadaan beberapa spesies OPT dominan, seperti Liposcelis bostrychophilus, Ahasverus advena, Liposcelis sp., Typhaea stercorea, dan Cryptolestes ferrugineus, dengan spesies L. bostrychophilus sebagai yang paling sering ditemukan, terutama pada bulan Agustus. Temuan ini penting sebagai langkah awal dalam pencegahan penyebaran hama ke wilayah lainnya.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Melani Domisofa, Moralita Chatrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1131Analisis Perilaku Harian Kakatua Galah (Eulophus roseicapilla) di Bird Park Palembang2025-12-15T07:36:29+00:00Nur Azizahandisaputra@radenfatah.ac.idAndi Saputraandisaputra@radenfatah.ac.id<p>Kakatua galah (Eolophus roseicapilla) merupakan salah satu burung paruh bengkok yang populer karena warna tubuhnya yang mencolok dan perilakunya yang aktif serta sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas harian kakatua galah di lingkungan penangkaran. Penelitian dilakukan pada tanggal 16–22 Mei 2025 di Bird Park Kota Palembang dengan metode observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas harian kakatua galah yaitu lokomosi (47,2 kali/hari), diikuti interaksi sosial (18,2 kali/hari), makan (16 kali/hari), grooming (12,8 kali/hari), dan istirahat (7,7 kali/hari). Aktivitas harian kakatua galah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan kandang dan kehadiran pengunjung. Simpulan dari penelitian ini adalah aktivitas harian kakatua galah yang paling sering dilakukan yaitu lokomosi, sedangkan aktivitas yang paling sedikit dilakukan adalah istirahat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1147Analisis Perilaku Harian Burung Merpati Jantan dan Burung Merpati Betina (Columba livia)2025-12-15T09:39:32+00:00Salbina Amira Savilla2230801076@radenfatah.ac.idAndi Saputra2230801076@radenfatah.ac.id<p>Merpati (Columba livia) dikenal sebagai burung dengan kemampuan navigasi yang tinggi, insting pulang ke sarang yang kuat, serta perilaku sosial yang khas. Dalam konteks peternakan dan pelatihan, memahami perilaku merpati sangat penting, terutama untuk membedakan antara jantan dan betina yang menunjukkan perbedaan perilaku yang cukup mencolok. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati dan menganalisis perbedaan perilaku antara merpati jantan dan betina lokal, khususnya dalam aktivitas bergerak dan perilaku kawin. Dengan menggunakan metode observasional dengan pendekatan deskriptif kualitatif penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir pada 11–16 Juni 2025, melibatkan dua pasang merpati sebagai subjek. Hasilnya memperlihatkan perbedaan yang sangat jelas antara kedua jenis kelamin. Merpati jantan menunjukkan aktivitas terbang yang lebih dominan, cenderung mencari makan di luar kandang, dan memiliki kecenderungan agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Sebaliknya, merpati betina lebih banyak berjalan, memilih makan di dalam kandang, serta bersikap lebih pasif dalam interaksi agresif. Pola istirahat juga menunjukkan adaptasi berdasarkan kebutuhan biologis spesifik masing-masing jenis kelamin. Kesimpulannya, terdapat perbedaan perilaku yang jelas antara merpati jantan dan betina. Perbedaan ini dapat digunakan sebagai indikator dalam identifikasi jenis kelamin serta menjadi pertimbangan penting dalam program pemuliaan dan pelatihan merpati unggul.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Salbina Amira Savilla, Andi Saputrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1168Evaluasi Polutan Udara Ambien dan Dampaknya terhadap Siklus Karbon di Lingkungan Kampus UIN Raden Fatah Palembang 2025-12-18T07:57:48+00:00Apreza Reynaldi Prayoga2230801068@radenfatah.ac.idNopriandi2230801068@radenfatah.ac.idLedis Heru Saryono Putro2230801068@radenfatah.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik polutan udara ambien dan dampaknya terhadap dinamika siklus karbon di lingkungan Kampus UIN Raden Fatah Palembang. Parameter yang diukur meliputi partikulat udara (PM1.0, PM2.5, PM10), formaldehida (HCHO), dan total senyawa organik volatil (TVOC). Pengambilan data dilakukan di empat titik strategis kampus selama lima hari berturut-turut dengan lima kali pengulangan setiap harinya. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi PM2.5 dan PM1.0 mendekati ambang batas rekomendasi WHO, dengan nilai tertinggi ditemukan di titik Jembatan Kanal. Sementara itu, konsentrasi HCHO dan TVOC tertinggi terdeteksi di area Gedung Olahraga. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kelembaban udara dengan peningkatan partikulat halus, terutama pada lokasi yang memiliki aktivitas manusia padat. Temuan ini mengindikasikan bahwa kualitas udara ambien berperan dalam menurunkan efisiensi fotosintesis, mengganggu respirasi mikroorganisme tanah, dan pada akhirnya mempengaruhi keseimbangan siklus karbon biosfer. Oleh karena itu, pemantauan polusi udara secara berkala menjadi penting dalam mendukung konservasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim di kawasan urban kampus.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Apreza Reynaldi Prayoga, Nopriandi, Ledis Heru Saryono Putrohttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1184Analisis Perilaku Harian Burung Lovebird (Agapornis fischeri) di Bird Park Palembang 2025-12-18T15:11:15+00:00Khalda Azahra Putri Salim andisaputra@radenfatah.ac.idAndi Saputraandisaputra@radenfatah.ac.id<p>Lovebird (Agapornis fischeri) merupakan salah satu burung hias yang populer di Indonesia karena warna bulunya yang menarik dan suara kicauannya yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas harian lovebird (Agapornis fischeri). Penelitian dilakukan pada bulan Mei 2025 di Bird Park Kota Palembang dengan metode observasi langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata – rata aktivitas harian lovebird yaitu lokomosi (48,5 kali/hari), diikuti interaksi sosial (18,2 kali/hari), makan (16 kali/hari), grooming (14,5 kali/hari), dan istirahat (7,7 kali/hari). Aktivitas lovebird dipengaruhi oleh lingkungan dan kehadiran manusia. Simpulan dari penelitian ini adalah aktivitas harian lovebird yang paling banyak yaitu lokomosi dengan nilai rata rata (48,5 kali/hari) dan sedikit istirahat dengan nilai rata- rata (7,7 kali/hari)</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Khalda Azahra Putri Salim , Andi Saputrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1201Perisai Alam Tropis: Estuari dan Mangrove dalam Perspektif Adaptasi Iklim Berkelanjutan 2025-12-19T15:45:42+00:00Nova Febriyantititonurseha_uin@radenfatah.ac.idTito Nursehatitonurseha_uin@radenfatah.ac.id<p>Estuari dan hutan mangrove merupakan dua ekosistem pesisir tropis yang memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan lingkungan serta mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim. Studi ini bertujuan untuk menelaah fungsi ekologis dan kontribusi adaptif kedua ekosistem tersebut sebagai solusi berbasis alam dalam menghadapi dampak perubahan iklim di kawasan pesisir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan studi literatur. Hasil telaah menunjukkan bahwa estuari dan mangrove memiliki kemampuan tinggi dalam menyerap dan menyimpan karbon, menahan erosi dan abrasi pantai , mencegah intrusi air laut, serta menyediakan habitat penting bagi keanekaragaman hayati pesisir. Selain itu, keduanya juga berperan dalam stabilisasi iklim mikro dan mendukung keseimbangan siklus nutrien di wilayah perairan. Potensi adaptif ini menjadikan ekosistem estuari dan mangrove sebagai komponen vital dalam strategi adaptasi iklim nasional maupun regional. Oleh karena itu, konservasi, rehabilitasi, dan pengelolaan terpadu kedua ekosistem ini perlu menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan pesisir berkelanjutan guna meningkatkan ketahanan sosial-ekologis masyarakat terhadap perubahan iklim.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nova Febriyanti, Tito Nursehahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1208Pemeriksaan Kualitas Air Minum Menggunakan Metode Cfu Untuk Menentukan Kandungan Coliform Dan E. Coli Di UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat2025-12-20T13:13:47+00:00Afifah Mabrukah Auliaafifahmabrukahaulia190204@gmail.comElsa Yuniartiafifahmabrukahaulia190204@gmail.com<p>Air minum isi ulang dan air minum gizi merupakan dua jenis produk air olahan yang banyak dikonsumsi masyarakat karena kemudahan akses dan harga yang terjangkau. Namun, kedua jenis air ini berisiko mengalami kontaminasi mikrobiologis apabila tidak melalui proses pengolahan dan distribusi yang higienis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas mikrobiologis air minum isi ulang dan air minum gizi dengan mengukur kandungan Coliform dan Escherichia coli (E. coli) menggunakan metode Colony Forming Unit (CFU). Sebanyak 12 sampel air diuji di UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat pada Januari–Februari 2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa 6 dari 12 sampel (50%) mengandung Coliform dan 3 sampel (25%) terdeteksi E. coli, yang melebihi ambang batas yang ditetapkan dalam Permenkes No. 492 Tahun 2010, yaitu 0 CFU/100 ml. Sampel yang paling banyak terkontaminasi berasal dari jenis air minum isi ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa masih diperlukan pengawasan berkala serta edukasi terhadap pengelola depot dan produsen air minum gizi mengenai praktik sanitasi dan higiene dalam pengolahan dan distribusi air. Pemeriksaan mikrobiologis secara rutin menjadi langkah penting dalam menjamin kualitas dan keamanan air minum yang dikonsumsi masyarakat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Afifah Mabrukah Aulia, Elsa Yuniartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1224Peran Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai Biofertilizer dalam Meningkatkan Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman Tomat: Tinjauan Literatur2025-12-22T04:42:34+00:00Annisa Fitri Humairaannisafitrihumaira.13@gmail.comLinda Advindaannisafitrihumaira.13@gmail.com<p>Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam budidaya hortikultura, termasuk tomat, telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan tanah. Salah satu alternatif ramah lingkungan yang potensial adalah pemanfaatan Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) sebagai biofertilizer. PGPR memiliki kemampuan meningkatkan pertumbuhan tanaman melalui mekanisme seperti produksi fitohormon, pelarutan fosfat, fiksasi nitrogen, serta peningkatan ketahanan terhadap stres abiotik dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas PGPR dalam mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman tomat sebagai pengganti atau pelengkap pupuk kimia. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap 10 artikel ilmiah yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir (2020–2025), yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi tertentu dan relevansi dengan topik. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa strain PGPR dari genus Bacillus, Pseudomonas, dan actinomycetes secara konsisten meningkatkan pertumbuhan vegetatif, hasil buah, dan kualitas gizi tomat seperti likopen dan vitamin C. Selain itu, PGPR juga terbukti efektif dalam mengurangi dampak stres lingkungan seperti salinitas dan kontaminasi logam berat. Berdasarkan temuan tersebut, PGPR berpotensi besar untuk diterapkan sebagai bagian dari strategi pertanian berkelanjutan dan pengurangan ketergantungan pada input kimia. Penelitian lanjutan dalam skala lapangan diperlukan untuk menguji konsistensi hasil serta adaptabilitas strain PGPR lokal dalam berbagai kondisi agroekosistem.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Annisa Fitri Humaira, Linda Advindahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1241Pemanfaatan Nanas pada Tradisi Jawa di Desa Rukti Endah, Lampung Tengah 2025-12-22T07:46:49+00:00Nabila Novia Rahmadaninabilanoviabb@gmail.comSiti Fatimahnabilanoviabb@gmail.comPriyanti Priyantinabilanoviabb@gmail.comArdian Khairiahnabilanoviabb@gmail.com<p>Masyarakat Rukti Endah, Lampung Tengah berada di Pulau Sumatera merupakan daerah dengan populasi suku Jawa yang cukup besar, sehingga berbagai tradisi Jawa tetap hidup dan berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan tanaman nanas dalam tradisi masyarakat Jawa di Desa Rukti Endah, Lampung Tengah, khususnya dalam upacara adat pernikahan serta aspek budaya lainnya seperti bahan pangan, pengobatan tradisional, dan ritual keagamaan. Metode yang digunakan meliputi wawancara dengan 3 key person, penyebaran kuesioner kepada 50 responden, serta analisis nilai guna spesies dengan menggunakan rumus Use Value (UVs) untuk mengukur tingkat pemanfaatan nanas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nanas memiliki nilai guna tertinggi pada aspek pernikahan, diikuti oleh bahan pangan, obat tradisional, dan ritual keagamaan. Pengetahuan dan pemanfaatan nanas didominasi oleh kelompok produktif usia 20–40 tahun menandakan regenerasi budaya yang masih berjalan, namun penurunan minat pada generasi muda usia 10–19 tahun mengindikasikan perlunya upaya pelestarian budaya agar nilai-nilai tradisional tetap terjaga. Penelitian ini memberikan gambaran penting tentang peran tanaman nanas sebagai bagian integral dari budaya Jawa di luar Pulau Jawa dan kontribusinya terhadap pelestarian warisan budaya serta kearifan lokal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nabila Novia Rahmadani, Siti Fatimah, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1258Etnobotani Tradisi Suap-Suapan Pada Upacara Pernikahan Adat Surakarta, Jawa Tengah2025-12-22T09:25:51+00:00Hanifa Noor Fawziahanifawzia@gmail.comKholila Nur Ma’rufihanifawzia@gmail.comPriyanti Priyantihanifawzia@gmail.comArdian Khairiahhanifawzia@gmail.com<p>Upacara pernikahan pada masyarakat Surakarta memiliki tradisi suap-suapan, dimana kedua mempelai saling menyuapi sebagai simbol kasih sayang, kepercayaan, dan kesiapan berbagi kehidupan. Tumbuhan yang digunakan dalam prosesi ini tidak hanya bernilai konsumsi, tetapi juga mengandung makna filosofis. Dokumentasi terhadap penggunaan tumbuhan tersebut diperlukan agar pengetahuan lokal tetap lestari dan mendorong budidaya berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam tradisi suap-suapan serta mengkaji makna simbolik yang melekat di masyarakat Surakarta. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Maret hingga Bulan April 2025 menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan fokus pada studi etnobotani tradisi suap-suapan dalam upacara pernikahan adat Surakarta. Data diperoleh melalui wawancara secara terbuka dengan informan yang terdiri dari tiga kelompok diantaranya, masyarakat pelaku adat, pakar budaya, dan wedding organizer. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi tematik, yakni mengelompokkan informasi berdasarkan jenis tumbuhan, cara pengolahan, serta makna simboliknya. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 16 spesies dalam 9 famili diantaranya Poaceae, Solanaceae, Amaryllidaceae, Zingiberaceae, Fabaceae, Amaranthaceae, Arecaceae, Myrtaceae, dan Musaceae. Tumbuhan tersebut tersebar pada 3 menu diantaranya, nasi tumpeng, nasi bola-bola, nasi rendeng, dan saweran. Setiap tumbuhan yang digunakan memiliki makna simbolik tersendiri, seperti padi sebagai lambang kemakmuran, kelapa untuk keutuhan keluarga, dan kacang panjang sebagai doa umur panjang. Tradisi suap menyuap antara kedua mempelai ini memiliki makna bahwa keduanya saling mencintai, menebar kasih sayang serta guyub rukun, saling mengisi, tolong menolong, dalam kehidupan berumah tangga. Penelitian ini menunjukkan peran penting etnobotani dalam menjaga pelestarian budaya sekaligus mendukung konservasi keanekaragaman tumbuhan lokal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hanifa Noor Fawzia, Kholila Nur Ma’rufi, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1275Valuasi Tanaman Zingiberaceae Sebagai Bahan Bumbu di Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan 2025-12-23T14:13:15+00:00Nia Aprilia Nurrahmahniaaprilianr2722@gmail.comNelli Yumiliensiniaaprilianr2722@gmail.comPriyanti Priyantiniaaprilianr2722@gmail.comArdian Khairiahniaaprilianr2722@gmail.com<p>Tanaman bumbu dari famili Zingiberaceae memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, baik sebagai bahan pangan maupun obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan beberapa tanaman Zingiberaceae sebagai bahan bumbu di Pasar Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Metode yang digunakan meliputi wawancara mendalam kepada dua pedagang sebagai informan kunci dan penyebaran kuesioner kepada 15 konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman seperti jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa), lengkuas (Alpinia galanga), kencur (Kaempferia galanga) merupakan jenis yang paling sering dimanfaatkan sebagai bahan masakan. Sebagian besar responden merupakan ibu rumah tangga berusia 20–63 tahun, dengan frekuensi pembelian 1–3 kali seminggu. Volume pembelian per transaksi umumnya kurang dari 0,5 kg, dan harga berkisar di bawah Rp15.000. Pedagang memperoleh pasokan dari pasar induk, dengan harga yang fluktuatif namun masih memberikan keuntungan. Konsumen menilai kualitas tanaman bumbu sangat baik. Penelitian ini menegaskan bahwa tanaman Zingiberaceae memiliki nilai ekonomi dan kultural yang tinggi serta berpotensi untuk dikembangkan dalam konteks ketahanan pangan lokal dan pelestarian pengetahuan tradisional.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nia Aprilia Nurrahmah, Nelli Yumiliensi, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1138Keanekaragaman Jenis Ordo Anura Di Kawasan Danau Inspirasi Kampus Universitas Bengkulu 2025-12-15T08:51:13+00:00Mila Nur Kholifahnoviaduya@gmail.comNovia Duyanoviaduya@gmail.com<p>Amfibi, khususnya Ordo Anura (katak dan kodok), merupakan komponen ekosistem penting yang berfungsi sebagai indikator kesehatan lingkungan dan predator alami, serta memiliki potensi ekonomi sebagai sumber obat dan protein. Namun, seiring dengan perubahan lingkungan khususnya di Universitas Bengkulu yang terus mengalami pembangunan sebagai bentuk perkembanagan Kampus akan mengalih fungsikan habitat alami sebagai bangunan baru yang akan mengurangi populasi beberapa hewan termasuk Anura. Penelitian ini bertujuan untuk mendata keanekaragaman jenis Anura di Kawasan Danau Inspirasi Universitas Bengkulu, yang datanya masih belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2024 di Danau Inspirasi, dengan identifikasi spesimen di Laboratorium Zoologi Universitas Bengkulu. Metode Visual Encounter Surveys (VES) diterapkan dengan penelusuran transek sepanjang 132 m di malam hari (pukul 19.00 - 21.00 WIB) sebanyak 3 kali pengulangan. Faktor lingkungan di Danau Inspirasi menunjukkan suhu 27-28 °C dan kelembaban 80-82%, yang sesuai untuk kehidupan amfibi. Didapatkan 5 spesies Anura dari 4 famili yang berbeda: Duttaphrynus melanosticus (Bufonidae), Fejervarya cancrivora (Dicroglossidae), Limnonectes blythii (Dicroglossidae), Hylarana nicobariensis (Ranidae), dan Polypedates leucomystax <br />(Rhacophoridae).</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Mila Nur Kholifah, Novia Duyahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1157Teknik Pembibitan Tanaman Petai (Parkia speciosa) Secara Generatif di Persemaian UPTD Balai Sertifikasi Perbenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat 2025-12-17T06:09:39+00:00Nurul Fathyanurulfathya171@gmail.comJefri Chandranurulfathya171@gmail.com<p>Pembibitan tanaman petai (Parkia speciosa) secara generatif merupakan salah satu teknik penting dalam mendukung keberhasilan budidaya dan konservasi tanaman hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan metode pembibitan generatif yang tepat guna memperoleh bibit petai yang berkualitas. Metode yang digunakan berupa observasi partisipatif dan wawancara dengan tenaga ahli. Proses pembibitan dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu seleksi benih unggul, perendaman untuk merangsang perkecambahan, penyemaian, penanaman dalam media polybag, serta perawatan intensif hingga bibit siap tanam. Hasil menunjukkan tingkat keberhasilan perkecambahan sebesar 95%, dengan sebagian kecil benih mengalami kegagalan akibat jamur atau kerusakan fisik. Pembibitan generatif dinilai efektif dalam menghasilkan bibit yang adaptif terhadap lingkungan, ekonomis, serta mendukung upaya reboisasi dan keberlanjutan sumber daya hutan. Teknik ini juga dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan pendapatan masyarakat melalui budidaya petai secara intensif..</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Nurul Fathya, Jefri Chandrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1175Deteksi Kandungan Formalin dalam Tahu Yang Beredar Di Pasar Tradisional dan Modern Kota Palembang Menggunakan Kit Uji Formalin2025-12-18T10:17:38+00:00Lutfiaririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idDhea Amandariririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Tahu adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi masyarakat umum dalam jumlah yang cukup banyak. Kandungan protein nabati yang tinggi pada tahu menjadikannya alternatif yang layak untuk protein hewani. Tahu dibuat dengan mengentalkan susu kedelai atau dadih, kemudian dicetak dan ditekan. Tahu termasuk salah satu jenis makanan yang mudah rusak. Tahu putih yang sudah rusak akan berbau busuk dan berlendir. Tahu sering diawetkan oleh pedagang dengan cara direndam dalam formalin, sehingga tahan terhadap mikroba, sulit diurai, dan mampu bertahan hingga tujuh hari. Formalin mengandung 10-15% alkohol/metanol sebagai penstabil, mencegah formaldehida berpolimerisasi menjadi paraformaldehida yang sangat mematikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan formalin pada sampel tahu yang dijual di Kota Palembang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2025 di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random sampling dari berbagai lokasi penjualan, termasuk pasar tradisional dan pasar modern. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode uji test kit formalin. Sebanyak enam sampel tahu diuji dalam penelitian ini. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tiga dari enam sampel terdeteksi positif mengandung formalin, yang masing-masing berasal dari tiga lokasi berbeda.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Lutfia, Dhea Amandari, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1191Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Fermentasi Terhadaap Sifat Organoleptik dan Aktivitas Antioksidan Teh Kombucha Teh oolong (Camellia sinensis (L.) Kuntze.) 2025-12-18T16:49:14+00:00Muhammad Arief Budimanarifb7126@gmail.comVino Dwi Kyoarifb7126@gmail.comNurul Fadilaharifb7126@gmail.comHendy Reynaldiarifb7126@gmail.com<p>Kombucha merupakan minuman fermentasi yang berasal dari teh manis yang difermentasi oleh simbiosis antara bakteri dan ragi, dikenal sebagai SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast). Proses fermentasi ini menghasilkan senyawa bioaktif seperti asam organik, vitamin, dan antioksidan yang memiliki potensi manfaat kesehatan, antara lain sebagai antioksidan, antimikroba, dan pendukung sistem pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses fermentasi kombucha, komposisi mikrobiologisnya, serta potensi manfaatnya bagi kesehatan. Metode yang digunakan adalah studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah dan publikasi terbaru. Hasil kajian menunjukkan bahwa faktor seperti jenis teh, lama fermentasi, dan kondisi penyimpanan sangat mempengaruhi kualitas dan kandungan nutrisi kombucha. Selain itu, keberagaman mikroorganisme dalam SCOBY juga memengaruhi profil senyawa bioaktif yang dihasilkan. Dengan demikian, kombucha berpotensi menjadi minuman fungsional yang bernilai gizi tinggi, namun konsumsi harus tetap memperhatikan keamanan pangan, terutama terkait dengan kebersihan proses fermentasi dan kadar asam yang dihasilkan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Muhammad Arief Budiman, Vino Dwi Kyo, Nurul Fadilah, Hendy Reynaldihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1215Teknik Pembibitan Tanaman Durian (Durio zibenthinus) Secara Generatif Di Uptd Balai Sertifikasi Dan Pembenihan Tanaman Hutan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat2025-12-22T03:33:18+00:00Alya Putri Alizahalyaputri180100@gmail.comAzwir Anharalyaputri180100@gmail.comJefri Chandraalyaputri180100@gmail.com<p>Magang merupakan bagian dari kurikulum pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan mahasiswa melalui pengalaman langsung di dunia kerja. Laporan ini disusun berdasarkan kegiatan magang yang dilaksanakan di UPTD Balai Sertifikasi dan Pembenihan Tanaman Hutan (BSPTH) Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, yang berlangsung dari 6 Januari sampai 14 Februari 2025. Fokus utama pada kegiatan magang ini yaitu teknik pembibitan tanaman durian (Durio zibethinus) secara generatif. Pembibitan dilakukan melalui serangkaian tahapan seperti perendaman biji, penyemaian, dan penanaman dalam polybag, dengan lama waktu pembibitan sekitar tiga bulan hingga bibit siap didistribusikan. Hasil pengamatan menunjukkan tingkat keberhasilan pembibitan mencapai 98% jika dilakukan dengan teknik dan perawatan yang tepat. Magang ini memberikan pengalaman penting bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu biologi secara praktis, serta mendukung program pelestarian keanekaragaman hayati dan penghijauan di Sumatera Barat.</p> <p> </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Alya Putri Alizah, Azwir Anhar, Jefri Chandrahttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1231Inventarisasi Paku-Pakuan di Kampus I UIN Jakarta: Indikator Keanekaragaman Hayati dan Fungsi Ekologis di Kawasan Urban 2025-12-22T05:23:39+00:00Ardian Khairiahardian.khairiah@uinjkt.ac.idRizky Maulana Cahyadiardian.khairiah@uinjkt.ac.idSayyidah Novila Fitriardian.khairiah@uinjkt.ac.id<p>Sebagai institusi pendidikan yang berada di wilayah urban, kampus I UIN Jakarta memiliki peran strategis sebagai ruang hijau yang menopang keberlanjutan ekosistem. Tumbuhan paku dikenal sebagai kelompok tumbuhan yang sensitif terhadap perubahan lingkungan dan dapat berfungsi sebagai bioindikator kondisi ekologis suatu habitat. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi keanekaragaman tumbuhan paku (Pteridophyta) yang terdapat di lingkungan Kampus I UIN Jakarta serta mengkaji potensi ekologisnya di tengah kawasan urban. Penelitian dilakukan dengan pendekatan survei eksploratif yang dilakukan pada 6 titik di area kampus mencakup taman dan ruang terbuka hijau fakultas. Pengumpulan data dilakukan melalui purposive sampling dengan metode jelajah dan diidentifikasi menggunakan buku kunci identifikasi. Hasil penelitian menemukan terdapat sekitar 34 spesies tumbuhan paku yang tergolong ke dalam 9 famili di area kampus I UIN Jakarta. Spesies yang paling banyak ditemukan adalah Pteris vittata dari famili Pteridaceae. Spesies seperti Cystopteris fragilis, Platycerium bifurcatum dan Microsorum pustulatum merupakan spesies berkebutuhan mikrohabitat spesifik dan cenderung lebih sensitif terhadap perubahan iklim. Temuan ini menegaskan bahwa kampus UIN Jakarta masih menyimpan keragaman hayati yang penting, berfungsi secara ekologis dan berpotensi sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan konservasi keanekaragaman hayati di lingkungan perkotaan.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Ardian Khairiah, Rizky Maulana Cahyadi, Sayyidah Novila Fitrihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1249Etnobotani dalam Tradisi “Nujuh Bulanin” pada Masyarakat Betawi di Srengseng, Jakarta Barat 2025-12-22T08:24:40+00:00Dea Eka Wulandarideaekawulandarii@gmail.com Fhelia Rahmawatydeaekawulandarii@gmail.comPriyanti Priyantideaekawulandarii@gmail.comArdian Khairiahdeaekawulandarii@gmail.com<p>Masyarakat Betawi yang tinggal di kawasan Srengseng, Jakarta Barat masih menggunakan tumbuhan sebagai pemanfaatan untuk tradisi Nujuh Bulanin. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam prosesi tradisi Nujuh Bulanin pada masyarakat Betawi yaitu siraman dan bagi - bagi rujak, serta makna dan pemanfaatan tumbuhan yang digunakan dalam tradisi kehamilan Nujuh Bulanin. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah purposive sampling dengan wawancara semi terstruktur dan kuesioner. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian diperoleh 14 spesies dari 13 famili tumbuhan yang digunakan dalam tradisi kehamilan Nujuh Bulanin. Pemanfaatan tumbuhan tersebut memiliki makna budaya tersendiri, seperti harapan agar anak harum sepanjang masa, kelancaran proses kelahiran, hingga simbol kecantikan dan ketampanan. Pengetahuan masyarakat tentang kajian etnobotani kehamilan dalam tradisi Nujuh Bulanin sudah cukup baik, namun masih ada masyarakat yang belum mengetahui makna pemanfaatan tumbuhan dalam tradisi Nujuh Bulanin.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Dea Eka Wulandari, Fhelia Rahmawaty, Priyanti Priyanti, Ardian Khairiahhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1266Efektivitas Eco-enzyme Kulit Jeruk (Citrus sp.) Terhadap Pertumbuhan Cabai Besar Merah (Capsicum annum L.)2025-12-23T05:29:01+00:00Mohamad Fithroh Azizymf.azizy18@gmail.com<p>Cabai Besar Merah (Capsicum annum L.) termasuk dalam famili terong-terongan dan tergolong tanaman semusim. Tanaman cabai besar merah mempunyai habitat di dataran tinggi maupun dataran rendah. Peningkatan pertumbuhan serta hasil produksi cabai merah bisa dicapai menggunakan pupuk. Pupuk ini dibagi menjadi dua kategori utama, meliputi organik dan anorganik. Salah satu untuk penggunaan penyubur tanaman yang diharapkan dalam penelitian ini adalah eco-enzyme. Menurut (Warid dan Putri M.R., 2023) menyebutkan bahwa jeruk atau kulitnya memiliki kandungan vitamin dan mineral seperti vitamin C, protein, asam amino, nitrogen (N), kalsium (K), magnesium (Mg), kalium (K) dan belerang (S) yang baik untuk kesuburan tanah jika diaplikasikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan konsentrasi eco-enzyme yang optimal terhadap pertumbuhan Cabai Besar Merah (Capsicum annum L.). Pada penelitian ini terdapat hasil optimal pada hari ke 70 yaitu konsentrasi 20 mL dengan rata-rata didapatkan sampai pembuahan mendapatkan hasil yang paling optimal dari control sampai konsentrasi yang lainnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah efektivitas eco enzyme terhadap pertumbuhan Cabai Besar Merah (Capsicum annnum L.) mendapatkan hasil optimal pada pemberian konsentrasi paling tinggi yaitu 20 mL dengan parameter tinggi tanaman paling optimal, jumlah daun paling optimal, jumlah cabang paling optimal dan jumlah buah paling optimal.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Mohamad Fithroh Azizyhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1283Efektivitas Larutan Mol (Mikroorganisme Lokal) Terhadap Patogen Jamur (Cercospora coffeicola) Penyebab Penyakit Bercak Daun Tanaman Kopi2025-12-27T23:07:22+00:00Maidatul Isnainimaidatulisnaini19@gmail.comWulan Komala Sarimaidatulisnaini19@gmail.com<p>Penyakit bercak daun menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya tanaman kopi karena dapat menurunkan hasil panen secara signifikan. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh infeksi jamur Cercospora coffeicola. Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasi jamur penyebab penyakit dari daun kopi yang terinfeksi serta menguji efektivitas larutan MOL (Mikroorganisme Lokal) dalam menghambat pertumbuhannya. Isolasi patogen dilakukan melalui metode kultur jaringan, kemudian diidentifikasi secara mikroskopis. Larutan MOL diberikan dengan berbagai konsentrasi (0%, 10%, 20%, 30%, dan 40%), dan efektivitasnya diuji melalui pengamatan zona hambat pertumbuhan jamur. Hasil menunjukkan bahwa Cercospora coffeicola merupakan patogen utama penyebab bercak daun. Pemberian larutan MOL dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40% terbukti efektif menekan pertumbuhan jamur secara signifikan. Sehingga ini membuka peluang penggunaan MOL sebagai alternatif pengendalian hayati yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan.<br>.<br>Keywords: , , , , </p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Maidatul Isnaini, Wulan Komala Sarihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1129Keanekaragaman Arecaceae Di Taman Rektorat, Universitas Islam Al-Azhar 2025-12-15T05:24:13+00:00Hendrianahmadhendrian927@gmail.comAmin Amriamrimaeza@gmail.comSlamet Mardiyanto Rahayuslamet.mardiyantorahayu84@gmail.com<p>Universitas Islam Al-Azhar adalah universitas dengan keanekaragaman flora yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman flora yang ada di Universitas Islam Al-Azhar. Penelitian dilakukan melalui observasi dan identifikasi. Berdasarkan hasil penelitian terdapat empat spesies yang termasuk Arecaceae di Taman Rektorat Universitas Islam Al-Azhar, yaitu Dypsis lutescen, Licuala grandis, Cyrtostachys renda blume, dan phoenix dactylifera.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Hendrian, Amin Amri, Slamet Mardiyanto Rahayuhttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1145Deteksi Keberadaan Bakteri Salmonella sp. dan Escherichia coli pada Daging Ayam Mentah dan Matang 2025-12-15T09:31:31+00:00Rosa Gita Anggrainiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idAinun Shihahririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Daging ayam adalah sumber protein hewani yang sangat penting bagi manusia, tetapi juga rentan terhadap infeksi bakteri berbahaya seperti E. coli dan Salmonella sp. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan metode uji pendugaan, dengan teknik media tuang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2025 di Laboratorium Terpadu Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi keberadaan bakteri Salmonella sp. dan E.coli. Hasil penelitian menunjukkan seluruh sampel daging ayam mentah terkontaminasi Salmonella sp., namun tidak ditemukan pada sampel daging ayam matang. Sedangkan E. coli terdeteksi pada semua sampel baik daging ayam mentah maupun matang, yang mengindikasikan kontaminasi silang atau pengolahan yang tidak higienis. Pemasakan dengan suhu tinggi efektif membunuh Salmonella sp., namun kontaminasi E. coli masih dapat terjadi pada daging matang akibat penanganan yang tidak higienis, sehingga kebersihan selama pengolahan sangat penting untuk menjamin keamanan daging ayam.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Rosa Gita Anggraini, Ainun Shihah, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1166Uji Kandungan Formalin Terhadap Pempek Tumpah Di Pasar Tradisional Kota Palembang Menggunakan Kertas Kunyit (Curcuma Longa)2025-12-18T07:46:19+00:00Anisa Permata Sariririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.idRiri Novita Sunartiririnovitasunarti_uin@radenfatah.ac.id<p>Pempek adalah makanan tradisional khas Palembang, Sumatra Selatan yang terkenal di Indonesia. Pempek makanan olahan berasal dari daging ikan yang telah digiling biasanya pedagamg ikan giling memberikan tambahan formalin pada daging agar tidak cepat membusuk maka kita perlu berhati-hati dalam mengonsumisi makanan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menguji kandungan formalin pada makanan tradisional pempek tumpah yang dijual di Pasar 16 Ilir, Palembang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan bahan berbahaya seperti formalin dalam makanan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2025 bertempat di Pasar 16 Ilir Palembang dan laboratorium mikrobiologi sebagai tempat pengujian lanjutan. Metode yang digunakan adalah uji kualitatif menggunakan kertas kunyit, yang dapat mendeteksi keberadaan formalin melalui perubahan warna kertas menjadi merah-cokelat akibat sifat basa dari formalin. Sampel pempek tumpah diambil secara acak dari beberapa pedagang yang berbeda di pasar tersebut. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pempek yang dijual oleh 4 pedagang terindikasi 3 pedagang menjual pempek yang mengandung formalin sedangkan hanya 1 pedagang yang menjual pempek tidak terindikasi mengandung formalin. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa masih terdapat pedagang pempek tumpah di Pasar 16 Ilir Palembang yang menggunakan formalin. Oleh karena itu, pengawasan lebih lanjut dan penyuluhan kepada pedagang sangat diperlukan guna menjaga keamanan pangan dan kesehatan masyarakat.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Anisa Permata Sari, Riri Novita Sunartihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1182Uji Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Salam (Syzygium polyanthum) 2025-12-18T13:17:51+00:00Bela Sintiadeliayusfarani_uin@radenfatah.ac.idNovitasari Rahmadhanideliayusfarani_uin@radenfatah.ac.idHervira Sri Adeliadeliayusfarani_uin@radenfatah.ac.idDelia Yusfaranideliayusfarani_uin@radenfatah.ac.id<p>Masyarakat Indonesia kerap memanfaatkan daun salam (Syzygium polyanthum) tidak hanya sebagai rempah untuk penyedap masakan, tetapi juga sebagai bahan alami untuk pengobatan. Senyawa metabolit sekunder yang diproduksi oleh tumbuhan berfungsi sebagai perlindungan terhadap perubahan suhu dan iklim yang ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam daun salam. Penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan teknik maserasi, dan hasilnya menunjukkan bahwa daun salam mengandung alkaloid <br />(ditunjukkan dengan endapan coklat), flavonoid (perubahan warna menjadi kuning), serta saponin (munculnya busa).</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Bela Sintia, Novitasari Rahmadhani, Hervira Sri Adelia, Delia Yusfaranihttps://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/view/1199Analisis Pola Perilaku Harian Ikan Mas/Komet (Carassius auratus) dalam Lingkungan Akuatik Terbatas 2025-12-19T15:24:11+00:00Natasya Desmaraninatasyadesmara@gmail.comIndah Kurnianatasyadesmara@gmail.comAndi Saputranatasyadesmara@gmail.com<p>Perilaku ikan merupakan indikator penting untuk memahami kesehatan, adaptasi, dan kenyamanan hewan dalam lingkungan buatan. Ikan mas/komet (Carassius auratus) adalah salah satu ikan hias air tawar yang banyak dipelihara karena sifatnya yang tenang, mudah dirawat, dan responsif terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perilaku harian ikan mas/komet dalam kondisi terbatas menggunakan wadah plastik rumah selama tujuh hari berturut turut. Observasi dilakukan setiap pagi selama 20 menit dengan penggantian air dua kali sehari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan tetap memperlihatkan perilaku naluriah seperti makan (ingestif), eksploratif, istirahat (pemeliharaan diri), serta respons terhadap stimulus eksternal. Pola perilaku menunjukkan adaptasi positif terhadap kondisi lingkungan terbatas dan pengaruh positif dari penggantian air rutin. Studi ini memperkuat pemahaman tentang etologi ikan dalam skala rumahan dan pentingnya kualitas lingkungan untuk menjaga kesejahteraan ikan hias.</p>2025-12-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2025 Natasya Desmarani, Indah Kurnia, Andi Saputra